Pemulangan WNI eks ISIS Belum Diputuskan, Aleeyah: Saya Hanya Ingin Pulang

  • Whatsapp
Maryam, wanita eks ISIS asal Indonesia di Kamp Al-Hol (foto: Afshin Ismaeli via Okezone.com)
Perkiraan waktu baca: 3 menit

NOTIF.ID, JAKARTA – Saat ditemui di Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, pada Rabu, 5 Februari 2020. Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud Md mengatakan, WNI eks ISIS dapat dipulangkan, namun mereka harus tetap menjalani tindakan preventif, yakni dengan program deradikalisasi.

Pemerintah terus menggodok rencana pemulangan WNI eks ISIS atau teroris lintas negara FTF (foreign terrorist fighters).

Read More

“Belum diputuskan karena ada manfaat dan mudaratnya masing-masing,” kata Mahfud.

Disisi lain, para WNI eks ISIS masih memiliki hak statusnya untuk tidak kehilangan statusnya sebagai warga negara. Hal ini yang menjadi poin pertimbangan pemerintah untuk memulangkan WNI eks ISIS.

“Kami sedang mencari formula, bagaimana aspek hukum serta aspek konstitusi dari masalah teroris pelintas batas ini terpenuhi semuanya. Kalau ditanya ke Menkoplhukam itu jawabannya,” katanya.

Sebelumnya, rencana pemulangan 600 WNI eks ISIS telah disampaikan Menteri Agama Fachrul Razi. Namun, dirinya mengklarifikasi pernyataan tersebut dan mengatakan bahwa pemerintah masih harus mengkaji kemungkinan kepulangan para WNI eks ISIS.

“Rencana pemulangan mereka itu belum diputuskan pemerintah dan masih dikaji secara cermat oleh berbagai instansi terkait di bawah koordinasi Menkopolhukam. Tentu ada banyak hal yang dipertimbangkan, baik dampak positif maupun negatifnya,” kata Fachrul.

Dia juga mengatakan, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) telah memberikan saran terkait pentingnya upaya pembinaan deradikalisasi jika memang WNI eks ISIS itu akan dipulangkan.

WNI eks ISIS Siap Dideradikalisasi Jika Dipulangkan.

WNI eks ISIS menyambut baik itikad rencana pemerintah untuk memulangkan 600 WNI eks ISIS ke Indonesia. Seperti Aleeyah Mujahid (bukan nama sebenarnya). Dirinya mengaku bersedia mengikuti program deradikalisasi jika bisa kembali pulang.

“Ini jawaban yang sudah dinanti-nanti dari dua tahun lalu,” kata Aleeyah, pada Rabu, 5 Februari 2020.

Wanita berusia 25 tahun itu, kini menjadi pengungsi di kamp Rojava, Suriah sejak akhir 2017 setelah ISIS digempur habis-habisan. Aleeyah berserta anaknya dibawa ke kamp pengungsian hingga berakhir di kamp Rojava. Menurut Aleeyah, ada sekitar 13 ibu-ibu dan 30 anak-anak yang berasal dari Indonesia di tempatkan di kamp tersebut.

Lebih dari dua tahun sejak dirinya tinggal di kamp pengungsian, Aleeyah mengaku pilu memikirkan Indonesia, lantaran melihat rombongan yang sudah dijemput pemerintah mereka untuk kembali pulang.

Untuk melepaskan rasa rindunya, Aleeyah terus berkomunikasi dengan keluarga serta kerabatnya di Indonesia. Kepulangan dirinya sangat dinanti oleh keluarga dan teman-temannya.

Pemerintah rencanakan pulangkan 600 WNI eks ISIS ke Indonesia (Foto: Fadel SENNA / AFP via CNNIndonesia)

Namun, Aleeyah mengaku pasrah, doanya tak lagi minta untuk dipulangkan ke Indonesia. Tetapi cukup berdoa berserah diri meminta keluar dari wilayah pengungsian ke tempat yang lebih baik. Aleeyah menuturkan, Jika mendapat kesempatan kedua untuk menata ulang hidupnya, ia tidak akan mengecewakan siapapun dan mengemis untuk kesempatan ketiga.

“Kalau jawabannya pulang ke Indonesia, alhamdulillah.”ucapnya.

Penuturan Aleeyah, untuk memenuhi kebutuhan hidup di kamp penampungan, setiap penghuni berusaha untuk berkerja, jualan, ataupun mengandalkan kiriman dari sanak keluarganya. Dan untuk Keperluan air dan listrik sehari-hari cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Cerita Aleeyah Ingin Keluar dari Jeratan ISIS

Ketika pertama kali dirinya meninggalkan Jakarta dengan suaminya untuk bergabung dengan ISIS pada Desember 2015. Dirinya berserta suaminya berangkat ke suriah lewat jalur Turki dan memasuki wilayah ISIS di Suriah pada Juli 2016.

Niat dirinya beserta suami ke sana memang untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Bukan soal ekonomi, tetapi karena untuk maslahat beragama. Ia mengaku ingin tinggal bersama umat muslim dari seluruh dunia, dan rela diatur dalam hukum Islam berdasarkan Al-Quran dan sunnah.

Namun, ketika beberapa bulan menetap di bawah ideologi ISIS, Aleeyah mulai melihat kejanggalan. Terutama saat kejatuhan Mosul pada akhir Oktober-awal November 2016. Dirinya merasa tertipu bergabung dengan ISIS, sama seperti halnya terlibat dalam sebuah kelompok gangster atau mafia bertopeng Islam.

Dia juga melihat dirinya bukanlah sosok yang radikal. “Pas lo mau keluar, susah. They will never leave you alone,

Aksi perempuan yang ikut berjihad dalam kelompok ISIS. (Foto: Alalam via Beritasatu)

Karena dirasa ideologi ISIS tak sesuai dengan hatinya, Aleeyah mengatakan tak keberatan jika harus mengikuti persyaratan dan harus Dideradikalisasi untuk bisa kembali ke Indonesia, kembali dengan keluarganya. “Jadi saya enggak ada alasan untuk merasa berat.” katanya.

Dirinya mengungkapkan, mereka (pengungsi eks ISIS non WNI) mencoba menarik Aleeyah untuk kembali bergabung bersama dengan ISIS. Dikatakanya, banyak dari penghuni di kamp pengungsian masih menunggu kebangkitan ISIS.

“Tapi saya enggak pernah gubris. Saya sudah tiga kali diserang sama orang gendeng. Pendirian saya mantep buat pulang je Indonesia. Enggak akan berubah, enggak ragu, enggak akan terpengaruh sama kicauan mereka lagi. I’m well done from them,” jelasnya. (*)

Sumber: Tempo.co

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *