Kesal Terdampak Longsor Cimanggung, Puluhan Warga Segel Kantor Pemasaran Perumahan SBG

  • Whatsapp
Puluhan warga perumahan Satria Bumintara Gemilang (SBG), Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, menggelar aksi unjukrasa menuntut perbaikan Tembok Penahan Tebing (TPT) dan Drainase, Sabtu 23 Januari 2021. (Foto: Kiki Andriana/Notif.id)
Perkiraan waktu baca: 2 menit

NOTIF.ID, SUMEDANG – Puluhan warga perumahan Satria Bumintara Gemilang (SBG), Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, menggelar aksi unjukrasa menuntut perbaikan Tembok Penahan Tebing (TPT) dan Drainase, Sabtu 23 Januari 2021.

Dalam aksinya, puluhan warga itu menyegel kantor pemasaran PT Satria Bimantara Gemilang, pengembang perumahan itu.

Read More

Aksi ini dilakukan akibat kekesalan warga menyusul tidak adanya upaya penyelesaian masalah longsor oleh pihak pengembang.

Ahmad, warga setempat mengatakan, tindakan yang dilakukan warga tersebut akibat kekesalan terhadap pengembang, lantaran tidak adanya upaya penyelesaian longsor yang terjadi di perumahan tersebut.

“Tindakan ini dilakukan untuk mengetuk pengembang agar cepat menyelamatkan warga RT01/13, dan mengantisipasi agar tidak kembali terjadi longsor. Kami sengaja menyegel kantor pemasaran SBG” kata Ahmad, di lokasi.

Ia menyebutkan, sebelum terjadi longsor pertama di Dusun Bojong Kondang, telah terjadi longsor di Perumahan SBG tepatnya di RT01/13. Namun, kata Ahmad, berhubung terjadi longsoran susulan di Bojong Kondang jadi terabaikan.

Padahal, kata dia, longsor yang terjadi di wilayahnya pun sama membahayakan keselamatan jiwa. Sebab di atas pemukiman warga ada torn penampungan air berkapasitas 20 ribu liter, dan itu untuk konsumsi warga perumagan SBG sebanyak 3682 jiwa.

“Pihak pengembang sudah terlena, mereka abai, padahal jika terjadi longsor susulan, akan berimbas kepada warga yang berada di bawah perumahan SBG, yakni warga Dusun Cicabe Legok RW09, dan itu akan menjadi masalah kembali,” ucapnya.

Lebih lanjut, Ahmad menututkan, berdasarkan hasil analisa para ahli Geolistrik bahwa di RT01/13, sebanyak 22 unit rumah yang masuk kategori zona merah dan harus tinggal di kamp pengungsian.

Menurutnya, warga pun telah melakukan upaya untuk mengantisipasi longsor susulan dengan memasang terpal. Hal ini dilakukan agar air hujan tidak sampai turun langsung ke tanah, namun di alirkan ke drainase.

“Kami sangat khawatir terjadi longsor susulan, namun selama 12 hari ini tidak ada sama sekali upaya untuk antisipasi dari pihak pengembang (SBG). Kami khawatir terutama ibu-ibu, di saat terjadi hujan besar semua pada mengungsi,” tutur Ahmad.

Ditambahkan Ahmad, sebelumnya manajemen SBG pun berencana akan memberikan bantuan batu, semen, dan pasir untuk membangun drainase. Namun, kata dia, hal tersebut ditolak oleh warga, karena warga yang sudah terdampak bencana, dan mengungsi harus memikirkan pembangunan dan mencari tenaga kerja untuk membangun drainase.

“Seharusnya pengembang yang terjun langsung memperbaiki, bukan warga, karena perusahaan memiliki tenaga ahli. Pengerjaannya jangan diserahkan kepada warga,” ucapnya.

Ahmad pun menyebutkan, pascaterjadinya bencana longsor di Dusun Bojong Kondang, pihak pengembang pun sama sekali tidak terlihat mendatangi warga terdampak.

“Jangankan menyalurkan donasi, perhatian pun tidak ada sama sekali,” tuturnya.

Ahmad mengatakan, jika perusahaan itu tidak memberikan perhatian atau solusi bagi warga yang terdampak longsor, warga tidak akan melepas segel di kantor pemasaran perusahaan tersebut

“Kami tidak akan melepas segel ini, sebelum permintaan warga dipenuhi oleh pihak pengembang. Kami meminta perhatian perusahaan dan untuk mengambil langkah agar warga tidak resah,” kata dia.

Sementara itu, saat dikonfirmasi melalui sambungan selular, manajemen SBG belum memberikan tanggapan dan tidak ada respons sama sekali. (kia/ell)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *