Perjalanan Maestro Sunda Tan Deseng, Pernah Dibully hingga Dicibir karena Berdarah Tionghoa

  • Whatsapp
Maestro Kesenian Sunda, Tan Deseng. (Foto: ss Sugiharto Ganda via YouTube)
Perkiraan waktu baca: 5 menit

NOTIF.ID, TOKOH – Tan Deseng (Tan De Seng) dengan nama mualaf, Mohamad Deseng, merupakan seorang seniman sekaligus maestro kesenian musik Sunda. Dirinya dilahirkan pada 22 Agustus 1942 di daerah Pasar Baru, Bandung, tepatnya di Jalan Tamim.

Tan Deseng lahir dari keluarga peminat seni sebagai anak kelima dari delapan bersaudara. Kedua orang tuanya adalah Tan Tjing Hong dan Yo Wan Kie yang merupakan pengusaha, shinse, dan seniman lukis yang bisa memainkan sejumlah instrumen musik.

Read More

Diketahui, dari 8 bersaudara itu, Tan Deseng dan kakaknya, Tan De Tjeng tertarik pada dunia seni.

Menurut Drs. Sam Setyautama, dalam “Tokoh-tokoh Etnis Tionghoa” (2008), umur lima tahun Deseng dikatakan sudah mahir memainkan harmonika dan meniup seruling dengan notasi yang diajarkan kakaknya, Tan De Tjeng.

“Ia kemudian mempelajari seluk-beluk berbagai jenis kesenian Sunda, selain belajar memainkan waditra (instrumen) musik Sunda. Melalui Adjat Sudradjat atau dikenal juga sebagai Mang Atun, ia belajar memainkan kecapi,” tulisnya.

Setyautama menambahkan, dalam usia muda Deseng sudah mampu memainkan lagu-lagu klasik Sunda, salah satunya lagu “Budak Ceurik” (“Anak Menangis”).

Dikutip dari Kompas.com, dalam kesempataanya Tan Deseng yang kini berusia 78 tahun tengah menerima banyak tamu dari berbagai kalangan, yakni para seniman, kerabat, hingga orang-orang yang ingin mendengarkan cerita Tan Deseng tentang sunda dan musik sunda, di kediamannya, Taman Holis, Bandung, Jawa Barat, pada Rabu, 10 Februari 2021.

Sembari duduk di sofa panjang, dengan semangatnya ia membahas mengenai budaya Sunda.

Dadanguan, tingalian, letah abdi sunda. Soalna abdi mah urang sunda, jalmi nu aya di sunda, mung kaleresan kolot abdi China, (Pendengaran, penglihatan, lidah saya Sunda. Saya orang Sunda, orang yang ada di Sunda, cuma kebetulan orangtua saya China,” ujarnya.

Katanya, sebagai orang Sunda tidak ada yang aneh ketika ia memperdalam seni sunda. Malah akan aneh jika ia mempelajari kesenian China.

Ayah dari tiga anak ini kemudian menuturkan kenapa dirinya bisa jatuh cinta pada musik Sunda. Itu karena ia hidup di tanah Sunda, mendengar tetangga hingga temannya bermain musik Sunda sejak usia 4 tahun.

Di usia ke-12, ia mulai serius mendalami musik Sunda. Bahkan saat ia berusia 16 tahun di Palembang ia menitikan air mata begitu mendengar lagu-lagu Sunda di RRI (Radio Republik Indonesia).

Pada kala itu, ia belajar dari banyak orang, mulai dari tetangga hingga para maestro kesenian Sunda lainnya, seperti belajar waditra (instrumen) musik sunda dari Adjat Sudrajat atau Mang Atun. Belajar kecapi dan suling dari Evar Sobari, Mang Ono, Sutarya, dan dalang Abah Sunarya (ayah dari dalang kenamaan Asep Sunandar Sunarya).

Kemampuannya pada musik Sunda terutama karawitan terus berkembang. Tak heran jika ia banyak tampil di panggung dalam maupun luar negeri. Seperti Jepang, China, Thailand, dan lainnya.

Tan Deseng pun menjadi orang pertama yang membuat rekaman serta mendokumentasikan pagelaran dalang Abah Sunarya melalui rekaman pita hitam.

Tan Deseng yang merupakan lulusan SMP Tsing Hoa ini pun terus melajutkan kecintaaanya menggarapa budaya Sunda. Nama-nama besar lainnya seperti pesinden kondang Titim Fatimah, Euis Komariah, Tati Saleh dan lainnya turut ia garap menjadi sebuah aset-aset penting budaya Sunda.

Tak hanya itu, Tan Deseng pula yang memperkenalkan ‘ketuk tilu’ yang menjadi dasar jaipong melalui pita rekamannya yang digarap bersama pemusik-pemusik rakyat dari Karawang.

Rekaman yang kini menjadi artefak budaya tersebut dilakoninya sejak tahun 1950-an. Ia mempelajarinya secara otodidak dengan modal yang seadanya.

“Rekaman ini (seolah) berjalan dengan ajaib, karena saya tidak punya uang,” tuturnya.

Bahkan, peralatan perekaman yang dimilikinya saat ini merupakan pemberian Titim Fatimah tahun 1970’an. Saat itu, Titim membelinya seharga Rp 70 juta (kini miliaran). Titim merupakan sinden kenamaan tatar Sunda. Untuk menonton pagelarannya, orang-orang rela berjalan hingga 40 kilometer.

Hingga kini, Nama Titim pun menjadi acuan para sinden sesudahnya. Hasil rekaman Tan Deseng dari tahun 1950’an menjadi harta karun tak ternilai harganya. Bahkan bisa dibilang, rekaman tersebut merupakan artefak budaya.

Seniman Sunda, Tan Deseng tengah memainkan kecapi. (Foto: Reni Susanti via Kompas.,comI)

Kiprah dan kecintaannya Tan Deseng dalam melestarikan budaya Sunda, berhasil membuahkan apresiasi berupa penghargaan dari Presiden Mega dan Presiden SBY. Ia mendapat Anugrah Maestro Seni Budaya Sunda.

Tak hanya itu, sejumlah penghargaan dari Wali Kota Bandung, Gubernur Jabar, dan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata turut dikantonginya.

Dirinya menuturkan, walaupun hidupnya yang kini berpindah-pindah dari rumah kontrakan ke kontrakan lainnya sebenarnya menginginkan dirinya menjadi seorang pedagang saja, sama dengan Tionghoa lainnya. Namun, dirinya tetap teguh pendirian.

Meskipun menjadi seniman, hidup dalam kemiskinan, Tan Deseng pun memegang prinsip bahwa menjadi seniman tidak semata untuk mencari uang, tetapi murni karena kecintaannya pada kesenian Sunda.

“Meski saya seniman, saya meminta anak saya tidak menikah dengan seniman karena seniman itu sangsara (melarat),” ucap Tan Deseng.

Hal itu merujuk pada dirinya. Meski kaya pengalaman dan mendapat banyak penghargaan, secara finansial, tidak mumpuni. Menurut Budayawan Dadan Hidayat, hingga kini Tan Deseng tidak memiliki rumah.

Meski demikian, dirinya merupakan orang yang sangat dermawan. Ia kerap berbagi. Contohnya, ketika seniman kehilangan panggungnya karena pandemi COVID-19, Tan Deseng pun merelakan menjual kecapinya untuk makan para seniman.

Kehidupan Tan Deseng pun tak juga bisa disebut mulus. Sejak ia mencintai kebudayaan Sunda dirinya banyak mendapatkan perlakuan diskriminatif dari lingkungannnya, bahkan pembullyan dan cibiran pun sering ia dapatkan.

Menurut Peneliti dari Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya (UMTAS), Asep Wasta mengatakan, kecintaan Tan Deseng terhadap Sunda terbentuk karena lingkungan. Sebagai orang Tionghoa, ia mendapatkan banyak diskriminasi. Sejak kecil ia kerap di-bully “kamu anak China”. Saat itu, yang membela adalah pembantunya, orang Sunda.

Dalam diri Tan Deseng kecil ia sempat bertanya-tanya kenapa yang membela bukan orangtuanya. Di usia dewasa, ia pun pernah dicibir. Terutama saat ia merekam pertunjukan wayang Abah Sunarya dalam bentuk pita.

Orang-orang meragukan langkah Tan Deseng karena wayang itu kesenian visual. Apa mungkin bisa didengarkan secara audio saja. Namun rupanya, langkah Tan Deseng mendapatkan atensi. Itulah mengapa ia bisa disebut sebagai pionir.

Begitu terkenal, ada tanggapan berbeda terhadap Tan Deseng. Ada yang beranggapan: “Sejago apapun musik Sunda, China tetaplah China”.

Namun ada pula anggapan: “China saja jago seperti itu, kenapa kita tidak bisa.” “Banyak yang menarik dari Tan Deseng. Termasuk kemampuannya dalam seni tradisional dan modern,” ungkap dia.

Berawal lihat teman main kecapi Sebenarnya, Tan Deseng diperkenalkan dengan budaya barat. Ia mampu bermain gitar dengan sangat lihai. Suatu hari, temannya bernama Cucun bermain kecapi. Mereka kemudian bertukar kemampuan. Tan Deseng mempelajari kecapi, temannya belajar gitar.

Karena kemampuannya pada musik barat itulah, ia mengajari warga Tionghoa kecapi dengan nada dasar doremifasolasido, bukan daminatilada.

“Dalam terminologi kesenian nusantara dikenal folklore atau bertutur. Seni berkembang dari cerita pelatihnya. Berbeda dengan barat yang memiliki partiture atau tulisan,” ucap dia.

“Apa yang dilakukan Tan Deseng (lewat rekaman pita) juga membuatnya partiture. Itu merupakan artefak budaya sunda,” terang Wasta.

Mengenai diskriminasi, Tan Deseng mengatakan, baik orang Sunda ataupun orang China ada yang baik dan buruk. Yang penting, katanya, tidak balas menyakiti ketika disakiti. Ia pun berjalan mendekati kecapi yang ada di sampingnya, dan memainkan sebuah lagu berjudul ‘Malih Warni’ sembari mengakhiri pembicaraan. (*)

banner 300600

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *