EKSKLUSIF: Mengintip Sisi Gelap Sumedang, Suburnya Bisnis Prostitusi di Kawasan Pendidikan Jatinangor

  • Whatsapp
Suasana Kawasan Pendidikan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Kamis 9 Januari 2020.(notif.id)
Perkiraan waktu baca: 16 menit

“Di sejumlah apartemen dan indekos, memang kami curiga ada kamar-kamar yang digunakan tempat maksiat oleh penghuninya. Banyak penghuni perempuan yang suka melayani pria hidung belang. Transaksinya melalui aplikasi online,” kata Erwin Ramdhani (39).

Jatinangor, merupakan sebuah kecamatan yang terletak di paling barat Kabupaten Sumedang. Jatinangor sendiri sudah cukup lama dikenal sebagai kawasan pendidikan di Jawa Barat. Banyak mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia yang mengenyam pendidikan di sana.

Meski dikenal sebagai kawasan pendidikan, Jatinangor ternyata tak lepas dari adanya praktik prostitusi. Bisnis haram di Jatinangor tersebut kini lebih cenderung ke arah prostitusi online. Semakin maraknya bisnis esek-esek di Jatinangor sendiri tak terlepas dari berkembangnya teknologi informasi dan ditunjang dengan banyaknya indekos dan apartemen.

Read More

Selama hampir dua minggu, Notif mencoba menelusuri dan menguak sisi gelap prostitusi di Jatinangor tersebut. Berbekal informasi dari sejumlah narasumber yang berhasil ditemui dan diwawancarai, Notif terus menggali fakta di lapangan mengenai bisnis haram tersebut.

Dari hasil penelusuran dan fakta yang diperoleh, Notif dibuat terkejut. Informasi dari sejumlah narasumber kepada Notif ternyata benar adanya. Bisnis prostitusi online tersebut memang benar-benar terjadi di Jatinangor. Lokasi eksekusi bisnis prostitusi online ini tak terpusat di satu tempat. Melainkan tersebar di berbagai titik. Baik di indekos, maupun di apartemen.

Untuk melakukan penelusuran fakta tersebut, Notif pun sebelumnya sempat bertemu AK (29), seorang narasumber yang mengaku sempat beberapa kali menggunakan jasa pekerja seks komersial (PSK) melalui aplikasi dating. AK pun mengajari Notif bagaimana cara melakukan transaksi di aplikasi dating tersebut.

“Rata-rata PSK yang menawarkan jasanya via online di Jatinangor ini menggunakan aplikasi dating. Ada tiga aplikasi dating yang cukup terkenal di kalangan penikmat dan penyedia jasa,” ujar AK kepada Notif, Jumat 20 Desember 2019.

Tiga aplikasi dating tersebut yaitu MiChat, WeChat dan Beetalk. Dari penuturan AK, ketiga aplikasi tersebut cukup mudah diunduh di Play Store maupun App Store, karena bukanlah aplikasi berbayar.

Setelah mendapat penjelasan singkat dan diajari bagaimana caranya bertransaksi, Notif kemudian mencoba mengunduh tiga aplikasi dating tersebut via Play Store. Setelah beberapa saat berselancar mencari penyedia jasa pemuas syahwat, akhirnya Notif berkesempatan berbincang dengan seorang PSK via aplikasi WeChat. Sebut saja PSK tersebut bernama Clara (bukan nama sesungguhnya).

Notif pun tak menggalami kesulitan menemukan perempuan yang dicurigai bahwa ia adalah seorang PSK yang menawarkan jasanya di aplikasi tersebut. Sesuai penjelasan dari AK, jika ada akun perempuan yang memajang status Open BO di aplikasi tersebut, perempuan tersebut sudah bisa dipastikan adalah seorang PSK.

Menurut AK, singkatan dari Open BO sendiri adalah Open Booking Order. Artinya, perempuan tersebut bisa dipesan untuk melayani dan memuaskan birahi sang pemesan.

Singkat cerita, setelah bernegosiasi mengenai kecocokan harga, Clara kemudian memberikan sebuah nomor WhatsAppnya kepada Notif. Clara meminta Notif menghubunginya via nomor tersebut. Tujuan Clara memberikan nomor WhatsApp karena ia tidak ingin jika calon tamunya hanya sekedar iseng bertanya-tanya soal harga dan jenis jasa apa yang akan didapatkan.

Clara sendiri mengaku seringkali mendapatkan calon tamu yang tidak serius menggunakan jasanya. Bisa dibilang, calon tamu hanya mempermainkan Clara. Terlebih, untuk menggunakan jasanya, Clara sendiri tidak meminta calon tamunya untuk memberikan uang muka atau DP (down payment) terlebih dahulu.

Chating pun berlanjut via WhatsApp. Setelah negosiasi berakhir dengan sebuah kesepakatan wawancara, Clara akhirnya meminta Notif menemuinya di salah satu apartemen di Jatinangor. Clara meminta Notif untuk menunggu di sebuah lift jika sudah tiba di apartemen tersebut. Sebab, Clara sendiri yang memegang akses lift tersebut.

“Halo, aku Clara. Yuk masuk,” ajak Clara dengan ramahnya saat pintu lift terbuka. Bibirnya nampak diolesi gincu merah. Rambut lurusnya terurai. Semerbak wangi parfumnya seketika memenuhi kotak lift saat Notif memutuskan ikut masuk ke dalam lift menuju kamar yang telah Clara sewa sebelumnya.

Setibanya di kamar, Clara kemudian bercerita. Ia memilih Jatinangor sebagai lokasi menawarkan jasanya karena masih belum banyak saingan. Jika di Kota Bandung, kata dia, sudah terlalu banyak PSK yang menawarkan jasa melalui aplikasi dating. Sehingga, jika ia menawarkan jasanya di Kota Bandung, belum tentu dalam sehari ia bisa mendapatkan tamu.

Di Jatinangor sendiri, kata dia, rata-rata tamu yang datang untuk menggunakan jasanya adalah mahasiswa. Malahan, ia mengaku memiliki pelanggan tetap sebanyak lima orang. Lima orang tersebut semuanya berstatus mahasiswa.

Dalam sekali kencan, perempuan berusia 26 tahun tersebut mematok harga Rp400 ribu untuk Short Time (ST). Ia juga menyediakan jasa Long Time (LT). Untuk LT, ia mematok harga Rp1,2 juta dengan durasi waktu sekitar 5 jam. Harga jasanya itu, kata dia, sudah termasuk sewa kamar.

Perempuan asal Majalaya, Kabupaten Bandung tersebut kemudian menceritakan kronologis awal terjunnya di bisnis prostitusi. Ia mulai bekerja seperti itu setelah tak lagi menjadi Sales Promotion Girl (SPG) salah satu produk rokok.

Baca Juga: Kesurupan Massal Warnai Kegiatan Tari Umbul Kolosal di Waduk Jatigede

“Awalnya aku nganggur. Terus memang kejadian waktu itu, papa aku sakit. Aku bingung harus cari uang kemana buat biaya berobat papa. Terus temen aku yang gay, nyaranin buat kerja seperti ini. Tapi tanpa mamih (germo),” kata sulung dari 3 bersauadara tersebut.

Setelah itu, Clara kemudian mendatangi temannya yang seorang gay itu. Oleh temannya itu, Clara diminta untuk mengunduh aplikasi WeChat dan Beetalk. Ia pun dituntun temannya itu cara membuat akun dan cara mempromosikan diri di kedua aplikasi dating tersebut.

Awalnya Clara mengaku takut bekerja seperti itu. Karena terpaksa, ia kemudian melakoninya tanpa pikir panjang. Terlebih, kata dia, kesuciannya juga sudah direnggut oleh mantan kekasihnya yang dulu. Sehingga, ia tidak lagi memikirkan masalah itu.

“Langsung aja tanpa pikir panjang. Disisi lain aku memang butuh uang. Disisi lain juga aku udah enggak masalahin keperawanan aku. Soalnya, masa depan aku sudah dirusak sama mantan aku dulu,” katanya.

Hingga saat ini, Clara belum merasakan penyesalan bekerja menjadi pemuas syahwat lelaki hidung belang. Kata dia, selain mudah mencari uang, bekerja menjadi PSK tidak perlu menggunakan keahlian khusus. Kendati demikian, ia sadar akan bahaya penyakit yang mengancam dirinya.

“Makanya aku kalau mau main, pasti nyuruh tamu pakai pengaman (alat kontrasepsi). Kalau enggak, ya, aku enggak mau lah,” ujarnya.

Clara sendiri mengaku tak hanya menggunakan aplikasi dating untuk menggaet calon tamu-tamunya. Selain aplikasi dating, ia juga memanfaatkan twitter sebagai alat menawarkan jasanya.

“Kalau yang udah kenal sama Clara, biasanya langsung kontak Clara dari WA,” kata dia.

Penelusuran Notif berlanjut pada Selasa 24 Desember 2019. Kali ini, Notif mencoba mencari PSK dari aplikasi Beetalk. Dari beberapa akun perempuan yang memasang status Open BO, Notif memilih salah satu PSK yang terang-terangan memajang fotonya. Sebut saja PSK itu bernama Cleo (bukan nama sebenarnya). Selain menulis Open BO, Cleo juga menambah tulisan di statusnya dengan tulisan Real Pict. Artinya, foto yang dipajang di akun miliknya adalah foto asli.

Seorang PSK yang menawarkan jasanya via aplikasi dating saat diwawancara Notif di salah satu kamar sewaannya di sebuah indekos di Jatinangor.(notif.id)

Tanpa basa basi, Notif pun kemudian mengirimkan jalinan pertemanan. Tak butuh waktu lama untuk Notif terhubung dengan akun milik Cleo. Sesaat menyapa, Cleo kemudian memberikan nomor WhatsAppnya ke Notif dengan membubuhi sebuah pesan tulisan, “Kalau serius pindah ke WA,” tulis Cleo di pesan singkat fitur aplikasi Beetalk.

Setelah mendapat pesan itu,  Notif akhirnya memutuskan menghubungi Cleo via nomor WhatsAppnya. Tak lama setelah Notif menyapa dan menanyakan berapa harga jasanya, Cleo kemudian merinci harga dan tempat dimana ia akan memberikan pelayanan jasanya.

“Di unit aku saja (apartemen) biar aman. Kalau ST Rp300 ribu, kalau LT Rp1,5 juta. Dijamin puas mas, gak nyesel,” tulis Cleo membalas pesan Notif.

Singkat cerita, setelah terjadi negosiasi dengan Cleo, Notif kemudian mendatangi Cleo di sebuah apartemen. Ternyata, apartemen yang digunakan Cleo sama seperti yang digunakan oleh Clara. Cara menjemput Notif untuk mengajak ke kamar yang Cleo sewa pun sama seperti yang Clara lakukan. Yakni menjemput Notif disebuah lift yang ada di apartemen tersebut.

Setelah bertemu Cleo langsung, Notif cukup kaget. Foto yang ia pajang di akun Beetalk ternyata memang foto dirinya sendiri. Cleo nampaknya cukup berani memajang wajahnya sendiri dan tidak merasa takut jika diketahui oleh orang yang mengenalnya.

Real, kan? Aku mah enggak bohong Aa,” kata perempuan berusia 23 tahun itu membuka obrolan setelah Notif tiba di dalam kamar sewaannya di apartemen tersebut.

Sesuai kesepakatan awal dengan Cleo, Notif kemudian langsung menghujani banyak pertanyaan. Ada banyak hal yang tak terduga yang Notif dapatkan dari hasil wawancara dengan Cleo. Salah satunya, ia terpaksa bekerja menjadi seorang PSK karena butuh biaya untuk menebus hutang orang tuanya yang mencapai lebih dari Rp500 juta.

“Siapa yang mau kerja seperti ini atuh? Kalau enggak kepaksa juga aku mah enggak mau. Kalau cicilan hutang orang tua enggak lancar, nanti aku, orang tua, sama adik aku mau tinggal dimana? Soalnya jaminannya rumah aku,” ujar Cleo sambil meneteskan air mata.

Perempuan asal Kota Bandung itu memang sengaja menjadwalkan diri untuk melayani nafsu birahi para hidung belang di Jatinangor. Dalam seminggu, setidaknya ia dua kali ke Jatinangor. Waktunya pun tidak tentu. Bisa akhir pekan, atau hari biasa. Ia ke Jatinangor jika memang sudah memiliki janji dengan para pelanggannya.

Jika ada waktu kosong setelah melayani tamunya, ia membuka penawaran via aplikasi dating. Dengan cara itu, Cleo juga bisa mendapatkan tamu lainnya selain tamu langganannnya. Di hari lain di luar jadwal di Jatinangor, ia biasa menawarkan jasanya di salah satu apartemen di kawasan Cihampelas, Kota Bandung.

Baca Juga: Tiga Apartemen di Jatinangor Berubah Fungsi Layaknya Hotel

Menurut pengakuannya, Cleo sendiri akan menghentikan pekerjaan haram itu jika hutang-hutang orang tuanya telah lunas. Ia bahkan berkeinginan untuk secepatnya menikah jika telah menemukan jodohnya.

“Sebenarnya dari pada seperti ini, aku mah kepengen nikah. Kalau nikah, kan, nanti suami pasti bantu masalah aku. Tapi masalahnya belum dikasih jodohnya,” ucap dia.

Indekos Dijadikan Tempat Prostitusi

Empat hari seusai menemui dan mewawancarai Cleo, Notif kembali melakukan penelusuran lagi. Kali ini, Notif mendapat informasi jika di Jatinangor terdapat sejumlah indekos yang telah beralih fungsi menjadi lokasi prostitusi terselebung. Dari informasi yang berhasil dihimpun Notif selama kurang lebih empat hari itu, sejumlah narasumber mengatakan indekos yang telah beralih fungsi menjadi lokasi prostitusi terselubung berada di Desa Hegarmanah dan Desa Sayang.

Untuk membuktikannya, Notif berpura-pura menjadi pelanggan dan mendatangi sebuah indekos di Desa Hegarmanah. Setiba di indekos tersebut, pemilik indekos langsung menawarkan sewa kamar berikut PSK-nya tanpa basa-basi. Untuk sewa kamarnya saja, Notif ditawari Rp 100 ribu sekali kencan. Untuk harga jasa PSK-nya juga cukup variatif. Mulai dari Rp300 ribu hingga Rp500 ribu sekali kencan.

“Ceweknya bawa sendiri? Atau mau dipanggilin sekalian? Kalau cuma sewa kamar Rp 100 ribu aja. Kalau ceweknya dari sini ada yang Rp300 ribu ada juga yang Rp500 ribu,” ujar Rahmawati (bukan nama sebenarnya) pemilik indekos kepada Notif, Sabtu 28 Desember 2019.

Pantauan Notif di lokasi, indekos tersebut cukup bersih dan terawat. Bangunan indekos tersebut memiliki dua lantai. Lantai bawah digunakan untuk tempat tinggal pemilik kos. Lantai duanya ada sejumlah kamar berjajar yang memang sengaja untuk disewakan. Namun, tidak ada satu pun penyewa indekos yang menetap di kamar di lantai dua itu.

Sepintas, indekos tersebut memang tak memperlihatkan digunakan sebagai lokasi prostitusi. Suasana di siang hari pun cukup sepi. Terlebih, lokasi indekos tersebut berada di tengah-tengah pemukiman padat penduduk.

Selain di Desa Hegarmanah, indekos serupa juga ada di Desa Sayang. Berbeda dengan di Desa Hegarmanah, indekos di Desa Sayang ini justru dihuni sejumlah perempuan berparas cantik. Di indekos ini, tampak tidak terlihat adanya penjagaan yang ketat. Penghuni bahkan tamu bisa leluasa keluar masuk indekos tersebut.

Berbekal informasi bdari nasarumber, Notif pun mendapatkan nomor handphone salah satu penghuni indekos tersebut. Sebut saja namanya Rosa (bukan nama sebenarnya). Di lokasi, tepatnya di warung kopi yang tak jauh dari indekos tersebut, Notif kemudian mencoba menghubungi Rosa. Tak butuh waktu lama, Rosa pun langsung menghampiri Notif. Sebab, ia memang sedang tidak ada tamu hari itu.

Notif kemudian diajak ke kamar Rosa. Di sana, Notif kemudian menanyakan harga jasa yang ditawarkan oleh Rosa maupun teman-teman Rosa yang juga penghuni indekos. Umumnya, negosiasi harga memang dilakukan langsung di lokasi.

“Mau short time apa long time? Kalau short time Rp300 ribu kalau long time Rp1 juta,” ucap Rosa di kamar indekosnya, Senin 30 Desemeber 2019. Rosa sendiri sudah dua tahun ini menjalani profesi tersebut setelah bercerai dengan suaminya di tahun 2017.

Perempuan asal Jatinangor tersebut menuturkan, rata-rata tamu yang datang ke indekos tersebut adalah lelaki hidung belang yang sudah beristri. Ia bahkan mengaku indekosnya tersebut tak pernah sepi tamu setiap harinya.

Menurut Rosa, indekos tersebut memang jarang dirazia. Baik oleh Satpol PP maupun aparat kepolisian. Meski terlihat cukup ramai setiap harinya, ia mengklaim aktivitas indekos nampak terlihat normal jika dilihat dari luar.

“Mainnya, kan, rapi. Jadi enggak pernah dirazia. Padahal setiap hari kita pasti kedatangan tamu. Kalau di sini mah, ada yang emang tinggal di sini, ada yang enggak. Kalau aku sih enggak. Kalau ada tamu aja baru ke kosan,” ujar dia.

Rosa sendiri mengaku menjalani pekerjaan haram itu karena terpaksa. Sebab, setelah bercerai dengan sang suami dua tahun lalu, ia harus mencari uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk mendapatkan pekerjaan yang normal, Rosa sendiri mengaku cukup kesulitan. Ia hanyalah seorang perempuan tamatan SMP.

“Tamatan SMP mau kerja dimana atuh Aa? Susah jaman sekarang mah. Apalagi aku ini tulang punggung keluarga. Jadi ya terpaksa begini. Mau gimana lagi,” ucap Rosa yang mengaku usianya akan genap 28 tahun di bulan Februari nanti.

Tertipu oleh PSK

Ternyata tak semua lelaki hidung belang berhasil mulus bertemu maupun berkencan dengan PSK yang menawarkan jasa esek-esek. Banyak dari lelaki hidung belang yang merasa tertipu oleh sejumlah PSK. Salah satunya, RK (32). Pria asal Jatinangor tersebut pernah merasa tertipu oleh PSK yang ia kenal dari aplikasi dating.

RK mengatakan, ia pernah mentransferkan sejumlah uang kepada seorang PSK sebelum menggunakan jasanya. Saat itu, si PSK berdalih meminta uang muka kepada RK sebagai tanda jadi. Namun, setelah mentranfser uang, RK justru tak pernah bertemu dengan si PSK.

“Waktu itu chatting nego-nego harga. PSK-nya minta uang ditransfer sebagai tanda jadi. Jumlahnya Rp250 ribu soalnya saya mau long time,” kata RK saat ditemui Notif di salah satu warung kopi di Jatinangor.

Seusai memberikan bukti transfer kepasa si PSK, tiba-tiba nomor handphone RK langsung di blokir. Ia pun mencoba menghubungi si PSK dengan nomor lainnya. Meski tersambung, namun si PSK tidak menggubris isi chattingan RK.

Baca Juga: Hanya di Sumedang, Pipa PDAM Muncul di Tengah Jalan

Kejadian yang pernah dialami RK ternyata juga dialami FR (27). Pria asal Jatinangor yang bekerja di salah satu pabrik tekstil di Jatinangor tersebut mengaku juga pernah ditipu oleh PSK. Modus penipuannya hampir sama dengan PSK yang akan dikencani oleh RK.

“Biasalah, kalau mau main (menggunakan jasa PSK) biasanya minta DP dulu PSK-nya. Karena sudah terbiasa begitu, ya, saya percaya aja,” kata dia.

Karena sudah terbiasa menggunakan jasa PSK dengan sistem DP, FR tak menaruh curiga. Kala itu, ia mentransfer uang sejumlah Rp 50 ribu ke rekening PSK. Jumlah uang yang ia transfer tersebut memang sudah disepakati dengan si PSK yang akan dikencaninya.

Setelah mentransferkan sejumlah uang, si PSK justru menelpon FR. Menurut FR, si PSK berdalih akan memberi kabar kepada FR jika ia selesai melayani tamu pertamanya. Saat itu, memang posisi FR merupakan tamu kedua si PSK. Si PSK, kata FR, sudah mengatur waktu untuk melayani FR.

“Waktu itu posisi Pukul 15.00 WIB. Karena memang dia katanya lagi ada tamu, saya minta waktu setelah maghrib. Soalnya, jam segitu saya baru pulang kerja. Jadi waktunya pas. Dan dia setuju. Dia juga mau ngabarin lagi. Tapi, sampai selesai waktu maghrib, nomor telpon dia enggak aktif-aktif,” kata dia.

Akitifitas negosiasi harga untuk mendapatkan kesepakatan menggunakan jasa seorang PSK di Jatinangor melalui aplikasi dating MiChat.Aktifitas ini dilakukan Notif untuk menggali fakta adanya bisnis prostitusi online di Jatinangor(notif.id)

Berbeda dengan JN (31). Pria asal Rancaekek, Kabupaten Bandung tersebut justru diperas habis-habisan oleh PSK yang dipesannya. Saat itu, ia sudah memiliki kesepakatan dengan si PSK untuk harga jasanya. Namun, ternyata ia ditipu oleh PSK setelah selesai menggunakan jasanya.

“Awalnya, kan, sepakat Rp300 ribu. Tapi pas setelah beres, PSK-nya malah minta Rp500. Katanya buat bayar sewa kamar. Padahal perjanjian awal itu Rp300 sudah sama kamar,” ujar JN yang mengaku menggunakan jasa PSK di salah satu indekos yang berada di Desa Sayang.

Selain itu, JN pun diminta untuk membeli sebungkus rokok saat datang menemui si PSK. Karena merasa ditipu, JN pun kemudian menolak permintaan si PSK. Akan tetapi, ia diancam akan dilaporkan ke seorang preman yang memang bertugas menjaga indekos tersebut.

“Sudah mah dia minta dibelikan rokok sebelum saya pakai jasanya. Eh pulang-pulang saya malah diperas. Terpaksa saya harus ngeluarin uang lagi. Dari pada dilaporkan ke preman yang jaga kosan itu,” kata dia.

Curiga Sejak Lama

Erwin Ramdhani (39), seorang warga Desa Cibeusi, Kecamatan Jatinangor mengatakan, selama ini sejumlah warga sudah mencurigai sejumlah apartemen dan indekos di Jatinangor yang digunakan untuk lokasi prostitusi.

“Di sejumlah apartemen dan indekos, memang kami curiga ada kamar-kamar yang dijadikan tempat maksiat oleh penghuninya. Banyak penghuni perempuan yang suka melayani pria hidung belang. Transaksinya melalui aplikasi online,” kata Erwin ditemui Notif di Jatinangor, Selasa 7 Januari 2020.

Menurut Erwin, sebenarnya warga sudah mulai gerah dengan ulah para penghuni apartemen atau indekos yang disinyalir digunakan untuk melayani kebutuhan birahi para pria hidung belang. Warga, kata dia, ingin pemerintah hadir dan memperketat pengawasan apartemen dan indekos di wilayah Jatinangor.

“Kami berharap Pemkab Sumedang lebih memperketat lagi dalam pengawasan penghuni apartemen dan indekos,” kata dia

Kepala Desa Hegarmanah, Dede Sumitra juga  membenarkan jika di wilayahnya ada beberapa indekos atau apartemen yang diduga sering dipakai praktik prostitusi oleh penghuninya.

“Benar, pernah mendapatkan kabar tersebut, transaksinya melalui aplikasi online,” kata dia.

Dikatakan Dede, meski sering mendengar kabar miring tersebut, pihaknya mengaku belum pernah ada warga yang melapornya ke Kantor Desa. “Kalau warga yang melapor mah enggak pernah ada, kami hanya mendapatkan kabar dari luar saja,” ucap dia.

Baca Juga : Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Anak Mendominasi Angka Kejahatan di Sumedang

Selain itu, Dede mengatakan, pihaknya telah memberikan imbauan kepada pengelola apartemen dan para pemilik indekos untuk besama-sama mengawasi para penghuninya. Khawatirnya, selain prostitusi, apartemen dan indekos juga digunakan sebagai tempat peredaran narkoba maupun berbagai penyakit masyarakat lainnya, termasuk terorisme.

“Kami sudah mengintruksikan kepada seluruh ketua RW, RT, dan Karang Taruna untuk memperketat pengawasan. Kami juga mengintruksikan kepada seluruh ketua RW untuk mengimbau kepada pemilik atau pengelola indekos agar tidak asal menerima atau  memasukkan calon penghuni. Lebih selektif lagi-lah,” ujarnya.

Pegiat Prostitusi Online Bisa Dijerat UU ITE dan UU Pornografi

Kapolres Sumedang AKBP Dwi Indra Laksmana menuturkan, untuk mengantisipasi maraknya prostitusi online di Sumedang perlu adanya penanganan yang masif dan melibatkan seluruh elemen masyarakat. Jika masyarakat merasa diresahkan dengan adanya praktik prostitusi bisa langsung melaporkan kepada pihak kepolisian.

“Untuk penangannya, kami tidak bisa bergerak sendiri menyikapi prostitusi online ini, perlu peran dari masyarakat. Kalau ada masayarakat yang merasa diresahkan bisa melaporkan kepada kami,” ucap Kapolres kepada Notif via telepon, Kamis 9 Januari 2020.

Sedangkan untuk pencegahannya, kata Dwi Indra, perlu peran dari semua instansi. Mulai dari Pemkab Sumedang, Polisi, TNI, Satpol PP. Caranya, kata dia, yakni dengan rutin melakukan Operasi Yustisi ke sejumlah apartemen dan indekos di wilayah Sumedang,l terutama di Jatinangor.

Baca Juga: Bejat!!! Setelah Cabuli Siswi SMP, Pria asal Sumedang Ini Malah Terlantarkan Korban di Jalan

Operasi Yustisi dilakukan tujuannya untuk mengetahui kegiatan penghuni selama di apartemen dan indekos. Operasi yustisi juga bertujuan untuk mengecek asal-usul penghuni apartemen maupun indekos melalui identitas diri, seperti KTP. Operasi Yustisi sendiri umumnya dilakukan sebulan sekali maupun per tri wulan.

“Operasi yustisi ini penting untuk mengetahui asal usul penghuni apartemen atau indekos. Pemilik indekos atau pengelola apartemen juga harus mengetahui asal-usul calon penghuni. Mereka juga wajib mengawasi aktifitas penghuni indekos atau apartemen,” kata dia.

Gerbang masuk Kabupaten Sumedang yang berada di wilayah Jatinangor.(notif.id)

Menurut kapolres, pegiat prostitusi online yang melibatkan transaksi uang dapat dijerat Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) atau UU Pornografi. Kendati demikian, jika prostitusi online tersebut terungkap maka si calon tamu atau lelaki hidung belangnya akan menjadi terperiksanya, jika tidak melibatkan pihak ketiga atau muncikari.

“Lihat dulu kasusnya bagaimana, tidak semua kasus sama. Kalau dilakukan suka sama suka tidak dapat dijerat hukum. Tapi jika ada transaksi uang bisa dijerat UU ITE atau UU Pornografi. Tapi di sini yang jadi korban adalah perempuannya (PSK).

Sementara itu Kepala Dinas Sosial Kabupaten Sumedang Agus Muslim mengatakan, celah adanya bisnis prostitusi di Jatinangor karena tidak tunduiknya pengelola apartemen maupun pemilik indekos terhadap aturan yang berlaku. Untuk itu, ia berharap Satpol PP Kabupaten Sumedang mengedepankan sisi pengawasan dan pencegahan adanya praktik prostitusi di Jatinangor.

“Yang memiliki kewenangan melakukan pengawasan dan pencegahan adalah Satpol PP. Karena Satpol PP yang memiliki kewenangan merazia indekos dan apartemen dengan Operasi Yustisinya. Untuk pengungkapan dan penindakan hukum ranahnya ada di kepolisian,” kata Agus saat diwawancarai via telepon, Selasa 7 Januari 2020.

Agus mengatakan, Dinas Sosial Kabupaten Sumedang sendiri hanya memiliki kewenangan melakukan rehabilitasi jika ada perempuan yang terbukti melakoni profesi sebagai PSK setelah adanya hasil dari razia yang dilakukan oleh Satpol PP.

Lebih Mudah Sasar Mahasiswa

Pengamat Sosial dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dede Syarif mengatakan fenomena prostitusi bukanlah hal yang baru dan mengejutkan. Pasalnya, prostitusi sudah ada sejak lama seiring dengan peradaban manusia itu sendiri.

Yang menjadi menarik, kata dia, prostitusi kini sudah berevolusi. Dulu, prostitusi dilakukan secara tradisional namun sekarang bergeser lebih modern dengan memanfaatkan teknologi informasi.

“Sebetulnya bukan hal yang mengejutkan lagi. Hanya saja prostitusi sudah berevolusi dengan menggunakan media online. Ini yang saat ini disebut dengan prostitusi online,” ujar Dede kepada Notif saat diwawancara via telepon, Kamis 9 Januari 2020.

Yang menjadi perhatian Dede mengapa prostitusi online marak di kalangan mahasiswa dan di kawasan pendidikan seperti halnya di Jatinangor, sebab di dunia siber sendiri sudah terbentuk kultur yang baru. Salah satunya yaitu pengguna media sosial rata-rata adalah kaum milenial.

Sehingga, ujar Dede, hadirnya media sosial justru memfasilitasi berkembangnya perilaku menyimpang di masyarakat. Di dunia siber, aktifitas sosial jauh lebih terbuka dibanding dunia nyata.

“Interkoneksi antar orang menjadi lebih mudah di dunia siber. Pengguna media sosial bisa lebih tahu kehidupan orang lain. Bahkan pengguna bisa mendisplay dunia secara luas melalui dunia siber,” ucap dia.

Baca juga: Preman di Sumedang Mengamuk di Halaman Mapolsek Cimanggung, Bawa Golok Sambil Mabuk

Selain itu, di dunia siber orang bisa memanfaatkan fitur anonimitas. Sehingga tidak akan terlihat oleh pengguna siber lainnya. Dengan begitu, rasa malu di dunia nyata yang sudah terkontrol akan hilang saat seseorang masuk ke dalam dunia siber.

“Maka dari itu peluang terjadinya perilaku menyimpang seperti prostitusi peluangnya sangat besar,” kata dia.

Menurut Dede, alasan para PSK lebih menyasar kawasan pendidikan karena banyaknya mahasiswa yang secara psikologis tidak stabil dalam menyikapi pencarian jati diri. Eksplorasi keinginan di luar dunia mahasiswa juga cukup tinggi. Hal inilah yang menjadi celah para PSK untuk menawarkan jasanya kepada mahasiswa.

Mahasiwa, kata Dede, juga bukanlah kelompok manusia yang kesulitan dari masalah ekonomi. Jika mereka berkeinginan untuk mencoba jasa yang ditawarkan oleh PSK, maka mereka tidak akan berpikir panjang.

“Karena mahasiswa lebih cenderung meminta uang kepada orang tuanya untuk pemenuhan segala keinginannya. Termasuk mencoba jasa dari PSK. Berbeda dengan orang yang sudah bekerja, mereka pasti akan berpikir berkali-kali untuk menggunakan jasa PSK. Alasannya, mencari uang itu susah,” kata dia.

Dede mengatakan cukup ironis jika prostitusi lebih subur terjadi di kawasan pendidikan. Mengingat mahasiswa seharusnya memiliki moralitas yang lebih terjaga dibanding kelompok sosial lainnya.

Kendati demikian, Dede mengatakan, suburnya prostitusi di kawasan pendidikan memang tidak terlepas dari lambatnya penyesuaian evolusi pendidikan dan agama yang memanfaatkan dunia siber.

“Problemnya di Indonesia itu dunia kriminalitas termasuk prostitusi cepat sekali berevolusi menyesuikan perkembangan dunia siber. Sementara pendidikan dan keagamaan proses evolusinya cukup lambat,” kata dia.

Oleh karena itu, Dede mengimbau pengguna media sosial agar lebih kritis dan bijak sebelum betul-betul masuk dan menggunakan media sosial. Banyak anonimitas yang memanfaatkan dunia siber untuk melakukan aksi jahatnya.

“Banyak manipulasi di dunia siber. Itu peluang besar terjadinya penipuan. Dari segi komersilitas, para anonim juga mendapat dukungan dengan memanfaatkan hasrat atau nafsu birahi seseorang untuk menipu. Dan kasus penipuan akibat prostitusi online ini sangat banyak. Makanya harus kritis,” kata Dede.(tim/ras)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *