Langkah Perjalanan Alas Kaki dari Zaman ke Zaman

Lukisan sepatu purba Calceus. (Foto: fresco in a lucanian tomb in Paestum)

NOTIF.ID, HISTORI – Alas kaki seperti sepatu dan sandal, mempunyai fungsi dan peranan penting untuk melindungi kaki agar tak terkena cedera dari kondisi lingkungan seperti permukaan tanah berbatu-batu, berair, udara panas, maupun dingin.

Hal itu terbukti dengan adanya fosil manusia berusia 40.000 tahun mempunyai tulang jari kaki lemah. Hal tersebut, dijadikan acuan kemungkinan munculnya kebiasaan memakai alas kaki dari zaman prasejarah.

Dari adanya bukti sebuah lukisan Mesir Kuno di Thebes, Mesir, diketahui bahwa orang Mesir sudah mengenakan alas kaki sekitar abad ke-15 SM. Pada lukisan tersebut, digambarkan pengrajin yang sedang duduk di kursi pendek tengah sibuk bekerja membuat sandal, sedangkan seorang lagi sedang menjahit sepatu.

Berbicara mengenai sejarah panjang Perjalanan sepatu dari zaman batu. Kini, kiprah alas kaki atau sepatu telah menjadi suatu kebutuhan dan merupakan bagian dari perkembangan fashion busana bagi masyarakat modern.

Berikut, Notif kutip dari Historia, sepatu tertua yang pernah ditemukan eksistensinya oleh para arkeolog yang dipakai oleh orang-orang pada zaman terdahulu.

Sepatu Kulit Armenia

Sepatu kulit Armenia, merupakan sepatu tertua di gua Armenia. (Foto: Historia)

Sepatu kulit Armenia merupakan sepatu tertua yang ditemukan saat penggalian arkeologis di Gua Armenia. Sepatu ini ditemukan dalam kondisi utuh. Dari penelitian para arkeolog, Perhitungan tanggal radiokarbon menunjukkan bahwa sepatu ini berasal 3.500 SM, yaitu pada zaman masa logam Armenia.

Baca Juga:   Arkeolog Temukan Spesimen Fosil Salamander Berumur 167 Juta Tahun di Siberia

Ketika ditemukan, kondisi sepatu terisi rumput. Bentuknya nampak seperti moccasin, yaitu sepatu tanpa hak yang terbuat dari bahan kulit bertekstur lembut dan terbuat dari sepotong kulit sapi. Nampak pada bagian depan dan tumit terdapat jahitan dari tali kulit.

Ketika dipakai, sepatu ini akan menutup area tumit dan kaki. Karena tak cukup banyak yang diketahui tentang kaki orang Armenia pada masa itu, para arkeolog membandingkan ukuran kaki modern pada saat ini yang ternyata lebih mirip milik ukuran kaki perempuan, yaitu 7 dalam ukuran AS.

Sepatu Oetzi

Sepatu mumi Oetzi yang ditemukan para arkeolog di Pegunungan Alpen, Austria pada 1991. (Foto: HIstoria)

Di Pegunungan Alpen, Austria pada 1991 para arkeolog menemukan manusia mumi bernama Oetzi. Diperkirakan meninggal sekira 5.300 tahun pada zaman batu. Menariknya, pada saat arkeolog menemukan mumi Oetzi masih mengenakan sepatu kulitnya.

Nampaknya, sepatu tersebut dirancang untuk berjalan melintasi salju. Karena, terlihat bahwa sepatu tersebut nampaknya anti air dan bersol lebar. Solnya sendiri terbuat dari kulit beruang. Bagian atasnya dari kulit rusa. Lalu, bagian jaringnya dibuat dari kulit pohon.

Untuk menambah kenyamanan pada musim salju, Jerami diletakkan di sekeliling kaki di dalam sepatu, sehingga fungsinya mirip kaus kaki modern. Jahitannya kecil dan tidak terlalu bisa diandalkan mengingat alat yang dimiliki orang pada saat itu.

Baca Juga:   Sosok Mayaratih, Inspirasi Dibalik Megahnya Kostum 'Wanita Sejati Nusantara'

Sepatu Bebat Kaki

Sepatu bebat kaki dari Tiongkok sejak masa Dinasti Song abad ke-10 M. (Foto: net)

Sepatu mungil ini, pernah populer dipakai oleh perempuan di kalangan kekaisaran Tiongkok sejak masa Dinasti Song abad ke-10 M.

Semenjak kecil, para perempuan Tiongkok membebat kaki mereka agar pertumbuhan kaki terhambat dan tetap berukuran 8 cm. Pembebatan kaki menjadi hal biasa pada wanita dengan status sosial yang lebih tinggi. Namun, Praktik ini dicekal dan kemudian dilarang pada 1911.

Sepatu Mesir

Sepatu Mesir berbentuk perahu dan memiliki permukan datar ini terbuat dari anyaman buluh. (Foto: The Victoria dan Albert Museum)

Sepatu Mesir warisan masa Mesir Kuno 1550 SM ini sempat Trending kembali menjadi gaya pada abad ke-19. Dengan bentuknya yang datar menyerupai perahu, sepatu ini terbuat dari anyaman buluh. Tali sepatu Mesir terbuat dari buluh yang panjang dan tipis yang ditutupi oleh potongan buluh yang lebih lebar.

Sepatu Rami

Berasal dari 68-56 SM, sepatu Rami ditemukan pada penggalian arkeologis di jalur sutra kuno, Dunhuang utara, Tiongkok. (Foto: The Victoria dan Albert Museum)

Sepatu ini berasal dari 68-56 SM, para arkelog menemukan sepatu ini pada saat penggalian arkeologis di jalur sutra kuno, Dunhuang utara, Tiongkok. Sepatu yang terbuat dari beberapa lapisan tanaman rami yang dijahit bersama dengan cara yang mirip dengan teknik perca atau quilting. Contohnya juga dapat dilihat pada kaki tentara terakota Xi’an.

Sepatu Ujung Bulat

Baca Juga:   Cipta Karya Batik Cirebon, Pancaran Warna Dibalik Makna Bhineka Tunggal Ika
Model sepatu ini diperkenalkan di Inggris pada tahun 1500an hingga kini masih dapat dijumpai, khususnya sebagai model sepatu anak-anak. (Foto: The Victoria dan Albert Museum​​​​​​)

Inggris mempunyai aneka macam bentuk sepatu di awal 1500-an. Bentuk sepatu berujung bundar berbahan berbahan kulit dengan satu tali pengait di bagian atas melintang dari sisi satu ke sisi lainnya. Model sepatu ini hingga kini masih dijumpai, khususnya sebagai model sepatu anak-anak.

Poulaine

Sepatu Poulaine dari abad ke 15 yang disimpan di museum Frankurt. (Foto: Public Domain)

Pada abad ke-12 para perajin sepatu Eropa mulai membuat sepatu berujung lancip. Gaya sepatu ini disebut poulaine. Memiliki ujung runcing yang sangat sempit dan terbuat dari kulit. Pada akhir abad ke-14, bentuknya semakin ekstrim dari pemakaiannya yang sempit yang ujungnya lancip mengarah ke atas.

Sepatu Chopine

Selama era Renaissance, Sepatu Chopine populer pada abad ke-15, 16, dan 17 M. (Foto: Historia)

Sepatu Chopine dibuat di Venesia pada abad ke-15, 16, dan 17 M . Sepatu Chopine merupakan barang mahal pada masanya. Sejak 1400-an hingga 1700-an, dari kalangan perempuan ningrat hingga pelacur memakai sepatu ini.

Awalnya sepatu ini digunakan sebagaimana bakiak, yaitu untuk melindungi sepatu dan pakaian dari lumpur dan tanah jalanan. Namun, Selain fungsinya, tinggi hak chopine menjadi simbolik untuk status sosial. Makin tinggi sepatunya, semakin tinggi status si pemakainya.

Selama era Renaissance, Tingginya hak sepatu Chopine bisa lebih dari 50 cm. Baru pada 1430, ketinggian hak sepatu chopine dibatasi oleh hukum Venesia hingga tiga inci. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here