Nelson Mandela dan Pergulatannya Menghapus Sistem Apharteid di Afrika Selatan

  • Whatsapp
Nelson Mandela. (Foto: Thenewyorker)
Perkiraan waktu baca: 3 menit

NOTIF.ID, TOKOH – Sejarah mencatat, seorang tokoh serta pemimpin penting paling berjasa bagi Afrika Selatan dalam menghapus sistem apartheid-Sistem pemisahan ras yang diterapkan oleh pemerintah kulit putih di Afrika Selatan dari sekitar awal abad ke 20 hingga tahun 1990-menghembuskan nafas terhakhirnya di usia 95 tahun, pada 5 Desember 2013.

Dikutip dari History, ketika ia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup karena sabotase dan konspirasi untuk menggulingkan pemerintah. Alih-alih memberikan kesaksian, dia justru memberikan pidato selama empat jam yang begitu fenomenal.

Read More

“Saya telah berjuang melawan dominasi kulit putih, dan saya telah berjuang melawan dominasi kulit hitam. Saya menghargai cita-cita masyarakat yang demokratis dan bebas di mana semua orang hidup bersama-sama dalam harmoni dan dengan kesempatan yang sama. Itu adalah cita-cita yang saya harapkan untuk hidup dan capai. Tetapi jika perlu, itu adalah cita-cita yang saya siap untuk mati,” katanya menggetarkan.

Seorang Mandela memiliki misi mengakhiri apartheid, sebuah sistem pemisahan berdasarkan ras, agama dan kepercayaan, diskriminasi etnis dan pemisahan kelas sosial.

Misinya dimulai ketika dirinya meninggalkan sekolah lebih awal untuk bergabung dengan Kongres Nasional Afrika (ANC). Kariernya menanjak dengan cepat. Pada 1950, dia terpilih sebagai presiden organisasi tersebut.

Lalu pada 1960, upaya Mandela berubah menjadi lebih militan. Hal itu dipicu peristiwa ketika polisi menembaki sekelompok pemrotes tak bersenjata di kota Sharpeville dan menewaskan 69 orang. Tak lama setelah itu ANC dilarang.

Tapi itu tidak menghentikan Mandela. Dirinya justru bergerak di “bawah tanah” dan membentuk organisasi bernama “Spear of the Nation”.

Bersama organisasi tersebut, Mandela merencanakan penyerangan terhadap lembaga pemerintah seperti kantor pos.

Pada 1962, Mandela diam-diam meninggalkan Afrika Selatan untuk berkeliling Afrika dan Inggris dalam mencari dukungan. Selain Afrika dan Inggris, Mandela juga ke Maroko dan Ethiopia.

Ketika Mandela kembali, ia ditangkap dan dituduh keluar secara ilegal dari negara itu dan menghasut untuk mogok.

Mandela pun kemudian dijatuhi hukuman penjara seumur hidup karena sabotase dan konspirasi untuk menggulingkan pemerintah.

Saat Mandela dipenjara, kampanye “Bebaskan Nelson Mandela” memicu protes terhadap rezim.

Pada 1990, Presiden terpilih yang baru FW de Klerk membuat langkah mengejutkan yang keluar dari kelompok konservatif partainya, yaitu mencabut larangan ANC dan semua partai politik yang sebelumnya dilarang.

Selain itu menyerukan Afrika Selatan yang non-rasis. Februari pada tahun yang sama, de Klerk membebaskan Mandela tanpa syarat.

Pria berusia 71 tahun itu keluar dari penjara dengan kepalan tangan di atas kepalanya. Dia telah menjalani hukuman selama 27 tahun di penjara.

Setelah ia dibebaskan, Mandela melanjutkan kepemimpinannya di ANC dalam negosiasi untuk mengakhiri apartheid.

Hebatnya, hanya empat tahun setelah dibebaskan, pada 10 Mei 1994, ia dilantik sebagai Presiden Afrika Selatan pertama yang terpilih secara demokratis.

Perwira militer membawa peti mati Nelson Mandela ke Union Buildings menandai dimulainya tiga hari berbaring di negara bagian (Foto: EPA via Metro)

Untuk mengenang kiprah Nelson Mandela yang menjadi salah satu sorotan tokoh raksasa yang mengglobal pada zamannya. Berikut Notif rangkum dari berbagai sumber sebagai wawasan.

Tokoh karismatik, Nelson Mandela berhasil membuat Afrika Selatan menjadi kekuatan ekonomi utama di Benua Afrika. Dia berhasil menghapus politik apartheid secara perlahan, tanpa menimbulkan gonjangan ekonomi.

Dikutip dari Businessweek, Mandela berhasil mengombinasikan unsur politik dan ekonomi setelah keluar dari penjara, pada Jumat, 6 Desember 2013.

“Restrukturisasi fundamental di sistem politik dan sistem ekonomi harus dilakukan untuk menghilangkan apartheid,” katanya, kala itu.

Dengan dihapusnya politik berdasarkan warna kulit tersebut maka masyarakat asli Afrika Selatan bisa memperoleh pekerjaan yang sebelumnya hanya diperbolehkan untuk warga kulit putih.

Pendapatan domestik bruto (PDB) Afrika Selatan di bawah kepemimpinan Mandela juga mengalami kenaikan. Pada periode 1980-1994, ekonomi negara tersebut naik 1,5 persen.

Tetapi memang mengalami penurunan menjadi di bawah 3 persen pada 1995-2003. Lalu pada periode 2003-2008, pendapatan per individu masyarakat di negara ini berhasil naik 62 persen.

Pada periode tersebut pendapatan asli masyarakat keturunan Afrika mengalami kenaikan sampai 93 persen.

Pemerintah Afrika Selatan juga serius menggarap proyek-proyek infrastruktur. Porsi masyarakat yang menggunakan listrik naik dari 43 persen pada 1993 menjadi 73 persen di 2011.

Afrika Selatan juga menjadi negara yang penting di kawasannya. Negara ini berkontribusi sebanyak 70 persen dari total investasi di kawasan Afrika.

Bahkan, impor dari Southern Africa Development Community, perkumpulan negara di kawasan Afrika, mengalami kenaikan dari USD16,3 miliar pada 1993 menjadi USD68,7 miliar di 2006. (*)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *