Digitalisasi, Gadget, dan Rencana Pola Pendidikan di Kabupaten Bandung

  • Whatsapp
Ilustrasi digitalisasi di dunia pendidikan.
Perkiraan waktu baca: 6 menit

NOTIF.ID, KABUPATEN BANDUNG – Disdik Kabupaten Bandung menyambut baik kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadeem Makarim mengenai adanya improvisasi pembelajaran di dunia pendidikan. Pasalnya, kebijakan Nadeem Makarim tersebut dinilai sebagai gaung kemerdekan proses belajar para siswa.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung, Juhana mengatakan, pada dasarnya kebijakan yang dikeluarkan oleh Mendikbud tersebut sudah sejalan dengan sejumlah program Disdik Kabupaten Bandung yang telah disiapkan dari beberapa tahun sebelumnya. Seperti pembangunan yang mengacu pada Renstra pendidikan yang dijabarkan dalam Renja Pendidikan.

Read More

“Tentunya pembangunan pendidikan ini berdasarkan RKPD dan RPJM yang telah disusun oleh Bappeda. Dan ini tentu merupakan turunan dari bidang pendidikan yang sudah digaungkan di tingkat nasional dan regional,” ujar Juhana di ruang kerjanya, Selasa 14 Januari 2020.

Sementara itu, di tahun 2020 ini Disdik Kabupaten Bandung memiliki fokus khusus yang berkutat pada kualitas dan tata kelola pendidikan dengan dasar sasaran Aksesibilitas, Kualitas dan Tata Kelola. Sehingga hal itu sejalan dengan kebijakan dari Mendikbud.

Menurut Juhana, kemerdekaan belajar yang ditelurkan Mendikbud bisa ditafsirkan sebagai sebuah proses membelajaran yang fokus kepada kepentingan anak. Seluruh perencanaan dan administrasi, sarana dan prasarana, harus difokuskan pada kepentingan belajar anak.

“Anak-anak didik baik SD dan SMP ini, kan, lahir di era digital. Sedangkan guru merupakan pendatang era digital karena rata-rata lahir di tahun 70-an. Kemerdekaannya, guru harus beradaptasi dengan zaman digital. Jadi kemerdekaan belajar ini bagaimana caranya guru fokus pada kepentingan belajar anak,” ucap dia.

Menurut dia, adaptasi guru kepada anak didik ini sudah sejalan dengan pemikiran Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang mengatakan agar mendidik anak sesuai dengan zamannya. Maka dari itu, guru haruslah memanfaatkan teknologi, informasi dan komunikasi (TIK) untuk proses pembelajaran anak didik.

“Model dengan menggunakan TIK ini sudah dicoba di sejumlah SD dan SMP yang ada di Kabupata-en Bandung. Model ini menurut penghitungan kami cukup efektif dan efisien. Selain pembelajaran ini bisa dilakukan dengan cepat, anak juga bisa beradaptasi dengan cepat menggunakan sistem TIK,” kata dia.

Gadget Harus Digunakan untuk Kepentingan Belajar

Juhana menuturkan, pemanfaatan gadget untuk pembelajaran memang tengah digaungkan di sejumlah sekolah di Kabupaten Bandung. Bahkan, kata dia, ada beberapa sekolah yang sudah memanfaatkan gadget bersistem android untuk kepentingan evaluasi pendidikan. Mulai dari ulangan, pengerjaan PR, hingga laporan hasil pembelajaran siswa. Kendati demikian, Juhana mengatakan penggunaan gadget oleh siswa sebagai bentuk kemerdekaan pembelajaran di era digital jangan disalah artikan.

“Kemerdekaan ini seusai pada koridor bukan berarti kebebasan. Boleh bawa hp ke sekolah tapi harus digunakan untuk  proses pembelajaran. Jadi gadget dibawa ke kelas selain untuk kepentingan pembelajaran tidak diperkenankan,” kata dia.

Terlebih, kata dia, di tahun 2020 ini seluruh sekolah akan melaksanakan UNBK. Juhana mengatakan, pola pembelajaran dengan menggunakan TIK di sejumah sekolah di Kabupaten Bandung tersebut sangat menunjang keberhasilan siswa agar lulus UNBK. Ia sendiri berharap bahwa 100 persen sekolah di Kabupaten Bandung bisa memanfaatkan TIK sebagai alat pembelajaran di tahun ini.

“Ini bukan mengada-ada. Kita harus beradaptasi dengan alamnya. Zamannya anak-anak. Model pembelajaran berbasis TIK menurut saya merupakan keniscayaan,” tuturnya.

Untuk mensukseskan pencapaian target itu, kata dia, berharap masyarakat terutama orang tua siswa mendukung dan memahami kondisi pendidikan di era digital seperti ini. Ia berharap masyarakat bisa memberikan dukungan moril dan materil.

“Saya kira masyarakat jangan sungkan memberikan motivasi dan dukungan bantuannya, tentu dengan sesuai peraturan yang ada. Tidak dengan bentuk iuran atau pungutan liar. Kembangkan dengan bentuk sumbangan,” katanya.

Juhana juga mengimbau kepada kepala sekolah, guru, dan pengawas pendidikan untuk melaksanakan kebijakan yang telah digaungkan oleh Mendikbud. Pasalnya, ia yakin jika kebijakan Mendikbud bisa meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan di Indonesia. Sehingga SDM Indonesia kelak bisa bersaing dengan negara-negara maju di dunia.

“Presiden menyuarakan untuk fokus pembangunan dan peningkatan SDM. SDM berkualitas maka Indonesia akan maju,” kata dia.

Sudah diterapkan di Sejumlah Sekolah

Sejumlah sekolah di Kabupaten Bandung sudah menerapkan sistem TIK untuk proses belajar mengajar. Kendati demikian, banyak sekolah yang belum memiliki sarana dan prasarana memadai untuk melaksanakan UNBK di tahun 2020. Padahal, pembelajaran menggunakan TIK sudah dilakukan belakangan ini.

Salah satu sekolah yang telah menerapkan sistem TIK dalam proses belajar mengajar yakni SMP Bina Taruna Bojongsoang. Menurut Wakasek Kurikulum SMP Bina Taruna Bojongsoang, Tatang Sulaeman, di tahun ini untuk proses belajar mengajar SMP Bina Taruna sudah menggunakan aplikasi Google Class Room dan Rumah Belajar Kemendikbud.

“Dua aplikasi itu digunakan untuk mengerjakan tugas, PR, dan ulangan harian. Bahkan untuk aplikasi Rumah Belajar Kemendibud sendiri sudah kami gunakan sejak tahun lalu untuk pelajaran matematika,” ujar Tatang.

Meski begitu, Tatang tak menampik jika untuk pelaksanaan UNBK SMP Bina Taruna masih kekurangan komputer. Untuk itu, mereka akan bergabung ke SMK Telkom untuk melaksanakajn UNBK yang rencananya akan digelar pada 20-23 April 2020.

“Sebelumnya kami hanya menggunakan UNKP bukan UNBK. Ini karena memang komputernya kurang. Dari 18 komputer yang nyala hanya 7 unit. Jumlah siswa sendiri 133 orang. Tentu kekurangan komputernya sangat banyak,” kata dia.

Meski pelaksanaan UNBK baru pertama kali diikuti SMP Bina Taruna, namun ia optimistsis para siswa akan bisa melaksanakan UNBK dengan baik. Pasalnya, banyak siswa yang telah terbiasa menggunakan sistem TIK. Salah satunya penggunaan gadget yang diperuntukkan untuk proses belajar mengajar. “Mereka sudha bhisa dan terbiasa menggunakan sistem TIKb. Toh, sebelum pelaksanaan UNBk, kan, ada pelatihan dan sosialisasi. Jadi saya optimistis sekali,” kata dia.

Penggunaan sistem TIK nampaknya juga telah diaplikasikan oleh SMP Labschool UPI Kampus Cibiru. Bahkan, penggunaan sistem TIK di SMP tersebut malah sudah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir. Salah satunya yang paling menonjol adalah persiapan pelaksanaan UNBK dengan menggelar Try Out (TO) menggunakan gadget berbasis android.

Menurut Wakasek SMP Labschool UPI Kampus Cibiru Saeful Uyun, selama proses belajar mengajar menggunakan sistem TIK tidak ditemukan adanya kendala. Bahkan, kata dia, para siswa lebih antusias untuk belajar. Apalagi rata-rata siswa SMP tersebut memiliki gadget berbasis android.

“Mereka bisa mengakases soal-soal dan mengisi soal itu melalui apliaksi menggunakan gadget. Mereka hanya duduk di kelas dan mengakases soal melalui hp yang sudah disebar melalui tim dari sekolah ini,” kata dia.

Hal senada juga dikatakan, Kepsek SMP Labschool UPI Kampus Cibiru, A.J Jamaludin. Menurutnya, pengembangan aplikasi tersebut memang ditujukan untuk persiapan pelaksanaan UNBK, disamping memang digunakan untuk ulangan harian dan penilaian tengah dan akhir semeter para siswa.

“Aplikasi yang kami kembangkan ini hanya bsia dibuka jika siswa tidak membuka Aplikasi lain. Aplikasi ini terkunci saat digunakan. Jika siswa menutup aplikasi ini, maka saat ulangan dianggap telah selesai,” kata dia.

Menurut dia, pengembangan aplikasi tersebut sejalan dengan visi sekolah, yakni berbudaya terhadap lingkungan. Artinya, pengembangan aplikasi tersebut  dapat mengurangi penggunaan kertas, lebih mendekatkan siswa terhadap literasi digital, dan mendisiplinkan anak kepada penggunakan teknologi. Sehingga anak bisa menggunakan teknologi secara tepat guna untuk pembelajaran.

Jamaludin pun menuturkan jika siswa tidak setiap hari membawa gadget ke sekolah. Membawa gadget ke sekolah hanya jika dianjurkan oleh para guru jika ada kegiatan pembelajaran yang memang harus menggunakan aplikasi dan kepentingan riset. Pasalnya, SMP tersebut lebih banyak menitikberatkan terhadap pengembangan dan penguatan karakter siswanya. Selain itu, siswa juga digenjot untuk menggali potensi enterpreneurship-nya.

“Karakter diutamakan adalah penguatan budaya anak, mulai dari kejujuran, sopan santun, menghargai, kerja keras, penambahan di bidang enterpreneuship. Oleh karena itu penggunaan gadget hanya untuk pendukung proses pembelajaran di era digital ini,” kata dia.

Perlu Diirencanakan dengan Matang

Pengamat Pendidikan yang juga Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Prof Cecep Darmawan menuturkan, ide dan rencana Disdik Kabupaten Bandung dinilai cukup baik. Kendati demikian, ia menyarankan agar ide tersebut dibarengi dengan kesiapan infrastruktur yang memadai.

Menurutnya, keinginan pemerintah dalam hal ingin memajukan SDM tersebut harus betul-betul terencana dengan matang. Penyediaan fasilitas, kata dia, menjadi hal yang perlu diprioritaskan. Jangan sampai, rencana baik tersebut pincang dalam upaya realisasinya.

“Jangan ada SMP yang terlewat (penyediaan fasilitasnya). Kaji juga program e-Learningnya. Mau seperti apa, itu harus diselaraskan untuk jadi pedoman,” katanya kepada Notif saat ditemui.

Selain itu, kata dia, guru juga harus dipersiapkan dan diberi pelatihan agar terbiasa mengajar dengan program e-Learning. Sebab, guru menjadi ujung tombak keberhasilan ide tersebut.

Ketika semua indikator ini dioptimalkan, kata dia, apakah ada jaminan jika siswa menjadi lebih baik dan berkualitas. Oleh karena itu, perlu melibatkan peran sejumlah stake holder lain, seperti aktivis pendidikan agar program tersebut sesuai dengan apa yang diharapkan.

“Kalau pembiayaan dan penganggaran sarana dan prasarana tidak menunjang, jangan dipaksakan secara serentak. Tapi dilakukan bertahap. Misal, didahulukan sekolah yang beprestasi sebagai bentuk reward. Lalu sisanya (sekolah lainnya) menyusul,” kata dia.

Menurut Cecep, digitalisasi di pendidikan memang sangat penting di era 4.0 ini. Pasalnya, hampir seluruh siswa sekarang sudah mahir untuk menggunakan gadget. Kondisi saat ini, seluruh siswa bahkan bisa dikatakan telah melek teknologi dan IT.

Hadirnya rencana digitalisasi pendidikan di Kabupaten Bandung, ujarnya, dinilai bisa menjadi inovasi pembelajaran yang lebih segar dan fleksibel.  Pembelajaran tidak hanya dilakukan di ruang kelas saja. Dampak positif belajarnya bahkan tidak tersekat-sekat. Guru dan siswa akan lebih maju dengan program digitalisasi ini.

“Ini sebetulnya memudahkan rencana Disdik Kabupaten Bandung itu sendiri. Tapi sarana dan prasarana penunjangnya yang perlu diperhatikan lagi,” kata dia.(put/ell)

 

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *