Ilmuwan Australia Ciptakan Virus Corona Dalam Laboratorium

lmuwan Doherty Institute, Julian Druce, merayakan penemuan penggandaan virus Corona yang diciptakan di laboratorium.(Foto: ABC/Loretta Florance)

NOTIF.ID, INTERNASIONAL – Para ahli di Peter Doherty Institute for Infection and Immunity di Melbourne, menjadi laboratorium ilmiah pertama di dunia yang menyalin dan mencipatakan virus Corona Wuhan di dalam laboratorium untuk membantu pengembangan vaksin, pada Selasa 30 Januari 2020.

Mereka tengah melakukan eksperimen dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Eropa, dan akan membaginya dengan beberapa laboratorium di seluruh dunia, termasuk di Queensland yang terlibat dalam perlombaan mengembangkan vaksin di seluruh dunia.

Menurut Ilmuwan Australia yang menciptakan virus Corona, Seluruh tim ilmuwan akan mengembangkan virus tersebut dari salah satu pasien yang telah terinfeksi sejak Jumat lalu.

Gambar mikroskopik virus Corona Wuhan 2019-nCoV yang dibagikan oleh Pusat Data Mikrobiologi Nasional Cina. (Foto: Pusat Data Mikrobiologi Nasional China/Metro.co.uk)

Mike Catton, wakil direktur Doherty Institute, mengkonfirmasi hasil penggandaan virus Corona Wuhan yang dikenal 2019-nVoC telah berhasil didapatkannya.

Ia juga menjelaskan pentingnya menggandakan virus Corona versi laboratorium. Menurutnya, virus ini akan menjadi bagian penting untuk menunjukkan apakah vaksin berfungsi, dengan para ilmuwan dapat menguji setiap vaksin potensial terhadap versi penyakit yang ditumbuhkan di laboratorium.

Penelitian ini juga akan memudahkan para peneliti untuk mengembangkan tes identifikasi pada orang yang diduga terinfeksi virus, bahkan sebelum mereka menunjukkan gejala.

Pada saat ini di Australia, pasien dengan gejala coronavirus awal tengah menjalani pengujian di rumah sakit, dengan sampel virus dikirim ke Doherty Institute yang merupakan satu-satunya laboratorium di Australia untuk pengujian sampel.

Untuk kasus seperti ini, merupakan kedua kalinya bagi Doherty Institute untuk melakukan penelitian, dan akan menilai keakuratan mengenai seseorang terinfeksi atau tidaknya.

Pemimpin ilmuwan Doherty Institute, Julian Druce bersama Dr. Catton pada saat penemuan virus tersebut, telah menggambarkannya sebagai perkembangan yang signifikan dalam pemahaman global tentang virus, dan untuk respons terhadapnya.

“Ini akan menjadi pembalik keadaan untuk laboratorium lain di Australia,” ungkap Dr Druce.

The Doherty Institute merupakan lab kedua di dunia yang menyalin penyakit tersebut. Laboratorium pertama adalah China, namun laboraturium tersebut tidak membagikan hasil penemuannya dengan WHO dikarenakan kerahasian.

Dr. Druce mengatakan, para ilmuwan di institut telah bekerja keras untuk memahami lebih banyak tentang penyakit yang telah merenggut setidaknya 170 nyawa di Cina daratan dan menginfeksi 7.000 lebih orang di seluruh dunia.

“Kami telah merancang dan merencanakan latihan seperti ini selama bertahun-tahun. Inilah yang dibangun untuk Doherty Institute. Dan itulah mengapa kita bisa mendapatkan jawaban mulai Jumat hingga (Rabu) diagnosis, deteksi, pengurutan, dan isolasi.”

Wakil direktur Doherty Institute Dr. Mike Catton mengatakan penemuan duplikasi virus Corona di laboratorium sangat penting. (Foto:ABC/Loretta Florance)

Menurut Dr. Catton, yang juga merupakan patolog yang mengawasi di The Doherty Institute, mengatakan fasilitas ilmiah Australia telah siap menghadapi wabah seperti virus Corona.

“Virus ini memenuhi syarat sebagai tiga dari empat, jadi itu adalah virus tingkat tiga dan itu berdasarkan pemahaman kami tentang SARS (sindrom pernafasan akut yang parah) dan MERS (sindrom pernafasan Timur Tengah), yang merupakan sepupu dekatnya,” kata Dr. Catton.

“Ini berbahaya, memang membunuh beberapa orang, tetapi tidak mematikan seperti yang dilakukan virus seperti Ebola.”

Namun, dirinya mengatakan diagnosa awal wabah coronavirus sangat penting, karena memberi otoritas kesehatan di seluruh dunia kesempatan yang lebih baik untuk menahan penyebarannya, atau paling tidak, tingkat keparahannya.

“Saya masih mengatakan waspada, namun kita tidak khawatir,” kata Dr. Catton.
“Kami berbagi pandangan otoritas kesehatan nasional, bahwa kemungkinan akan ada kasus di Australia. Itu tidak terjadi dengan SARS, yang merupakan virus serupa,”

“Saya pikir kira-kira 150 juta kunjungan lebih banyak setiap tahun dari China ke negara-negara seperti Australia daripada waktu itu,”

Kepala petugas medis, Brendan Murphy, turut mengatakan belum ada penularan virus Corona dari manusia ke manusia di Australia. Mereka yang menderita penyakit virus Corona langsung dirawat dalam isolasi dan semua pasien di Australia dalam kondisi stabil. (*)

Sumber: Tempo.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here