Selain Ikan, Ini ‘Harta Karun’ yang Bikin Panas Dingin RI-China di Natuna

Sengketa perairan Natuna antara Indonesia dengan China. (Foto: M Risyal Hidayat/ANTARA).
Sengketa perairan Natuna antara Indonesia dengan China. (Foto: M Risyal Hidayat/ANTARA).

NOTIF.ID, NASIONAL – Natuna memang menyimpan beragam potensi hasil laut, mulai dari cumi-cumi, lobster, kepiting, hingga rajungan sehingga banyak dilirik oleh negara tetangga bahkan dunia.

Namun siapa sangka dari potensi sumber daya ikannya yang melimpah, ternyata Natuna juga menyimpan ‘harta karun’.

Dilansir dari Kompas.com, Anggota Komisi I DPR Sukamta mengatakan, pihaknya khawatir jika kepentingan China datang ke Natuna bukan hanya mencari ikan saja, melainkan juga mengincar sumber daya lain yang ada di bawah laut.

“Yang kami khawatirkan China membuat cover bahwa itu nelayan, tetapi boleh jadi kepentingan China selain ikan, yaitu sumber daya yang ada di bawah lautnya,” kata Sukamta dalam diskusi bertajuk “Kedaulatan RI atas Natuna” di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, pada Senin, 13 Januari 2020.

Kapal-kapal China yang masuk dinyatakan telah melanggar zona ekonomi eksklusif (ZEE) Indonesia dan melakukan kegiatan Illegal, Unreported, and Unregulated Fishing (IUUF).

Selain itu, Coast Guard China juga dinyatakan melanggar kedaulatan di perairan Natuna karena China mengklaim sepihak.

Dikutip dari Detik.com, data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) pada Senin 6 Januari 2020. Mengatakan bahwa total produksi minyak dari blok-blok yang berada di Natuna adalah 25.447 barel per hari.

Sementara untuk cadangan minyaknya saja diperkirakan mencapai 36 juta barel. Selain minyak, Natuna juga memproduksi gas bumi tercatat sebesar 489,21 MMSCFD.

Wilayah Natuna juga punya blok gas raksasa terbesar di Indonesia yaitu blok East Natuna yang sudah ditemukan sejak 1973. Volume gas di blok East Natuna bisa mencapai 222 TCF (triliun kaki kubik). Tapi cadangan terbuktinya hanya 46 TCF, jauh lebih besar dibanding cadangan blok Masela yang 10,7 TCF.

Sayangnya, kandungan karbondioksida di blok tersebut sangat tinggi, bisa mencapai 72%. Sehingga perlu teknologi yang canggih untuk mengurai karbon tersebut.

Eksplorasi minyak lepas pantai. (Foto: shutterstock via Suara.com)
Eksplorasi minyak lepas pantai. (Foto: shutterstock via Suara.com)

Guna menjaga Natuna yang ‘seksi’, Presiden Jokowi sampai mengajak Jepang dan Amerika Serikat (AS) untuk berinvestasi di sana.

Presiden Jokowi sendiri sudah menawarkan langsung kepada Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi dan CEO International Development Finance Corporation (DFC) Adam Boehler saat melakukan pertemuan di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, pada Jumat 10 Januari 2020.

Menurut Staff Khusus Kementerian Kelautan dan Perikanan, Miftah Sabri, kerja sama dengan Jepang dan AS di antaranya proyek pembangunan sentra kelautan dan perikanan terpadu (SKPT) fase 2, pembangunan pelabuhan dan pasar ikan, peningkatan kapasitas untuk nelayan, pengawasan perikanan khususnya re-hibah kapal, pengembangan pariwisata, dan sektor energi.

“Amerika hampir sama. Ditambah dengan riset kelautan, konservasi alam dan oseanografi,” jelasnya.

“Ini garis besar, detailnya yang leading sector KKP diperintah presiden. Kita sedang siapkan,” katanya saat dihubungi detikcom, Jakarta, pada Sabtu 11 Januari 2020.

Temuan keramik dari masa Dinasti Qing atau dikenal sebagai Dinasti Manchu (abad 17-19 Masehi) di Teluk Buton, Natuna, Kepulauan Riau. (Foto: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional)
Temuan keramik dari masa Dinasti Qing atau dikenal sebagai Dinasti Manchu (abad 17-19 Masehi) di Teluk Buton, Natuna, Kepulauan Riau. (Foto: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional)

Perairan Natuna dari dahulu memang telah menjadi jalur perdagangan antar negara yang strategis. Dikutip dari CNBC Indonesia, Pada April 2015, lima artefak kapal dari abad ke-10 hingga ke-19 Masehi ditemukan di wilayah perairan Natuna.

Temuan tersebut menguatkan pemahaman bahwa Natuna merupakan titik penting dalam jalur pelayaran perdagangan internasional yang menghubungkan China dengan kawasan Asia Tenggara. Wajar saja jika Laut Natuna kerap membuat Indonesia-China panas dingin. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here