Hikayat Perang Sabil, Nabastala Terakhir Cut Nyak Dhien Bajoang di Tanah Sumedang

Cut Nyak Dhien. (Foto: Republika.co.id)

NOTIF.ID, HISTORI – Peran dan keterlibatan perempuan Indonesia dalam perang melawan penjajahan, tak bisa dipandang sebelah mata. Seperti halnya di dalam perang Aceh yang berkobar diantara tahun 1873-1904. Telah banyak menyematkan nama pejuang nasional yang salah satunya adalah Cut Nyak Dhien. Pahlawan perempuan tangguh, yang menggemakan api perjuangannya yang terukir dalam sejarah hingga kini.

Lebih dari 110 tahun, Sumedang telah menjadi saksi persinggahan terakhir perjuangan seorang Cut Nyak Dhien yang berada di sekitar komplek pemakaman leluhur Prabu Geusan Ulun, Makam Gunung Puyuh yang berjarak sekitar 500 meter dari pusat kota Sumedang, Jawa Barat.

Menurut penjaga makam Cut Nyak Dhien, Dadang Rusnandar Kusumah, pada waktu itu Cut Nyak Dhien dibawa ke Sumedang pada 11 Desember 1906 dalam status sebagai tawanan. Tanpa harta hanya sehelai baju lusuh yang menempel dibadan, tasbih dan sebuah periuk nasi dari tanah liat.

Dirinya diasingkan ke Sumedang dalam kondisi tubuh yang sudah renta, dan menderita penyakit encok serta rabun. Ia dibawa ke Sumedang dengan dikawal oleh Jendral Joannes Benedictus Van Heutsz (J B Van Heutsz) dan diserahkan kepada Bupati Sumedang, yakni pangeran Aria Suria Atmadja tanpa memberitahu identitas asli Cut Nyak Dhien.

Pangeran Aria Suria Atmadja. (foto: Jeryanuar)

Lalu, Cut Nyak Dhien diserahkan kepada Kyai Hj. Sanusi yang sebelum akhirnya menetap di rumah KH Ilyas, bersama Istrinya Siti Soleha di kampung Kaum, Kelurahan Regol Wetan, yang jaraknya sekitar 100m dari Masjid Agung Sumedang.

Menurut Juru Pelihara Makam Cut Nyak Dhien dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Serang Banten, Feni Yuliani Amijaya, mengatakan bahwa kondisi Cut Nyak Dhien ketika dibawa ke rumah KH Ilyas sudah sakit-sakitan dan matanya hampir tak bisa melihat.

”Sejak tiba di Sumedang dan tinggal bersama keluarga KH Ilyas, kondisi beliau sudah sakit-sakitan dan matanya sudah tidak bisa melihat,” ungkap Feni.

Makam Cut Nyak Dhien barulah ditemukan pada 1959 atas permintaan Gubernur Aceh ke-8, yakni Ali Hasan/Ali Hasjmy (1959-1964) yang meminta dilakukannya pencarian makam Cut Nyak Dhien di Sumedang yang mengacu berdasarkan data dari dokumen pemerintah Belanda.

Dalam dokumennya, Pemerintah Belanda hanya menyebutkan satu tahanan politik perempuan Aceh yang dikirim ke Sumedang. Dokumen tersebut tertuang pada surat keputusan nomor 23 (colonial verslag 1907:12), yang menyebutkan bahwa Belanda telah mengasingkan seorang tahanan politik perempuan bersama seorang panglima berusia 50 tahun dan anak usia 15 tahun yang bernama Teuku Nana (Diketahui bahwa anak berusia 15 tahun tersebut merupakan pengawal dari Cut Nyak Dhien).

Makam Cut Nyak Dhien di Gunung Puyuh, Sumedang, Jawa Barat. (Foto: Civitasbook.com)

Ketika ditelusuri berdasarkan jejak dokumen, Makam Cut Nyak Dhien terletak di komplek pemakaman anggota keluarga milik Siti Khodijah, di komplek pemakaman Dayeuh Luhur. Makam tersebut, tepat bersebelahan dengan kompleks pemakaman keluarga Pangeran Sumedang di Kampung Gunung Puyuh, Desa Sukajaya, Kecamatan Sumedang Selatan.

Keadaan makamnya kala itu hanya berbentuk kuburan-kuburan pada umumnya, tak ada yang spesial. Namun, barulah terungkap ketika terdapat banyak batu nisan yang dikatakan sebagai makam keluarga ulama Hj. Sanusi. (orang pertama yang diberi amanat untuk menjaga Cut Nyak Dhien oleh Pangeran Aria Suria Atmaja).

Setelah dipugar pada tahun 1987, makam Cut Nyak Dhien dipugar dan dikelilingi pagar besi yang ditanam bersama beton dengan luas 1.500 meter persegi. Satu-satunya pembeda yakni bangunannya beratap dengan arsitektur Aceh, juga batu nisan marmer yang bertuliskan riwayat hidup Cut Nyak Dhien serta hikayat rakyat Aceh, disertai ukiran surah at-Taubah dan al-Fajr pada batu nisannya.

Semasa Hidup di Tanah Pengasingan Sumedang

Ketika Cut Nyak Dhien dibawa ke tempat pengasingannya, yakni Sumedang. Pangeran Aria Suria Atmadja, sebagai orang yang dititipkan oleh JB Van Heutz hanya memberitahukan kepada orang yang mengasuhnya, yakni Siti Soleha bahwa Cut Nyak Dhien merupakan putri bangsawan Aceh. Karenanya, Cut Nyak Dhien diminta dirawat dengan sebaik-baiknya.

Cut Nyak Dhien tinggal bersama salah seorang pengawal yang turut bersamanya dari Aceh, yakni Teuku Nana. Dikisahkan, bahwa dirinya tak pernah mau dikasihani walaupun baginya telah dibantu oleh Siti Soleha untuk merawatnya sehari-hari. Dirinya tetap berbelanja seorang diri ke pasar dan melakukan kegiatan rumah tangga seperti halnya ibu rumah tangga lainnya.

Menurut cerita yang pernah dituturkan oleh R.A. Bulkini, dirinya dan orangtuanya sempat tinggal berdekatan dengan tempat kediamannya Cut Nyak Dhien sekitar daerah Kauman, Sumedang. Dikatakannya, Cut Nyak Dhien semasa di Sumedang sangatlah dipandang oleh masayarakat Sumedang. Menurutnya, bahwa Cut Nyak Dhien menempati sebuah rumah yang tak banyak berbeda dengan rumah-rumah orang Sumedang lainnya. Rumah panggung dengan dinding bambu pilihan.

Rumah yang dulu sempat ditinggali oleh Cut Nyak Dhien, kini ditinggali cucu dan cicit KH Ilyas, rumah tersebut tampak seperti rumah-rumah sekitarnya. Bahkan, tidak seluruh bagian depan rumah terlihat dari arah jalan karena tertutup oleh rumah lainnya. Tak ada yang mencolok, kecuali bentuk dasarnya sebagai rumah panggung.

Rumah panggung yang sebagian besar dinding dan lantainya berupa anyaman bambu itu terdiri atas ruang tamu, ruang keluarga, empat ruang tidur, dan satu dapur. Tidak ada tanda fisik yang menunjukkan jejak Cut Nyak Dhien pernah tinggal di rumah tersebut, kecuali sebuah foto kuno Cut Nyak Dhien berukuran besar yang dipajang di ruang keluarga.

“Gambar itu dulu dibawa oleh pejabat Balai Purbakala. Katanya, berasal dari Belanda,” kata suami Nenden, H Dadang yang “bertugas” sebagai pemandu bagi para tamu yang berkunjung.

Baca Juga:   Kabar Baik! Pemkab Sumedang akan Salurkan BLT Senilai 500 Ribu bagi Warga Miskin, Ini Jadwalnya
Rumah bekas tinggal Cut Nyak Dhien saat di Sumedang. (foto: Net)

Pemerintah Sumedang, telah menandai rumah tersebut sebagai situs budaya yang dipasang Balai Peninggalan Purbakala pada tahun 2003. Dengan menandai papan bertuliskan “Bekas Rumah Tinggal Cut Nyak Dien” sudah tidak akan kesulitan untuk mencari rumah ini, karena warga Kota Sumedang pasti bisa menunjukkannya.

Dikatakan Dadang, Semula dua ruang tidur yang kemudian dijadikan satu kamar tidur merupakan kamar Cut Nyak Dhien. Tetapi, ruangan tersebut kini tidak dikhususkan lagi dan digunakan sebagai salah satu kamar tidur keluarga Dadang.

“Dulu, inilah kamar Cut Nya Dhien,” katanya sembari menunjuk ruang tidur yang paling luas.

Menurutnya, sebagian dinding dan lantai bambu masih terbilang asli, sedangkan sebagian lainnya sudah direnovasi. Dinding lama anyaman bambunya lebih besar dan tebal.

“Sepertinya tak ada lagi jenis bambu untuk membuat dinding lama itu,” ucap Dadang.

Tiang-tiang utama yang menyokong terbuat dari kayu juga masih asli. Tiang-tiang itu masih berdiri kokoh tak dimakan rayap, meski sebagian ditanam di dalam tanah.

Kerusakan termakan usia memang sesuatu yang tak bisa dihindari, mengingat usia rumah tersebut sudah ratusan tahun. Ini seakan mengingat, bahwa rumah tersebut sudah ada sebelum Cut Nyak Dhien tiba di Sumedang.

rumah bekas tinggal Cut Nyak Dhien saat di Sumedang. (foto: PRonline via Okezone)

Menurut Raden Koenraad Soeriapoetra, yang merupakan keturunan Kerajaan Sumedang Larang, mengatakan, “disamping sebagai seorang tahanan Belanda, tetapi dia (Cut Nyak Dhien) tetap semangat memberikan pelajaran-pelajaran agama islam pada masyarakat sekitarnya dan siapapun yang mau belajar,” ucapnya.

“Di sumedang Cut Nyak Dhien di tempatkan dan di titipkan kepada keluarga, karena cut nyak dhien seorang ulama dan juga uztazah beliau di titipkan kepada keluarga kaum,” kata Raden Koenraad Soeriapoetra menambahkan.

Selama Menjalani 2 tahun masa pengasingannya, Cut Nyak Dhien yang tak bisa menggunakan bahasa Sunda, menjalin komunikasi dengan masyarakat memakai bahasa Arab, dan mengajarkan masyarakat mengaji Al-Quran. Maka, Pangeran Aria Suria Atmaja memberikan nama penghormatan kepada Cut Nyak Dhien dengan panggilan Ibu Perbu, yaitu Ibu Ratu atau Orang Suci dari tanah Aceh sebagai tanda penghormatan pada jasa Cut Nyak Dhien.

Dirinya lebih banyak melewatkan hari-harinya dengan mengajarkan agama Islam serta mengadakan pengajian Al-Qur’an bagi masyarakat sekitarnya yang masih belum mampu mengaji. Menurut pak Bulkini, banyak masyarakat Sumedang menjadi lebih paham agama Islam berkat ajaran dari Ibu Perbu.

“Kepintarannya menghafalkan ayat-ayat Al-Quran kendati dengan keadaan mata yang tak bisa melihat lagi benar-benar menimbulkan kekaguman serta rasa hormat masyarakat Sumedang.” Cerita Pak Bulkini.

Cut Nyak Dhien meninggal tepat tanggal dan bulan yang sama dengan saat penangkapannya di Aceh, yakni pada 6 November 1908. Pahlawan perempuan itu di makamkan tanpa upacara kebesaran dan dihadiri para pelayat yang tak mengenali siapa dirinya.

Barulah bertahun-tahun setelah wafatnya Ibu Perbu yang dikenal warga Sumedang. Sebenarnya merupakan bekas pemimpin perang dari tanah Rencong yang sangat disegani oleh Belanda.

Awal Perjuangan Cut Nyak Dhien dan Matinya Teuku Umar

Cut Nyak Dhien lahir di Lampadang, Aceh Besar pada tahun 1848 dari keluarga bangsawan Aceh. Ia merupakan putri Uleebalang IV mukim di Peukan Bada (pemerintah dalam kesultanan Aceh) Teuku Nanta Seutia.

Teuku Nanta Seutia adalah keturunan seorang perantau asal Minangkabau Sumatera Barat, yang bernama Datuk Machoedoem Sati. Datuk Machoedoem Sati diperkirakan datang ke Aceh pada abad XVIII ketika Kerajaan Aceh dipimpin oleh Sulthan Jamalul Alam Badrul Munir yang merupakan sultan ke 22 di kesultanan Aceh (1711 – 1733).

Sementara ibunya Cut Nyak Dhien, adalah putri Uleebalang terkemuka di Kemukiman Lampageu di wilayah Sagi XXV Mukim. Sebagai putri bangsawan, sejak kecil Cut Nyak Dhien sudah memperoleh pendidikan, khususnya pendidikan agama dari ulama-ulama di wilayah kekuasaan ayahnya.

Pada 1862 Cut nyak dhien dinikahkan dengan Teuku Ibrahim Lam Nga, putra dari Uleebalang Lam nga XIII. Ketika wilayah VI Mukim diserang, dirinya mengungsi, sementara suaminya Teuku Ibrahim Lam Nga bertempur melawan Belanda yang akhirnya meninggal pada tanggal 29 Juni 1878 dalam pertempuran melawan Belanda di Montasiek.

Kematian suaminya ini membuat Cut Nyak Dhien marah, dan bersumpah akan memerangi tentara Belanda sampai hancur.

Negatif Foto yang diambil selama ekspedisi militer ke Samalanga. Letnan Jenderal J.B. van Heutsz dengan stafnya selama serangan terhadap Bateë iliëk. (Foto: Christiaan Benjamin Nieuwenhuis/Tropenmuseum)

Dua tahun setelah kematian suami pertamanya, datanglah lamaran pada Cut Nyak Dhien dari salah satu panglima perang Aceh bernama Teuku Umar. Awalnya, Cut Nyak Dhien Menolak lamaran Teuku Umar, namun karena Teuku Umar berjanji mengizinkannya untuk ikut bertempur di medan perang, Cut Nyak Dhien akhirnya menerima pinangan tersebut.

Mereka menikah pada tahun 1880, dan dikaruniai seorang putri bernama Cut Gambang.
Bersama Teuku Umar, Cut nyak Dhien mengobarkan Jihad fisabilillah atau perang dijalan Allah SWT untuk mengusir para kaphe (sebutan kafir untuk tentara belanda kala itu).

Pada saat perang berkecamuk, Teuku Umar sempat di cap sebagai pengkhianat karena menjadi komandan unit pasukan Belanda pasca penyerahan dirinya beserta 250 anggota laskar di Kuta Raja pada tanggal 30 Sepetember 1893.

Teuku Umar (yang duduk ditengah-bawah), suami Cut Nyak Dien.
Teuku Umar (Meulaboh, 1854 – Meulaboh, 11 Februari 1899) adalah pahlawan kemerdekaan Indonesia. (Foto: civitasbook.com)

Tuduhan bahwa Teuku Umar berkhianat ternyata tidak terbukti, bukan saja karena langkah teuku umar bergabung dengan pasukan Belanda. Namun sebenarnya hanya merupakan sebuah strategi untuk mempelajari taktik militer Belanda. Pada akhirnya Teuku Umar dan pasukannya terbukti kembali bergabung dengan para pejuang Aceh serta membawa senjata dari markas militer Belanda.

Strategi Teuku Umar ini di kemudian hari sukses menjadi kunci beberapa kali kemenangan rakyat Aceh dalam pertempuran melawan pasukan Belanda. Belanda yang sering kali kalah akhirnya menerjunkan pasukan Khusus, Yakni Marsose/Korps Marechaussee te Voet (satuan militer yang dibentuk pada masa kolonial Hindia Belanda oleh KNIL sebagai tanggapan taktis terhadap perlawanan gerilya di Aceh) dan menyebar Informan untuk membaca peta perlawanan pejuang Aceh.

Baca Juga:   Ini Lokasi SIM Keliling Polres Sumedang Jumat 10 Januari 2020

Mereka memburu dan membantai pejuang Aceh tanpa ampun hingga pada 11 Februari 1899 dalam satu serangan di Negeri Pasir Karam yakni Meulaboh. Akibat sebuah pengkhianatan, pasukan Teuku Umar pun terjebak dan pada akhirnya suami Cut Nyak Dhien ini tewas tertembak.

Snouck Hurgronje berjudul “Het Gajolan en Zijn Bewoners” atau “Tanah Gayo dan Penduduknya” kepada van Heutsz. Sang Gubernur , Jenderal pun merespons dengan menunjuk van Daalen sebagai pemimpin ekspedisi operasi militer ke Aceh, pada 8 Februari 1904. (foto: Kaskus.co.id)

Pasca Meninggalnya Teuku Umar, Cut Nyak Dhien Mengambil alih tampuk kemimpinan perang Semesta Rakyat Aceh. Pasukan Cut Nyak Dhien yang terus berpindah-pindah dan aktif melakukan serangan-serangan mendadak terhadap konvoi dan posisi pasukan Belanda di pedalaman Meulaboh seperti di Lampage, Lampinang, Moegoe dan sebagainya.

Tahun 1901, pasukan Cut Nyak Dhien sempat hancur dan jumlah pasukan menyusut drastis, namun hal ini tidak menghentikan langkah perjuangan Cut Nyak Dhien. Dirinya terus membakar api juang sisa pasukannya meski harus keluar masuk hutan untuk bersembunyi menghindari kejaran dan sesekali melakukan serangan kepada pasukan Belanda.

Hikayat Perang Sabil bagi Pejuang Aceh

Pengaruh ‘hikayat perang sabil’ yang mendarah daging dari generasi ke genarasi di hati banyak masyarakat muslim Aceh ikut membakar semangat Cut Nyak Dhien dan anak buahnya untuk terus bertempur melawan pasukan Belanda.

Menurut tokoh Aceh, Fachrie Ali, ulama-ulama kemudian menciptakan ideologi perang melalui rumusan-rumusan keagamaan. Bagi rakyat Aceh, ‘hikayat perang sabil’ yang isinya merupakan pernyataan perjuangan melawan Belanda walaupun secara senjata tak bisa lagi diandalkan karena kalah secara teknis dengan senjata Belanda, namun tetaplah suatu hal yang lebih baik untuk gugur di medan pertempuran.

“merupakan perjuangan suci, bahwa dunia itu tidak ada artinya, bahwa jika kamu gugur, kamu akan mendapatkan hal yang jauh lebih baik daripada yang kamu peroleh di dunia. Kemudian (Hikayat perang Sabil) menjadi motivasi perang bagi rakyat Aceh,” ungkap Fachrie Ali.

“bahkan pengikut-pengikut cut nyak Dhien sendiri rela mati, Sifat pantang mundurnya menyebabkan dia menjadi sangat distinctive didalam sejarah nasional. Apalagi sebagai seorang perempuan, yang sudah buta yang memiliki tekad tak terpatahkan,” katanya melanjutkan.

Manuskrip tulisan tangan ulama Aceh mengenai Hikayat perang Sabi. (foto: historiaceh.blogspot.com)

‘Hikayat Perang Sabil’ merupakan karya sastra perang yang diciptakan pada masa perang dan memberi semangat kepada para prajurit untuk bertahan melawan musuh. Hikayat dapat dikatakan sebagai sebuah kisah atau cerita naratif yang ditulis dalam bentuk berirama yang bertujuan untuk memberi nasihat dan semangat kepada orang-orang untuk terjun ke medan peperangan melawan orang-orang kafir. Isinya juga mengandung muatan ajaran dan petuah untuk bertakwa kepada Allah SWT.

Hikayat ditulis dalam bentuk sajak, kata hikayat sendiri berasal dari bahasa Arab yang artinya cerita. Namun, bagi masyarakat Aceh hikayat tak hanya berisi cerita fiksi belaka, tetapi berisi pula butir-butir yang menyangkut pengajaran moral. Ketika perang melawan Belanda, masyarakat Aceh membaca ‘hikayat perang sabil’ di dayah-dayah atau pesantren, di meunasah, di rumah, maupun di tempat lain sebelum pergi berperang.

‘Hikayat perang Sabil’ yang sering diucapkan menjadi bahan bakar senjata ideologi terampuh bagi keberlangsungan semangat jihad para pengikuit Cut Nyak Dhien dalam meneruskan perjuangan melawan penjajahan. Lebatnya hutan rimba, Curam dan terjalnya tanah berbukit, teriknya panas, dan derasnya hujan seolah-olah bukan halangan bagi Cut Nyak Dhien untuk terus bertempur menghadapi pasukan Belanda.

Perang gerilya dilakukan cukup lama oleh pasukan Cut Nyak Dhien sekitar kurang lebih selama 15 tahun. Ditengah kondisi kesehatan yang terus menurun dan kian renta di makan usia, semangat Cut Nyak Dhien untuk terus berperang melawan belanda tak kunjung surut. Dengan tegas dirinya menolak dan menganggap suatu kehinaan bila menyerah pada ‘Khape’ yang telah membunuh serta menodai kehormatan anak negerinya.

“Perang Kaphe, bek jigidong tanoh Aceh! (Perangi kafir, jangan dipijaknya tanah Aceh).”teriak Cut Nyak Dhien lantang.

Menurut pakar Sejarawan, Abdullah, Cut Nyak Dhien tetap berjuang sampai akhirnya para pengikutnya sudah tak tahan lagi.

“Bukan berarti para pengikutnya tak tahan berjuang, tetapi karena melihat kondisi Cut Nyak Dhien sudah tidak memungkinkan untuk berperang karena sakit-sakitan dan hampir buta,” kata Abdullah.

Keadaan Cut Nyak Dhien berserta pengikutnya saat berhasil ditangkap oleh Belanda. (Foto: ranykacamata)

Ditengah gerilya yang terus dikobarkan, Pang Laot yang merupakan salah seorang pengikut setia Cut Nyak Dhien yang kasihan melihat kondisi kesehatan Cut Nyak Dhien, diam-diam menjalin kesepakatan dengan Belanda, untuk menyergap Cut Nyak Dhien. Tujuan Pang Laot melakukan negosiasi penangkapan, dengan tujuan agar Cut Nyak Dhien bisa menjalani perawatan dan dekat dengan rakyatnya.

Atas Informasi Pang Laot, Pada tanggal 16 November 1905, tentara Belanda yang dipimpin oleh Kapten Veltman dan Letnan van Vuuren menangkap Cut Nyak Dhien di tempat persembunyiannya di Rigaih, Meulaboh, Aceh Barat. Namun, untuk menjauhkan dirinya dari masayarakat Aceh, kemudian Cut Nyak Dhien diasingkan atas perintah Jenderal van Daalen ke sumedang Jawa Barat.

Di Bumi Pasundan yang berjarak ribuan kilometer dari tanah kelahirannya. Harimau betina Aceh itu menghembuskan napas terakhirnya. Mewarisi sikap pemberani Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar dalam memerangi Belanda. Cut Gambang berserta suaminya yakni Teuku Mayet di Tiro meneruskan perjuangan mereka. Dan pada akhirnya, setahun atau dua tahun kemudian Cut Gambang dan suaminya tewas oleh pasukan Marsose dalam medan peperangan melawan Belanda.

Baca Juga:   313 Orang Santri SMP Plus Pondok Modern Al Aqsha Diwisuda

Kisah Perjuangannya Diangkat Melalui Film “Tjut Nja’ Dhien”

Pada Tahun 1988, perjuangan Cut Nyak Dhien pernah diangkat dalam sebuah film drama epos berjudul “Tjut Nja’ Dhien” film Epik Legendaris yang di sutradarai Eros Djarot dan dibintangi Cristine Hakim dan Slamet Rahardjo Djarot yang memenangkan penghargaan 8 Piala Citra dan menjadi film indonesia pertama yang yang ditanyangkan di festival film cannes pada tahun 1989.

Menurut Erros Djarot, sutradara Film “Tjut Nja’ Dhien”, sosok Cut Nyak Dhien merupakan manusia tanpa kompromi dan rela meninggalkan statusnya sebagai ningrat dan bertempur sampai detik darah penghabisan. Sikap kepahlawanan ini yang juga disisi lain yang dapat mengangkat semangat para perempuan di Indonesia.

“Ia merupakan sebuah Lilin, sikapnya yang membentuknya seperti lilin, Cut Nyak Dhien rela menerangi sekitanya, sampai fisiknya habis pun tak masalah. Sikap Lilin ini sebetulnya sikap seorang pahlawan yang kita lihat dari filosofinya pada lilin itu sendiri, yang sanggup menerangi walaupun harus terbakar dan meleleh, hancur dan lenyap,”kata Erros Djarot.

Film Tjoet Njak Dhien. (Foto: Merdeka.com)

Sebagai pemeran tokoh penting Cut Nyak Dhien, Christine Hakim mengaku tak tahu dengan percis bagaimana sosok sebenarnya Cut Nyak Dhien.

“Tidak ada satu manusia pun pada saat itu yang tahu siapa itu Cut Nyak Dhien. Catatan sejarah juga terbatas, jadi satu-satunya yang saya mintai informasi dan minta bimbingan dan dituntun adalah yang mencipatakan Cut Nyak Dhien itu sendiri, yakni Tuhan,” ucap Christine.

Dirinya mengakui bahwa Cut Nyak Dhien bukanlah tokoh Fiktif, maupun karangan sastra. Namun, sosok Cut Nyak Dhien Merupakan Hamba Tuhan yang memang sudah menjadi bagian dari sekenarionya Tuhan. Jadi, ketika dirinya terlibat sebagai pemeran Cut Nyak Dhien, kata Christine, seolah-olah dalam film sejarah “Tjut Nja’ Dhien” dirinya seperti sedang merekonstruksi skenario Tuhan.

Cut Nyak Dhien menurut Pakar Sejarah Asing

Perjuangan Heroik Cut Nyak Dhien menerbitkan rasa takjub para pakar sejarah asing yang meneliti perang aceh. Banyak buku memberi perhatian besar pada perjuangan dan kehebatan pahlawan perang perempuan satu ini.

Seperti H C Zentgraff, penulis asal Belanda dalam bukunya “Atjeh” menyebutkan bahwa perempuan-perempuan perkasa itu sebagai de leidster van het verzet, para pemimpin perlawanan yang memegang peranan besar dalam politik dan peperangan.

Salah satu perempuan Aceh yang sangat disegani oleh Zentgraaff adalah Cut Nyak Dhien yang tampil memimpin peperangan melawan Belanda pada 1896.

“Keberanian wanita Aceh dalam mempertahankan cita-cita bangsa dan agamanya. Ia rela hidup dalam kancah perang dan melahirkan putranya di situ. Ia berperang bersama suaminya, kadang-kadang di samping, di hadapan, atau di tangannya yang kecil dan halus itu, kelewang dan rencong dapat menjadi senjata yang berbahaya.”Tulis Zentgraaf.


Van Daalen dengan Veltman yang Berada di Sebelah Kirinya, saat Perang Aceh (tahun tidak diketahui, antara 1873-1904). (Foto: civitasbook.com)

Menurut Sejarawan, Peter carey, seorang Cut Nyak Dhien merupakan kolega batin dari Pangeran Dipenegoro. Dimana Fundamental dari sistem kolonial merupakan kekerasan dan sistem kekejian, dan dimana adat istiadat seolah-olah mengalami total war yang sangat merugikan bagi rakyat Aceh. Ada semacam Kerancuan bagi rakyat Aceh untuk menerima Belanda sebagai kolonialisme mutlak.

“Mereka Enggan menerima Belanda sebagai kolonialisme yang mutlak seperti Teuku Imam Bonjol, atau Seorang Cut Nyak Dhien, dan Pangeran Dipenegoro. Mereka (Belanda) tidak layak menjadi pemerintah sebab mereka bukan Islam,”ungkapnya.

Sejarah rakyat Aceh tercatat memiliki banyak grandes dames atau perempuan-perempuan hebat yang memegang peranan penting dalam berbagai sektor kehidupan. Hal ini menunjukan, sejak lama banyak perempuan Aceh telah teremasipasi jauh sebelum gerakan emasipasi banyak dibicarakan.

Rusdi Sufi dalam bukunya “Wanita Utama Nusantara dalam Lintasan Sejarah” keperkasaan Cut Nyak Dhien juga diungkapkan oleh sejarawan Belanda lainnya, M H Szkely Lulafs dalam buku “Tjoet Nja’ Dhien”.

M H Szkely Lulafs menilai jiwa kepahlawanan yang menggerakkan semangat juang dalam dada Teuku Umar adalah dorongan halus Cut Nyak Dhien. Sifat kepahlawanan Cut Nyak Dhien telah diwarisi oleh ayahnya yang merupakan salah seorang pejuang penentang kolonialisme Belanda.

Para pejuang dalam perang aceh. (Foto: buku sejarah indonesia kelas 11 kurikulum 2013 penerbit erlangga)

Cut Nyak Dhien merupakan salah satu di antara sederetan nama-nama besar tersebut. Mereka muncul silih berganti menjadi panglima perang selama 60 tahun perlawanan terhadap penjajahan Belanda, mulai Maret 1973 ketika perang dimaklumatkan, sampai Belanda meninggalkan Aceh dengan kekalahannya oleh Jepang pada tahun 1942.

Tanggal 2 Februari 1964, merupakan sejarah dan peristiwa penting bagi pahlawan Cut Nyak Dhien yang diakui pemerintah Indonesia dan ditetapkan sebagai pahlawan nasional.

Pada akhirnya, kisah tentang perjuangan dan kepahlawanan Cut Nyak Dhien, merupakan sebuah epos tentang seorang pemberani yang menolak tunduk, dan memilih mengorbankan hidupnya untuk menjadi lilin bagi masyarakat yang dicintainya.

Matinya syahid, jihadnya fisabilillah hingga akhir hayat menjemput. Walaupun di tanah pengasingan, perjuangannya melawan penjajahan tak lepas dari tangan Tuhan Yang Maha Esa, bibirnya tetap basah melafalkan doa, walaupun tangannya sudah tak mampu mengenggam senjata.

Dan kepada sosok sepertinya lah kita sebagai generasi penerus berkaca diri dan tetap berjuang mempertahankan NKRI. Anggaplah kita yang menikmati masa kemerdekaan ini berutang jasa dan kebaikan kepadanya yang pernah membela dan memperjuangkan kemerdekaannya dari tangan kolonialisme. (ell/ras)

Sumber: Direktori Sumedang, Melawan Lupa Metro TV, Portalsatu, Koransindo, Hikayat Perang Sabil NU online, Majalah KARTINI – 237 Tahun 1983 halaman 44–45 dan berbagai Sumber lainnya.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here