Kisah Nenek di Sumedang Mengurus Cucu Lumpuh Selama 21 Tahun, Bertahan Hidup Mengandalkan Pemberian

  • Whatsapp
Anah (65) dan cucunya yang lumpuh, Mia Kurnia (21) di Desa Sindanggalih, Cimanggung, Sumedang. Keluarga ini bertahan hidup dengan mengandalkan uluran tangan keluarga, kerabat, dan Kepala Dusun. Kelumpuhan cucu membuat kesejahteraan keluarga Anah ikut lumpuh. Foto: Kiki Andriana/Notif.id.
Perkiraan waktu baca: 3 menit

NOTIF.ID, SUMEDANG – “Orang miskin dilarang sakit,” begitu kata pemeo. Namun, jika sakit telah datang, orang miskin bisa apa?

Anah (65) pun hanya bisa pasrah. Sudah lebih dari dua puluh tahun dia hanya berdiam diri di rumahnya yang sempit. Dia tak bisa berusaha mencari nafkahnya sendiri, sebab mesti menunggui dan merawat cucu kesayangannya, Mia Kurnia (21).

Read More

Mia, gadis bertubuh kurus itu, terbaring lemah di kasur yang dihamparkan di lantai. Dia lumpuh dan Anah yang sesabar batu, setiap hari merawatnya. Mia dirawat anah bahkan sejak sesaat setelah dilahirkan.

Mia sendiri, selain lumpuh, juga sulit berbicara. Di tempatnya terbaring, tampak beberapa bantal dan selimut, Mia pun mengenakan kaos kaki panjang berwarna abu-abu.

“Pada usia dua bulan, Mia sakit dan dengan tekad yang kuat tetapi tak punya uang, Mia akhirnya diobati dengan dibawa ke ahli pijat. Sepulang dari ahli pijat, Mia nangis tak henti-henti,” kata Anah, mengenang tahun-tahun yang telah berlalu tanpa perkembangan kesehatan yang berarti.

Dalam keadaan tangis yang luar biasa itu, Anah dan kedua orang tua Mia memutuskan untuk membawa bayi itu ke RSUD Sumedang. Dalam dua minggu perawatan, Mia dinyatakan boleh pulang.

Anah mengaku tidak mendapati kabar dari dokter tentang penyakit cucunya itu. Namun, katanya, sarang yang diterima adalah untuk datang kembli ke rumah sakit meneruskan pengobatan.

“Tak ada biaya sama sekali. Kedua orang tuanya juga tak ada biaya. Mungkin kondisi Mia seperti ini karena dulu berobatnya tidak tuntas,” katanya, ketika ditemui Notif, Jumat 9 April 2021.

Anah merawat Mia di rumahnya yang hanya berukuran 4×6 meter. Ibunya telah bercerai dari bapaknya. Menurut Anah, pereraian ditenggarai karena ketaksanggupan sang bapak menerima anak yang kemudia dinyatakan lumpuh itu.

Di rumah Anah, di Dusun Bangkir RT02/01, Desa Sindanggalih, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, tak terlihat ada barang perabot yang berharga dan mewah. Satu-satunya barang yang mungkin berharga hanya televisi kecil.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-harin, ia hanya mengandalkan pemberian dari ketiga anaknya dan saudaranya.

“Ibu Mia tinggal tidak jauh dari rumah ini, dia suka memberi. Dua anak saya yang lainnya yang tinggal di Desa Cimanggung dan di Rancaekek, pun suka memberi,” katanya seraya menyebut pemberian itu selalu disiasati agar cukup.

Anah menyebutkan, ia yang hidup berdua bersama sang cucu mengaku tidak tersentuh oleh Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) penerima bantuan iuran (PBI)

” Saya sama Mia tidak terdaftar. Waktu saya suatu hari jatuh pun, saya bayar sebesar Rp75 ribu untuk berobat di Puskesmas,” tuturnya.

Namun, meski tidak terdaftar JKN-KIS, Anah tercatat sebagai keluarga penerima manfaat (KPM) bantuan sosial Covid-19.

“Kalau bansos Covid-19 menerima. Namun bantuan sosial dari desa enggak pernah ada,” katanya.

Anah kemudia bertutur, sempat ada Kepala Dusun mengirim beras kepadanya sebanyak 20 kilogram, selimut 4 lembar, dan 3 dus mie instan.

“Saya mah sudah pasrah dengan kondisi kesehatan Mia. Soal kesehatan saya bisa sabar menunggui Mia, tetapi kebutuhan sehari-hari, itu kan tidak bisa dinanti-nanti. Saya hanya ingin dibantu untuk kebutuhan sehari-hari saja sama pemerintah,” ujar dia.

Kepala Dusun I Sindanggalih, Aa Rahmat Hidayat membenarkan jika Mia telah menderita kelumpuhan sejak berusia dua bulan.

“Ya, yang saya tahu, Mia menderita lumpuh sejak bayi,” kata Aa Rahmat saat dikonfirmasi.

Ujar Aa, Mia terdaftar di Kartu Keluarga (KK) Ibunya, Ipah.

Ipah pun terdaftar sebagai penerima bantuan sosial Program Keluarga Harapan (PKH). Meski, kata Aa, sejak bayi, Mia tinggal bersama neneknya yang rumahnya berhadapan dengan rumah Ipah.

Ia mengatakan, pemerintah desa Sindanggalih kerap memperhatikan kondisi Mia. Terlebih, kata dia, Mia bersama neneknya kerap menerima bantuan sosial yang disalurkan oleh pemerintah desa setempat.

Meski Aa juga mengakui bahwa Mia bersama Neneknya tidak terdaftar peserta JKN-KIS PBI.

“Mia dan neneknya diperhatikan sekali oleh pemerintah desa, dan saya pribadi juga kalau ada rezeki suka ngasih bantuan. Jika ada bantuan dari manapun yang selalu diutamakan adalah Mia, karena saya sangat tahu kondisinya,” tuturnya. (kia/mrb)

banner 300600

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *