Kiprah Trie Utami Bersama Krakatau dalam Eksistensi Bermusik Lewat Cipta, Rasa dan Karsa

Krakatau Band. (foto: Dok. dionmomongan)

NOTIF.ID, MUSIK – “Ku memang primadona, Ku memang ratu pesta …” Secarik Lirik lagu La Samba Primadona (Second Album, 1988) yang populer dibawakan oleh band Krakatau seakan mengingatkan kembali ke masa-masa musik era tahun 80 dan 90 an.

Walaupun era mereka sudah lewat puluhan tahun lalu, namun karya-karyanya seperti La Samba Primadona, Kau Datang, Gemilang, Sekitar Kita, dan banyak lagu lainnya tetap membekas hingga kini.

Trie Utami dan Krakatau kala itu memang sangat populer di kalangan remaja. Bahkan hingga saat ini, beberapa lagu lawas mereka masih diaransemen ulang untuk dinyanyikan kembali oleh musisi-musisi milenial.

Band legendaris ini terdiri dari Trie Utami, Gilang Ramadhan, Dwiki Dharmawan, Donny Suhendra, Indra Lesmana, dan Pra Budidharma.

“La Samba Primadona” Ciptaan band Krakatau asal Bandung ini pertama kali diperkenalkan dan dinyanyikan oleh Trie Utami atau yang akrab di panggil Teh I’ie, penyanyi kenamaan yang sudah malang-melintang di jagat musik tanah air.

Memulai karirnya di era 1987, dirinya bersama Krakatau menjadi band favorit di kala itu. Dimana album Krakatau merajai pemasaran di seluruh Toko kaset di Indonesia. Tak Lupa, seolah mengembalikan ingatan kita pada kejayaan dimana radio dan kaset menjadi hiburan paling membahagiakan.

Band Krakatau merupakan sebuah rekor, dimana sebuah grup band bergenre jazz fushion yang penjualannya mencapai ratusan ribu copy, bahkan 1 juta copy untuk Mini Album Single Hits dengan lagu “Kau Datang”.

Perjalanan Panjang Dunia Panggung

Mengenal musik sejak kecil, pemilik nama Trie Utami Sari memang akrab dengan berbagai lagu Klasik seperti dengan suara Pat Bone, Glenn Muller, Perry Como yang diputar di piringan hitam.

Dirinya sudah mengikuti pendidikan sejak 1972, dan mulai berlatih Piano bersama kedua kakaknya, yakni Purwa Tjaraka dan Thea Ika Ratna hingga mengikuti pendidikan musik di Bina Mustika Bandung pada tahun 1978.

Tontonan kesukaannya pada masa Teh I’ie kecil ialah acara ‘Bintang Kecil” di TVRI yang dibawakan oleh ibu Kasur, bu Sud, dan A.T. Mahmud.

Pertama kali ia muncul di layar kaca pada saat mengikuti kompetisi menyanyi untuk anak SD dalam acara ‘Ayo Menyanyi’ di TVRI pada tahun 1977. Berjalannya waktu, Ia kerap mengikuti banyak lomba menyanyi. Hingga pada akhirnya, Teh I’ie kecil pun sering mendapatkan Job Order sebagai bintang tamu untuk menyanyi di TVRI Jakarta.

Trie Utami. (Foto: net)

Beranjak SMA, Teh I’ie mulai mendalami bakat menyanyinya mendampingi sang kakak Purwa Tjaraka dan Thea secara rutin di salah satu restoran di kawasan Bandung. Ia juga sempat mengisi Lead Vocalist bersama Kahitna, dan menjadi presenter radio di Radio Dee Day kemudian Radio OZ di Bandung.

Tekadnya yang bulat mendalami musik, seusai lulus SMA, Teh I’ie melanjutkan sekolah musik di Amerika Serikat. Namun, ia memilih tidak melanjutkan sekolahnya di Amerika karena permasalahan biaya di masa itu.

Namun, Kekeuh tak mau kalah juang, ia makin menjadi-jadi mengasah kemampuan bermusiknya dengan berlatih keyboard, saksofon, dan membuat aransemen lagu untuk kelompok Drum Band GWDC di Bandung.

Dikutip dari Fimela.com, Trie Utami mulai dikenal banyak publik ketika ia memulai profesinya bersama Krakatau yang mengusung genre jazz fusion menggantikan posisi Ruth Sahanaya.

Namanya mencuat ke permukaan, ketika ia menjuarai ‘Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors’ pada tahun 1987, dengan membawakan lagu “Keraguan”, karya Edwin Saladin dan Adelansyah serta menyabet kejuaraan Festival Penyanyi Lagu Populer Indonesia, pada tahun 1989.

Segudang Prestasi yang Diraih

Bersama dengan grup quartetnya yakni ‘Rumpies’, Trie Utami bersama Vina Panduwinata, Malyda dan Atiek CB sempat mencetak Top Hits dengan lagunya “Nurlela” pada akhir era 80 an dan awal 90 an. Pencapaian itu juga dibarengi dengan beberapa album yang sempat ia rilis di era 90 an.

Cover Album Rumpies. (Foto: Kasetlalu)

Tak hanya itu, Ia juga berprestasi dan aktif mengikuti kejuaraan festival musik di dalam negeri maupun Internasional. Seperti, runner up dalam ‘ABU (Asia Pasific Broadcasting Union) Golden Kite World Song Festival’ di Kuala Lumpur, sebagai Best Performer on TV, dan BASF Award Winner.

Teh I’ie juga meraih Grand Prix Winner di ajang ‘The Golden Stag International Singing Contest’ di Brasov, Rumania, pada 1991. Ia juga dinobatkan sebagai pemenang dalam ‘ABU International Anthem’ di Bangkok (2000), serta terpilih sebagai Penyanyi Jazz Wanita Terbaik versi News Music. Sebagai pencipta lagu, Teh I’ie pun terpilih sebagai composer terbaik untuk lagu anak-anak versi AMI (Anugerah Musik Indonesia) di 2004.

Cinta Lingkungan dan Budaya

Dikutip dari kr.Jogja, pada Rabu, 01 Januari 2020. Teh I’ie menjadi salah satu pengisi acara pada pergantian tahun baru di Sleman City Hall bersama Kunto Aji dan DJ Avisha.

Sebelum tampil, Teh I’ie juga sempat menuturkan dirinya tengah mempersiapkan proyek Culture Hubs Borobudur. Kepedulian Teh I’ie terhadap Candi Borobudur diungkapkan melalui media musik. Banyaknya relief yang menggambarkan berbagai jenis alat musik membuktikan bahwa Indonesia kaya akan budaya termasuk musik.

Di usianya yang tak lagi muda, sosok Trie Utami tak kalah menghibur dan tampil energik di atas panggung pergantian tahun di Sleman City Hall. Dengan melantunkan delapan lagu Hits andalannya, seperti La Samba Primadona, La Bamba dan Mungkinkah Terjadi. Membuat penonton terbius bernostalgia menyanyikan lagu-lagu hitsnya saat dinyanyikan.

Trie Utami di JTF 2015. (foto: Julajuli.com)

Sedikit bocoran untuk para penggemarnya, saat ini ia bersama Krakatau tengah mempersiapkan album teranyar yang direncanakan bakal rilis Maret mendatang.

Lengkap dengan para personelnya, Krakatau Reunion akan menyajikan materi lagu baru yang didedikasikan untuk lingkungan hidup dan didukung oleh grup orkestra asal Cekoslowakia.

“Bulan Maret nanti itu Krakatau Reunion akan mempublish, melaunching album kedua, chapter 2-nya. Khusus untuk lingkungan hidup, dedicated untuk lingkungan hidup,” kata Tri Utami, dikutip dari kapanlagi.com, pada Minggu, 06 Januari 2020.

Sesuai dengan namanya, grup musik mengusung genre jazz fushion dan etnik ini terinspirasi dari gunung Krakatau. Dimana perhatian Teh I’ie melihat persoalan lingkungan yang masih terus dihadapi serta Keprihatinan yang membuatnya harus ikut andil dalam menjaga lingkungan, salah satunya dengan membangun kesadaran baru. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here