Fakta! Suhu Tubuh Normal Manusia Tak Lagi 37 Derajat Celsius

Ilustrasi suhu tubuh normal manusia, 37 derajat delcius.
Ilustrasi suhu tubuh normal manusia, 37 derajat delcius.

NOTIF.ID, HEALTH – Penelitian terbaru dari Stanford University yang berjudul “Decreasing human body temperature in the United States since the industrial revolution” menunjukkan suhu tubuh manusia telah turun dalam beberapa abad terakhir.

Penelitian ini telah dipublikasi di jurnal eLife pada 7 Januari 2020. para peneliti menyimpulkan, jika dibandingkan dengan suhu tubuh manusia di abad ke-19, suhu tubuh rata-rata perempuan dan laki-laki di AS turun sebesar 0,32 dan 0,59 derajat celcius.

Sebelumnya, dokter Jerman bernama Carl Reinhold August Wunderlich pada 1851 menetapkan standar normal suhu tubuh manusia berkisar di angka 37 derajat celsius.

Penemuannya kemudian menjadi tonggak dunia kesehatan dan diterima oleh banyak orang sebagai indikator apakah seseorang sehat atau tidak. Namun kini, suhu tubuh manusia normal kini hanya 36,6 derajat Celcius.

Dilansir dari Kumparan, Penelitian tersebut dilihat dari tiga dataset berbeda dari tiga periode sejarah. Data pada periode pertama adalah milik catatan dinas militer, catatan medis, dan catatan penghargaan dari veteran Union Army dari Perang Sipil Amerika yang dikompilasi dari tahun 1862 hingga 1930.

Data periode kedua diambil dari Survei Pemeriksaan Kesehatan dan Nutrisi Nasional AS yang dikumpulkan antara tahun 1971 dan 1975. Sedangkan data periode terakhir diambil dari pasien yang datang ke Stanford Health Care dari tahun 2007 hingga 2017.

Berdasarkan dataset dari ketiga periode tersebut, tim penelitian telah mendapatkan 677.423 suhu tubuh manusia. Setelah dibandingkan satu sama lain, mereka menemukan fakta bahwa suhu tubuh manusia semakin lama semakin dingin.

“Kami menemukan bahwa laki-laki yang lahir pada awal abad ke-19 memiliki suhu 0,59 derajat celcius lebih tinggi daripada pria saat ini, dengan penurunan monotonik -0,03 derajat celcius per dekade kelahiran. Suhu juga menurun pada wanita sebesar -0.32 derajat celcius sejak tahun 1890-an dengan tingkat penurunan yang sama (-0.029 derajat celcius per dekade kelahiran),”

“Meskipun orang mungkin berpendapat bahwa perbedaan ini mencerminkan bias pengukuran sistematis karena termometer bervariasi dan metode yang digunakan untuk mendapatkan suhu, kami percaya penjelasan ini tidak mungkin,” ungkap tim penelitian yang dipimpin oleh Julie Parsonnet, selaku professor of medicine and of health research and policy Stanford University.

Kesimpulan yang paling terkait dengan menurunnya suhu tubuh manusia adalah kemungkinan berkurangnya laju metabolisme karena faktor lingkungan. Perkembangan kesehatan masyarakat selama 200 tahun telah mengurangi timbulnya peradangan dan meningkatkan metabolisme.

Selain itu, dikatakan juga bahwa orang-orang hidup lebih nyaman di lingkungan yang lebih stabil ketimbang 200 tahun lalu, yang berarti bahwa tubuh manusia tak perlu bekerja keras untuk tetap hangat, sehingga suhu tubuh manusia rata-rata turun.

“Meskipun ada banyak faktor yang mempengaruhi laju metabolisme, perubahan dalam tingkat peradangan populasi tampaknya merupakan penjelasan yang paling masuk akal untuk penurunan suhu yang diamati dari waktu ke waktu,”

“Perkembangan ekonomi, peningkatan standar hidup dan sanitasi, penurunan infeksi kronis akibat cedera perang, peningkatan kebersihan gigi, berkurangnya infeksi tuberkulosis dan malaria, dan awal era antibiotik, bersama-sama cenderung mengalami penurunan peradangan kronis sejak abad ke-19,” kata para peneliti. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here