Viral! Lafaz Azan Diganti “Hayya Alal Jihad”, Muannas: Siapa yang Ngajarin?

  • Whatsapp
Tangkapan layar video viral mengganti lafaz azan. (Foto: @LoeGueNKRI via Twitter)
Perkiraan waktu baca: 3 menit

NOTIF.ID, JAKARTA – Ramai di media sosial, dalam sebuah video berdurasi 30 detik nampak segerombolan orang mengubah Lafaz azan yang seharusnya “Hayya Alas Sholah” menjadi “Hayya Alal Jihad”. Dalam video itu terlihat spanduk bertuliskan, “Keluarga Besar PHB”.

Dilihat, mereka tengah berkumpul mendengarkan seseorang yang mengumandangkan azan di suatu gang.

Read More

Seusai mengumandangkan kalimat “Asyhadu Anna Muhammadar Rasuulullah” yang kedua, muazin itu kemudian mengucapkan kalimat “Hayya Alal Jihad” sembari mengepalkan tangan ke atas.

Kumandang ini pun dijawab orang-orang dengan ucapan yang sama secara serempak secara lantang.

Sontak, lafaz azan yang seharusnya diucapkan “Hayya Alas Sholah” menjadi “Hayya Alal Jihad” mendapat kecaman keras dari Ketua umum Cyber Indonesia, Muannas Alaidid.

Melalui akun Twitter pribadinya @muannas_alaidid, padaSenin, 30 November 2020. Dirinya mengaku terkejut mengetahui pengubahan kumandang azan tersebut.

“Adzan itu hukumnya sunnah muakkadah. Kalimatnya adalah tauqifi, petunjuk langsung dari Allah dan Rasul-nya. Tidak boleh dikurangi dan tidak boleh ditambahin. Ini berlaku bagi orang-orang yang beragama pakai ilmu. Kalo beragama pake nafsu, jangan ikutan orang bodoh karena nafsu,” cuitnya.

“Adzan adalah kebanggaan umat Islam. Demi Allah saya terkejut liriknya telah dirubah semua. Artinya maknanya berubah, mestinya umat Islam tidak terima. Apalagi yang adzan sebagian besar anak-anak, siapa yg ngajarin? Ini kalau dibiarkan berbahaya, bisa-bisa adzan nanti berubah klo tidak ada tindakan hukum,” ungkapnya.

Muannas yang juga merupakan politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) juga berharap aparat berwenang segera bertindak atas perubahan lirik lafaz azan ini.

Menurutnya, hal ini sudah masuk dalam penistaan agama. Khususnya terhadap agama Islam.

“Saya berharap ada tindakan hukum, berani dan punya ketegasan @DivHumas_Polri soal beredarnya video kalimat adzan yang diubah-ubah oleh sekelompok orang. Ini sejatinya ini adalah pelecehan & penistaan terhadap Islam sebagaimana dimaksud Pasal 156a KUHP dan Pasal 28 ayat 2 ITE,” tulisnya.

“Mohon para alim ulama, para kiyai, para habaib tidak boleh membiarkan ini. Usut sampai tuntas. Siapa yang mengajarkan, kalau perlu aktor intelektualnya ditangkap begitu juga pelaku yang terlibat. Saatnya hukum harus ditegakkan @DivHumas_Polri @MUIPusat,” lanjutnya.

Dijduga, video itu dibuat oleh pendukung Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab. Video itu dibuat sebagai bentuk dukungan kepada Habib Rizieq karena dipanggil polisi.

Diketahui, Habib Rizieq memamang dipanggil Polda Metro Jaya terkait dugaan pelanggaran protokol kesehatan pada acara pernikahan putrinya, Syarifah Najwa Shihab, di Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat, berberapa waktu lalu.

Habib Rizieq pun dijadwalkan akan diperiksa oleh penyidik pada Selasa, 1 Desember 2020 besok.

Terkait hal ini, Muannas Alaidid menyebut pemanggilan tersebut belum tentu menyatakan bahwa Habib Rizieq bersalah.

“Jangan panik, padahal diperiksa polisi itu belum tentu bersalah. Ada ‘asas praduga tak bersalah’ mengikat semua penegak hukum bro, kecuali yang diperiksa ini sudah mengakui dirinya bersalah, akhirnya mengaku hasut sana-sini. Kalau diperiksa selalu bawa umat banyak, kenapa, ada apa sih?”

“Sebagai sesama muslim & warganegara saya tidak bisa bayangkan, klo ada orang baru dipanggil polisi, terus mengumandangkan adzan liriknya diganti ‘hayya alal jihad’ kayak apa rusaknya tatanan ini. Jadi gak bener ‘hayya alal sholah’ diganti dengan ‘hayya alal jihad’ hanya karena imamnya diperiksa polisi.”

“Kalau ulama yang bener dan alim itu, maka dia akan melarang pengikutnya kalau dia memag merasa benar & perilakunya juga benar, jadi gak perlu ditakutkan. Orang mau dimintai keterangan polisi aja sumpek dan bingung seakan-akan dunia mau runtuh. Allah Ya Karim,” ucap Muannas. (*)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *