PIM Sabilulungan Sepi Pembeli, Deny Zaelani: Pemkab Bandung Harus Evaluasi Pengelolaannya

Ahli Teknik Planologi Penataan Desa dan Kota, Deny Zaelani mengunjungi PIM Sabilulungan, Senin 10 Februari 2020.(notif.id)

NOTIF.ID, KABUPATEN BANDUNG – Meski telah beroperasi, Pasar Ikan Modern (PIM) Sabilulungan di Jalan Gading Tutuka, Desa Cingcin, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, masih belum banyak dikunjungi pembeli. Megahnya pembangunan PIM Sabilulungan dinilai tidak berpengaruh pada daya tarik pembeli untuk berkunjung

Kondisi ini membuat Ahli Teknik Planologi Penataan Desa dan Kota, Deny Zaelani angkat bicara. Menurut dia, ada kesalahan konsep pembangunan yang membuat PIM Sabilulungan masih belum banyak dikunjungi pembeli.

“Salah satunya, yaitu kondisi PIM terkesan jorok di area transaksi di lantai 1. Lalu bedanya dengan pasar tradisional apa?,” ujar Deny kepada wartawan seusai berkunjung di PIM Sabilulungan, Senin 10 Februari 2020.

Menurut dia, selain dijadikan transaksi jual beli ikan, PIM Sabilulungan juga dijadikan lokasi pengunjung menikmati hasil olahan ikan. Namun yang menjadi kendala, pengunjung yang ingin menikmati hasil olahan ikan kurang terpuaskan.

Sesuai pengalamannya, pelayanan penjual dan pemberi jasa mengolah makanan dari ikan yang telah dipilih pengunjung dinilai cukup lama. Hal ini, kata dia, menunjukkan pengelolaan PIM Sabilulungan masih belum maksimal.

“Ini juga salah satu kendala. Pengalaman saya pribadi seperti itu. Dari memilih ikan sampai minta jasa dimasakin itu lama sekali. Terlihat sekali pengelolaannya masih minim,” kata dia.

Harusnya, sebelum PIM Sabilulungan beroperasi, pedagang ikan dan penyedia jasa masakan diberi pelatihan terlebih dahulu. Sehingga, pengunjung yang datang tidak akan kapok.

“Kalau pelayanan cepat, saya kira pengunjung juga akan lebih tertarik ke sini,” kata bakal calon bupati Bandung dari Partai Demokrat ini.

Deny pun menyayangkan pembangunan PIM Sabilulungan yang terkesan asal-asalan. Seharusnya, ada sekat untuk filterisasi bau ikan mentah di lantai 1 yang digunakan untuk transaksi jual beli dengan lantai 2 yang digunakan untuk food court (tempat makan).

“Kalau kita mau makan di lantai 2, bau ikan mentah yang amis dan cukup menyengat masih bisa tercium. Ini yang jadi penyebab minimnya pengunjung ke PIM,” ucap dia.

Oleh karena itu, ia berharap ke depan Pemkab Bandung bisa mengevaluasi PIM Sabilulungan yang masih belum banyak diminati pengunjung. Ironisnya lagi, masih banyak pedagang ikan yang memilih jualan di pasar tradisional ketimbang di PIM Sabilulungan.

“Harusnya dikaji, kenapa PIM sepi. Pedagang juga masih banyak yang jualan di Pasar Tradisional. Harusnya, kan, dengan dibangunnya PIM, pedagang lebih memilih ke PIM. Nah ini tidak, kenapa?. Ini harusnya dipikirkan lagi, apalagi Bandung Wilayah Selatan ini menjadi Destinasi Wisata terbesar di Jawa Barat dan PIM ini bisa di jadikan salah satu Wisata Kuliner terbesar ” kata dia.(put/ell)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here