Senyawa Cannabinoid pada Ganja Berperan Penting Bagi Penyembuhan?

Ilustrasi obat berbahan dasar ganja. (Foto: lgn.or.id)

NOTIF.ID, HEALTH – Kandungan senyawa ganja untuk keperluan medis menurut Lingkar Ganjar Nusantara (LGN) memiliki 483 konstituen kimia yang berbeda. 66 diantaranya disebut cannabinoid.

Cannabinoid merupakan kandungan aktif dalam ganja atau mariyuana, atau yang dikenal dengan istilah tetrahydrocannabinol (THC). Senyawa yang dapat merangsang kemampuan penyembuh dalam tubuh sehingga bisa melawan keganasan sel kanker.

Senyawa THC ganja sangat berperan penting dalam menentukan kualitas pada ganja sebagai obat. Namun, bukan berarti ada 66 efek/interaksi cannabinoid yang berbeda-beda. Dikatakan, bahwa senyawa ganja merupakan yang paling jelas manfaatnya untuk keperluan medis.

Dilansir dari lgn.or.id, yang dikutip dari artikel marijuanadoctors.com, berikut Senyawa pada ganja yang bermanfaat bagi kebutuhan medis:

  • THC (Delta-9 tetrahydrocannabinol)

THC merupakan senyawa yang paling aktif dalam psikologis ganja, dan juga salah satu terapi bagi para penggunanya. THC memiliki efek analgesik (penghilang rasa sakit), sifat anti-spasmodik (mencegah/menghilangkan kejang-kejang), anti-getaran, anti-inflamasi (mencegah pembengkakan), perangsang nafsu makan dan anti muntah yang digunakan untuk berbagai penyakit.

Baca Juga:   Warga Negara Afrika Selatan Ini Nekat Sembunyikan Sabu Seberat 1,5 Kg di Celana Dalamnya

THC dapat diterapkan pada penderita yang mengalami gangguan makan, efek samping dari kemoterapi, multiple sclerosis (penyakit autoimun yang mempengaruhi otak dan sumsum tulang belakang-sistem syaraf pusat-), spasticity (kontraksi konstan dan tidak diinginkan dari satu atau lebih kelompok otot sebagai hasil dari stroke atau lainnya ke otak atau sumsum tulang belakang) , kejang-kejang dan lain-lain.

Selain itu, THC telah diketahui untuk mengurangi pertumbuhan tumor dan mengurangi perkembangan aterosklerosis (penyempitan pembuluh darah yang disebabkan oleh kelebihan lemak di dinding arteri) pada tikus.

  • (E)–BCP (Beta-caryophyllene)

(E)-BCP merupakan komponen anti-inflamasi alami dan kuat yang juga ditemukan dalam makanan seperti lada hitam, oregano, kemangi, jeruk nipis, kayu manis, wortel, dan seledri.

Tak seperti THC, cannabinoid jenis ini tidak mempengaruhi otak, yang berarti tidak menghasilkan efek psikotropika. Para peneliti mengatakan (E)-BCP bisa menjadi pengobatan yang efektif untuk nyeri, arthritis (peradangan sendi), sirosis [peradangan & fungsi buruk pada hati], mual, osteoarthritis (penyakit sendi), aterosklerosis (suatu kondisi di mana dinding arteri menebal sebagai akibat dari kelebihan lemak seperti kolesterol), dan penyakit lainnya tanpa membuat pasien merasa “tinggi”.

  • CBC (Cannabichromene)
Baca Juga:   Dua Pemuda Peracik dan Penjual Tembakau Sintetis Mengandung Narkotik Dibekuk Satresnarkoba Polres Cimahi

Sering kali, cannabinoid saling bekerja sama untuk menciptakan sifat penyembuhan pada ganja. CBC adalah contoh baik dari hal tersebut, karena CBC mendorong efek dari THC. CBC juga memiliki efek sedatif dan analgesik.

  • CBD (Cannabidiol)

CBD adalah komponen non-psikoaktif ganja, yang berarti tidak memabukkan. Hal ini diyakini bahwa kehadiran CBD didalam ganja dapat menekan efek euforia* dari THC (*keadaan mental dan emosional didefinisikan sebagai rasa yang damai/santai).

CBD memiliki sifat anti-inflamasi, anti-biotik, anti-depresan, anti-psikotik, anti-oksidan, penenang, imunomodulator (penyesuaian sistem imun), dan juga untuk meredakan kejang, radang, gelisah, dan mual. CBD perlu bekerjasama dengan THC untuk mengobati nyeri kronis. Pada tahun 2001, GW Pharmaceuticals menemukan bahwa hanya kombinasi dari CBD dan THC-lah yang menawarkan efek analgesik pada pasien. Jika digunakan secara terpisah, CBD atau THC tidak terlalu efektif mengobati sakit kronis seperti jika mereka digunakan secara bersamaan.

  • CBG (Cannabigerol)
Baca Juga:   Seorang Mahasiswa yang Berunjuk Rasa di Depan Gedung DPRD Jabar Positif Konsumsi Ganja

CBG merupakan cannabinoid pertama yang diproduksi oleh tanaman ini. CBG adalah pencetus biogenetis dari semua senyawa ganja.

CBG memiliki efek sedatif dan sifat antimikroba, dan menyebabkan rasa kantuk. Studi menunjukkan bahwa CBG dapat mengurangi tekanan intraokular (tekanan cairan pada mata) pada pasien glaukoma (pasien yang mengalami gangguan mata di mana saraf optik mengalami kerusakan pada penglihatan yang permanen dan bisa mengakibatkan kebutaan jika tidak diobati) dan berkontribusi terhadap sifat antibiotik pada ganja itu sendiri. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here