‘Kampung Kami Selalu Terbanjiri Lumpur’, Cerita Duka Warga di Bawah Perumahan Griya Sampurna Cimanggung

  • Whatsapp
Drainase buruk di perumahan Griya SAmpurna, Cipareuag, Cimanggung. (Kiki Andriana/Notif.id)
Perkiraan waktu baca: 2 menit

NOTIF.ID, SUMEDANG – Sejumlah warga Dusun Cipareuag RT02/08, Desa Sukadana hanya bisa berharap cemas dengan situasi di musim penghujan saat ini.

Mereka yang tinggal di bawah tebing setinggi 50 meter, tepat di bawah perumahan Griya Sampurna cemas akan terjadinya longsor. Bahkan kekhawatiran masyarakat terhadap tanah longsor kerap menghantui saat terjadi hujan deras.

Read More

Perumahan ini berlokasi di lereng yang tidak jauh dari lokasi longsor Bojong Kondang yang menewaskan 40 orang.

Yuyun, Ketua RW 07 Dusun Cipareuag, Desa Sukadana menyebutkan, permasalahan sistem drainase di Perumahan Griya Sampurna ini bukanlah hal baru.

Menurutnya, sejak perumahan tersebut dibangun, banjir lumpur dan masalah kecemasan warga akan terjadinya longsor sudah muncul.

“Sejak perumahan tersebut berdiri, dan disaat musim penghujan seperti saat ini, warga hanya bisa berharap-harap cemas. Kami takut tertimbun longsor,” kata Yuyun kepada Notif ditemui di depan kantor pemasaran Perum Griya Sampurna, Minggu 24 Januari 2021.

Ia menuturkan, rasa khawatir ini menyusul adanya retakan tanah di area Perumahan Griya Sampurna, dan jarak tebing perumahan ke pemukiman janya berjarak sekitar 10 meter.

“Warga kini selalu waswas bila hujan datang. Kami khawatir terjadi banjir bandang dan longsor,” ujarnya.

Hal senada dikatakan Wahyudin (29), warga Dusun Cipareuag,
RT02/08, Desa Sukdana, pihaknya mengatakan, jika musim penghujan tiba air besar bercampur lumpur dari perumahan Griya Sampurna kerapa mengalir ke kampungnya.

“Iya, setiap musim penghujan, kampung kami selalu terbanjiri lumpur,” ucapnya.

Ia mengatakan, perumahan dengan pengembang PT. Kresna Eka Karya Nugraha dinilai tidak pernah pernah memperhatikan dampak terhadap lingkungan sekitar.

Menurut dia, di atas perumahan terdapat mata air, dan pengembang melakukan pengeboran air di lokasi tersebut.

“Kalau musim kemarau, warga di kampung kami kesulitan air. Air sama sekali tidak ada,” kata dia.

Wahyudin menambahkan, sebelumnya warga pun pernah melakukan aksi demo kepada pengembang, dan meminta proyek pembangunannya diberhentukan. Tetapi, kata dia, semakin kesini semakin bertambah.pembangunannya.

“Kami berharap pebangunan perumah tersebut berhenti, dan pengembang melakukan penghijauan, dan membangun bronjong. Kami tidak ingin terkena bencana,” tuturnya.

Sementara itu, Retno, marketing Perumahan Griya Sampurna mengatakan, kedatangan warga ke kantor pemasaran Griya Sampurna ini berkeinginan untuk dibangunkan drainase dan penhijauan.

“Warga akan membuka segel, jika Bapak (Direktur PT Kresna Eka Karya Nugraha) mendatangi warga,” ucap Retno. (kia/mrb)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *