Sulit Diterima Kerja, Puluhan Warga Dua Desa di Cimanggung Sumedang Datangi Kantor PT Dwipa Puri Abadi

  • Whatsapp
Audiensi warga dua desa di Cimanggung, Sumedang, Jawa Barat dengan Manajer PT Dwipa Puri Abadi. (Kiki Andriana/Notif.id)
Perkiraan waktu baca: 3 menit

NOTIF.ID, SUMEDANG – Puluhan warga Desa Sawah Dadap dan Desa Mangun Arga, Kecamatan Cimanggung, mendatangi kantor pengelola kawasan industri PT Dwipa Puri Abadi, di Bandung-Garut, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Rabu 25 November 2020.

Pantauan Notif di lokasi, kedatangan mereka untuk melakukan audensi dengan pengelola kawasan industri itu. Sebabnya, penyerapan tenaga kerja terutama untuk warga lokal sangat minim. Audiensi juga membahas seputar kontribusi Corporate Social Responsibility (CSR) atau dana tanggung jawab sosial sejumlah perusahaan di kawasan industri tersebut yang belum berjalan secara maksimal.

Read More

Selain itu, warga pun meminta PT Dwipa Puri dapat memberikan solusi mengatasi banjir yang kerap terjadi di wilayah Mangun Arga.

Budi Permana (43), Ketua Karang Taruna Desa Mangun Arga mengatakan, permasalahan sosial yang ditemukan di wilayah Desa Mangun Arga dan Sawah Dadap semakin kompleks dan cenderung meningkat.

“Kami sudah berulang kali meminta difasilitasi oleh PT Dwipa Puri Abadi, namun hingga saat ini belum terealisasi,” kata Budi kepada Notif di lokasi.

Selama ini, kata dia, masyarakat Desa Mangun Arga dan Desa Sawah Dadap sudah berusaha menjadi tuan rumah yang baik, dan kami pun berharap agar perusahan pun menjadi tamu yang baik, dan dapat memenuhi keinginan warga.

“Kami bukan membebani perusahaan , tetapi kami ingin perusahaan dapat bersinergi dengan warga setempat. Dengan harapan, semua permasalahan sosial di wilayah kami bisa terselesaikan,” ucapnya.

Dede Mulyana, Ketua RW09, Desa Sawah Dadap menuding telah banyak terjadi pungutan liar terhadap para calon tenaga kerja yang melamar ke perusahaan yang ada di kawasan industri PT Dwipa Puri Abadi.

“Untuk penyerapan tenaga kerja, warga terdekat hanya jadi penonton. Perusahaan malah memprioritaskan calon tenaga kerja dari luar lingkungan yang tidak berdekatan dengan kawasan industri,” tuturnya.

Dede menyebutkan, hingga saat banyak warga Sawah Dadap yang melamar ke perusahaan di kawasan industri hingga masing-masing mencapai 4 kali, namun tak knujung diterima bekerja.

Dede merasa kasihan kepada warga, sebab membuat lamaran memakai biaya. Apalalgi tidak sedikit warga yang tidak mampu.

“Kami meminta warga setempat dapat diprioritaskan oleh perusahaan, ada toleransi bagi warga setempat. Jangan sampai ada warga yang tidak punya uang tidak diterima kerja, dan warga yang punya uang diterima kerja,” ujarnya.

Ucapan senada dilontarakan oleh Bule, tokoh pemuda Desa Sawah Dadap. Dia meminta PT Dwipa Puri Abadi dapat memberikan kontribusi positif bagi lingkungan.

“Warga sudah jenuh menjadi penonton. Buktikan kemitraan PT Dwipa Puri Abadi dengan lingkungan terdekat,” tuturnya.

Manajer Umum PT Dwipa Puri Abadi, Ponco Prihandoko mengatakan, pihaknya telah menampung semua aspirasi yang disampaikan oleh warga di Desa Mangun Arga dan Sawah Dadap.

“Semua aspirasi warga, akan segera saya sampaikan kepada pimpinan perusahaan, karena saya bukan pengambil keputusan,” kata dia di tempat yang sama.

Ia mengaku, hingga saat ini tidak semua perusahaan yang berada di kawasan industri Dwipa Puri Abadi memberikan pemberitahuan jika ada penerimaan tenaga kerja.

“Banyak perusahan yang kucing-kucingan masalah penerimaan tenaga kerja, kami pun pusing,” kata dia.

Meski begitu, tambah Ponco, pihaknya akan segera melayangkan surat teguran kepada perusahaan yang tidak bersinergi dengan masyarakat di lingkungan terdekat perusahaan.

“Hari ini juga, kami akan layangkan teguran kepada mereka, saya akan memberikan waktu selama 3×24 jam kepada setiap perusahaan untuk memberikan jawaban permasalahan sosial yang disampaikan warga,” katanya. (kia/mrb)

Editor: Dian Nugraha

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *