Bangkitkan Lahan Tidur untuk Genjot Pertanian di Kabupaten Bandung, Calon Bupati Yena Iskandar Ma’soem Berstrategi Bentuk Sejuta Petani Baru

  • Whatsapp
Calon Bupati Bandung, Yena Iskandar Ma'soem berada di lahan pertanian hidroponik. (Istimewa)
Perkiraan waktu baca: 2 menit

NOTIF.ID, BANDUNG – Pertanian merupakan ujung tombak kehidupan manusia. Di Kabupaten Bandung terlalu banyak lahan subur yang belum dioptimalkan sebagai lahan pertanian. Lahan tidur itu dipandang Calon Bupati Bandung, Yena Iskandar Ma’soem sebagai potensi yang amat bagus untuk membentuk para petani baru melalui program Sejuta Petani Baru.

“Kabupaten Bandung berada di daerah yang dilingkung (dikelilingi) Gunung, dengan tanah yang subur sehingga dapat ditanami oleh bermacam jenis tumbuhan yang punya nilai ekonomi tinggi,” kata Yena kepada Notif, Rabu 25 November 2020.

Read More

Menurut Yena, negara-negara berstatus negara maju di dunia, adalah mereka yang negaranya mampu unggul dalam bidang pertanian. Kabupaten Bandung pun bisa unggul dalam pertanian jika bidang ini digarap dengan serius, dengan mata rantai yang menguntungkan para petani itu sendiri.

Namun, dalam pelaksanaannya, para petani tidak bisa menggarap lahan milik atau tanah tidur seperti yang direncanakan Yena secara berpindah, seperti yang dilakukan masyarakat terdahulu atau masyarakat adat saat ini. Mereka membuka lahan penuh perdu untuk ditanami, dengan alasan unsur hara tanah yang masih bagus.

Di zaman modern ini, berpindah lahan untuk bercocok tanam sangat tidak memungkinkan, karenanya petani menggunakan pupuk yang seringnya kimiawi agar kesuburan tanah kembali lagi. Sayangnya, penggunaan pupuk kimia malah dapat merusak kesuburan tanah jika dipakai dalam jangka waktu lama.

Yena Iskandar Ma’soem mencanangkan program berkesinambungan sengan sejuta petani, yakni memproduksi kompos sendiri.

“Setiap kelompok tani akan dilatih membuat pupuk dan kompos sendiri, ahar lahan tetap subur tanpa dirusak oleh pupuk buatan,” ujarnya seraya menyatakan pelaksanaan program-program itu bukanlah yang yang sulit.

Jika para petani sudah terbentuk, bukan berarti pemerintah, terutama Bupati lepas tangan. Masih ada dua tugas lagi, kata Yena. Yakni, menyediakan bibit tanaman yang harganya terjangkau oleh petani serta membuat pasar hasil tani yang membuat petaninya untung.

“Hambatan petani untuk memperoleh bibit (dan pupuk) harus menjadi tanggung jawab bupati bersama aparat terkait. Begitu pula dengan mata rantai pemasaran hasil pertanian. Akan diputuskan dengan membangun pergudangan untuk menampung hasil pertanian, dengan demikian petani akan mendapat nilai jual yang stabil,” kata Yena. (mrb/ras)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *