Ratusan Orang Mengungsi Akibat Banjir di Bandung Selatan yang Tak Kunjung Surut

Warga tengah mencoba menerobos genangan air banjir yang merendam ribuan rumah warga di wilayah Bandung Selatan.(ist)

NOTIF.ID, KABUPATEN BANDUNG – Wilayah Bandung Selatan kembali tergenang banjir, akibat intensitas hujan deras yang cukup tinggi sejak hari Kamis 23 Januari 2020 di wilayah Kabupaten Bandung.

Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Bandung H. Akhmad Djohara menyebutkan, sampai hari Minggu 26 Januari 2020 pukul 18.00, sebanyak 11.659 kepala keluarga (KK) dan 40.844 jiwa dari 4 kecamatan terdampak banjir tahunan itu.

Dari total jumlah KK dan jiwa terdampak, tercatat sebanyak 208 KK, 695 jiwa, 51 lansia, 39 balita, 3 ibu hamil, 5 ibu menyusui dan 1 disabilitas, berada di beberapa titik pengungsian di Kecamatan Baleendah dan Dayeuhkolot.

“Di Baleendah, terdapat beberapa titik pengungsian, antara lain Gedung eks-Inkanas, Gedung shelter Parunghalang dan SDN Cibadak. Ada juga yang menempati kantor RW dan masjid,” kata Ajo sapaan akrabnya via pesan singkat, Senin 27 Januari 2020.

Di Desa Dayeuhkolot, Kecamatan Dayeuhkolot, para pengungsi tersebar di beberapa titik, antara lain aula desa dan masjid-masjid. Sedangkan di Desa Citeureup, pengungsi menempati kantor RW, masjid, posyandu dan rumah toko (ruko) warga.

“Untuk wilayah Majalaya dan Rancaekek tercatat tidak ada pengungsi, sedangkan untuk Bojongsoang, sampai saat ini masih dilakukan pendataan,” ucap Ajo.

Dia mengatakan, banjir paling parah berada di RW 04 Kp. Bojongasih Desa Dayeuhkolot dan RW 13 Kp. Ciputat Kelurahan Andir, dengan Tinggi Muka Air (TMA) 60 hingga 200 sentimeter.

Dilaporkan juga, beberapa akses jalan yang tidak bisa dilalui, antara lain Jalan Raya Banjaran-Bandung dengan TMA 30-40 cm, Jalan Raya Bandung-Ciparay dengan TMA 10-50 cm dan Jalan Raya Andir-Katapang dengan TMA 30-70 cm.

“Pusdalops (Pusat Pengendalian Operasi) terus melaporkan update data satu kali 24 jam. Personil kami di lapangan, bersama ┬ámuspika (musyawarah pimpinan kecamatan), aparat desa/kelurahan dan para relawan penggiat kebencanaan, melakukan assessment dan evakuasi warga terdampak banjir di empat kecamatan tersebut,” tutur dia.

Pihaknya juga terus berkoordinasi dengan BPBD Provinsi dan Badan Search and Rescue Nasional (Basarnas). Koordinasi lintas sektor dengan perangkat daerah dan instansi terkait lainnya juga terus berjalan.

“Dinkes (Dinas Kesehatan) membuka posko dan melakukan piket petugas kesehatan di tiap kecamatan terdampak. Untuk penyaluran logistik, kami bekerjasama dengan Dinsos (Dinas Sosial). Sedangkan untuk penanganan bencana, kami berkoordinasi dengan Satpol PP, PMI, TNI dan Polri,” ujarnya.

Terkait logistik, sampai saat ini pihaknya telah menyalurkan 30 paket mkanan siap saji, 58 dus air mineral, 37 dus mi instan, 51 paket sembako, 78 lembar selimut dan 59 lembar matras.

“Khusus untuk pembersihan material paska banjir di Kecamatan Paseh, kami telah menyalurkan 48 buah slaber karet, 72 buah sikat gagang panjang, 84 botol pewangi lantai dan 400 lembar karung,” kata dia.

Perahu untuk kebutuhan evakuasi pun disiapkan pihaknya di beberapa titik banjir. Antara lain sebanyak 5 unit perahu karet, 7 unit perahu fiber dan 3 unit perahu aluminium. “Selain itu juga, kami siapkan 2 unit tenda peleton yang dapat difungsikan sebagai shelter,” kata dia.

Sementara Dinsos, ujar Ajo, telah menyalurkan sebanyak 900 kg beras, 890 dus mi instan, 160 paket peralatan mandi, 50 dus air mineral, 32 paket kids ware, 108 pouh minyak goreng, 40 buah kasur, 30 lembar selimut, 10 lembar terpal dan 50 paket makanan anak.

“Logistik untuk seluruh wilayah terdampak banjir, kami upayakan terlayani. Bila masih ada daerah yang belum tersentuh, bisa menghubungi pusdalops BPBD melalui telpon (022) 85872591,” kata Akhmad Djohara.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here