Pengamat: Kekalahan Partai Golkar di Pilbup Bandung Merupakan Kekalahan Kolektif

  • Whatsapp
Tevinoer Syamsudin.(ist)
Perkiraan waktu baca: 3 menit

NOTIF.ID, KABUPATEN BANDUNG – Kemenangan Pasangan Dadang Supriatna-Sahrul Gunawan (Bedas) di Pilkada 2020 Kabupaten Bandung memutus mta rantai kekuasaan trah Obar Sobarna selaku sesepuh Partai Golkar yang berhasil menguasai kepimimpinan Kabupaten Bandung selama kurang lebih 20 tahun.

Padahal, sejarah mencatat jika Partai Golkar di Kabupaten Bandung merupakan partai mumpuni. Partai berlambang Pohon Beringin itu praktis setelah reformasi 1998 dan masuknya rezim otonomi daerah menjadi partai dominasi perpolitikan di Kabupaten Bandung. Hal itu tentu tak terlepas dari tangan dingin Obar Sobarana yang waktu itu menjadi Ketua DPD Partai Golkar sekaligus menjabat sebagai Bupati Bandung.

Read More

“Obar Sobarna terbukti mampu mengelola berbagai gejolak transformasi dan regenerasi politik di tubuh Partai Golkar. Dua periode yang diembannya dan 2 periode yang digawangi menantunya (Dadang Naser) menjadi fakta keperkasaan Obar dengan Partai Golkar,” ucap Pemerhati Politik dan Kebijakan Pulbik, Tevinoer Syamsudin di Soreang, Sabtu 2 Januari 2020.

Menurut Tevi, kekalahan Partai Golkar yang mengusung Kurnia Agustina-Usman Sayogi di Pilbup Bandung tentu menjadi sorotan. Kedigdayaan kekuasaan Partai Golkar terlihat tak berdaya. Banyak asumsi faktor penyebab kekelahan yang merebak. Sebab, kekalahan Partai Golkar cukup terlak di Pilkada 2020. Padahal, instrumen kekuasaan sebetulnya sebetulnya masih cukup besar.

Kendati demikian, ucap Tevi, lawan yang dihadapi mereka yaitu Dadang Supriatna merupakan mantan kader Partai Golkar yang dibesarkan dan relatif menguasai termasuk hapal cangkem “jurus-jurus” yang dikuasai dalam berkontestasi. Dadang Supriatana yang merupakan kader potensial Partai Goolkar akhirnya harus hengkang ke partai lain dalam proses legitimasi pencalonannya. Tevi menganggap Dadang Supriatna cukup cerdik dan ngotot memanfaatkan situasi.

“Berbekal kenekatan dan rasa percaya diri yang sesungguhnya, dia terus bergerilya mencari dukungan partai lain dalam pencalonannya. Sadar tentang posisinya, Dadang Supritana menggaet pasangan Syahrul Gunawan, pesohor tanah air yang memiliki tingkat populeritas cukup signifikan,” kata dia.

Kombinasi tingkat elektabilitas DS dengan popularitas Syahrul, lanjut Tevi, menjadikan paslon ini dirasakan sangat solid. Di tengah jalan, militansi kader PKS nampaknya banyak juga ikut menyumbang suara bagi kemenangan DS-Syahrul. Kendati demikian, faktor utama yang mengangkat suara DS-Syahrul sebenarnya adalah kekuatan perlawanan terhadap dinasti yang dirasakan begitu gencar.

“Ditambah lagi, militansi partai pendukung dan pergerakan kader-kadernya cukup memberi andil besar bagi perolehan suaran DS-Syahrul. Termasuk, memanfaatkan momen-momen pada saat kapan gempuran logistik harus dilakukan. Tentang yang terakhir ini, publik nampaknya sudah mahfum,” tuturnya.

Bukan Hanya Tanggung Jawab Dadang Naser

Kekalahan Partai Golkar tentu menjadi sorotan. Pasalnya, Dadang M Naser yang merupakan Ketua DPD Partai Golkar dinilai satu-satunya orang yang harus bertanggung jawab. Padahal, kata Tevi, kekalahan Partai Golkar merupakan kekalahan secara kolektif. Dadang Naser tidak bisa dijadikan sasaran empuk penyebab kekalahan Partai Golkar.

“Sebenarnya ini merupakan kekalahan kolektif. Dadang Naser tidak sepenuhnya dapat dijadikan faktor penyebab kekalahan ini. Sebagai diregen Partai Golkat di Dayeuh Bandung, memang selayaknya semua kegagalan ini bermuara kepadanya. Tapi apakah memang semua potensi dan kekuatan Partai Golkar telah berfungsi bagi pemenangan paslonnya? Atau, memang ada “desain terselubung di dalam” atau “hidden agenda” yang tidak menginginkan kelanjutan Trah Obar Sobarna di Dayeuh Bandung? Terlalu apriori memang menilainya. Namun, bahasa politik adalah bahasa yang sulit ditebak,” kata dia.

Nasib Dadang Naser sebagai Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Bandung juga berikut prforma partai akan ditentukan dalam Musda ke X. Musda ini awalnya sempat mencuat akan terselenggara pada 5 Januari 2020. Namun, belum ad konfirmasi waktu dan tempat pelaksanaannya. Hal ini, ucap Tevi, tentu menjadikan tensi persaingan semakin panas untuk merebutkan Ketua DPD Golkar selanjutnya.

Apalagi, kata dia, evaluasi kekalahan paslon bupati Bandung yang diusung Partai Golkar akan menjadi agenda krusial di Musda X. Padahal, sinyalemen yang berkembang Dadang Naser akan mencalonkan kembali menjadi Ketua DPD. Disisi lain, Anang Susanto yang saat ini Anggota DPR RI Komisi V juga ikut mencalonkan diri.

“Ada juga sinyalemen bahwa anggota DPRD Kabupaten Bandung yang turut mencalonkan diri. Seperti Sugiantio, Yanto Steianto dan Cecep Suhendar. Tapi justru yang mengerucut kuat adalah Anang Susanto. Ini menjadi rival Dadang Naser. Ditambah isu berkembangnya jika Anang Susanto ini yang tidak all out bekerja saat Pilkada 2020. Yang ikut juga menjadi kader atau inohong yang harus bertanggung jawab kekalahan Partai Golkar,” kata dia.

Menurut Tevi, meski ada polemik di tubuh internal Partai Golkar terkait kekalahan di Pilkada Kabupaten Bandung, namunj Tevi meyakini jika Partai Golkar akan mampu bangkit kembali. “Dinamika dan intrik yang berlangsung di dalamnya, itulah yang justru semakin mengukuhkannya sebagai partai solid dan mumpuni.,” kata dia. (put/ell)

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *