Tradisi Warga Cikupa Mengubur Jenazah Leluhur di Pekarangan Rumah

  • Whatsapp
Engkon Ukon (57) warga Kampung Cikupa, Desa Cilame, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat. Ukon pewaris tradisi menguburkan enazah orang tua di halaman rumah. (Notif.id)
Perkiraan waktu baca: 2 menit

NOTIF.ID, BANDUNG BARAT – Rumput yang tumbuh di tengah kuburan itu baru setinggi teunjuk orang dewasa, air hujan yang membasahi Kampung Cikupa membuat rerumputan tumbuh subur sembarangan.

Di halaman rumahnya sendiri, tangan Engkon Ukon (57) yang tanpa sarung tangan cekatan mencabuti rerumputan itu. Jemarinya diselimuti likat tanah. Dan sebelum matahari terik betul, pria itu sudah selesai membersihkan tempat leluhurnya dipendam tersebut.

Read More

Di Kampung Cikupa, Desa Cilame, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, warga tak perlu jauh-jauh ke Tempat Pemakaman Umum (TPU) jika ada orang tua mereka yang meninggal. Jenazah orang tua cukup dimakamkan di halaman rumah.

Bukan sekedar cukup, bagi warga di Kampung ini, kehormatan kepada leluhur dinilai dari bagaimana para keturunan merawat kuburan mereka.

Konon, tradisi ini sudah berlangsung lumayan lama. Warga mengklaim tradisi itu telah ada sejak akhir abad ke-19 atau sekitar awal abad ke-20.

“Ini makam orang tua saya dan para pendahulu,” kata Engkon sambil menunjuk dengan jempol tangan kanannya ke arah deretan kuburan yang berjajar di samping kanan rumahnya.

Di Cikupa bukan tak ada TPU, tetapi betul-betul sudah menjadi tradisi untuk memakamkan orang tua di pekarangan rumah. Selain sebab tradisi, alasan lainnya adalah perawatan makam akan lebih mudah karena lokasinya yang terjangkau.

“Mungkin sudah 5 generasi sampai hari ini,” kata Engkon saat ditemui, Minggu 22 November 2020.

Paling tidak, kata Engkon yang juga ketua RW, masih ada lima RW yang melaksanakan tradisi turun menurun itu. Lima RW yang masih menjalankan tradisi tersebut, yakni RW 8, RW 14, RW 15, RW 16 dan RW 17 Desa Cilame.

“Makam berada di sekitar rumah bakal lebih terawat dibanding kuburan di TPU,” katanya.

Di sisi lain, makam keluarga yang berada di sekitar rumah membuat perasaan keluarga selalu dekat dengan leluhurnya.

“Keturunan juga jadi tahu kakek neneknya siapa,” katanya.

Andil besar juga diberikan oleh orang tua yang dimakamkan sebelum mereka meninggal. Kata Engkon, biasanya mereka berwasiat agar dimakamkan tak jauh dari kediaman keluarga. Meskipun pesan itu terkesan masih tabu, tetapi hal itu sudah lumrah dilakuan warga Kampung Cikupa.

“Ayah saya pas masih hidup juga berpesan dan meminta dikuburkan di sini. Saya pun ke anak saya juga akan begitu,” tutur Engkon.

Namun, kondisi yang serba berubah saat ini membuat Engkon khawatir. Takut dia tak bisa dimakamkan di pekarangan rumah sebab para makelar tanah semakin mendesak membeli tanah-tanah di kampung Cikupa dengan alasan pembangunan oleh Pemerintah Daerah.

“Harga beli oleh makelar sangat murah. Apalagi kita punya tradisi ini. Sangat tidak sesuai untuk hasil penjualannya dibelikan lagi lahan pribadi agar bisa dikubur di tanah sendiri,” katanya. (kia/mrb/bag)

Editor: Dian Nugraha

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *