Kisah Inspiratif! Siswa SMPN 2 Jatinangor Berjualan Cireng hingga Mencari Rongsokan untuk Biaya Sekolah

  • Whatsapp
Dira Nugraha (14), siswa kelas 8 di SMP Negeri Jatinangor yang rela menghabiskan waktu bekerja seusai sekolah, memungut barang rongsok dan berdagang cireng. (Kiki Andriana/Notif.id)
Perkiraan waktu baca: 2 menit

NOTIF.ID, SUMEDANG – “Saya memiliki mimpi menjadi pengusaha sukses, apapun pekerjaannya, yang penting mendapatkan hasil yang halal.”

Kalimat itu dilontarkan Dira Nugraha (14), siswa kelas 8 di SMP Negeri Jatinangor saat ditemui di lapak dagangannya. Dia menjajakan penganan khas Sunda, cireng. Penganan itu terbuat dari adonan tepung kanji atau aci yang digoreng.

Read More

Penghasilan orang tuanya yang pas-pasan, bukanlah sebuah penghalang bagi remaja asal Dusun Cisempur RT03/05, Desa Cisempur, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat ini dalam meraih pendidikan dan cita-citanya.

Demi membiayai sekolah dan kehidupan sehari-harinya, anak kelima dari pasangan Toto Nugraha (65) dan Siti Rodiah (62) ini sudah hampir dua tahun berjualan cireng.

Jika belum waktunya berdagang cireng menjelang sore hari, sebelumnya dia berkeliling kampung mencari barang rongsok.

Di saat anak-anak seusianya sibuk bermain, Dira harus menghabiskan harinya berkeliling kampung untuk mencari barang rongsok untuk kemudian dijual kepada pengepul.

Sepulang mencari barang rongsok, ia pun berjualan cireng isi di belakang kawasan PT Kahatex.

“Biasanya berangkat mencari barang rongsok sekitar pukul 13.00 WIB hingga 16.00 WIB, lalu pukul 18.00 WIB saya berjualan cireng di lapak punya kakak,” kata Dira saat ditemui Notif, Sabtu 21 November 2020.

Ia menyebutkan, semua pendapatan dari upah berjualan cireng dan mencari barang rongsok ini biasanya ia pakai untuk jajan, membiayai sekolah hingga membantu orangtuanya. Tak lupa ia sisihkan juga untuk membeli kuota internet.

“Upah berjualan cireng sama kakak suka diberi Rp20 ribu setiap harinya, dan penjualan barang rongsok dalam seminggu suka dapat Rp100 ribu. Sebagian uangnya dikasihkan ke orangtua, dan sisanya buat biaya sehari-hari saya, dan juga memberi kepada adik saya,” ucap Dira.

Dira Nugraha (14), siswa kelas 8 di SMP Negeri Jatinangor yang rela menghabiskan waktu bekerja seusai sekolah, memungut barang rongsok dan berdagang cireng. (Kiki Andriana/Notif.id)

Ia mengaku melakukan hal tersebut karena sejak kecil ia sudah diajarkan oleh orangtua dan kakaknya untuk tidak bergantung kepada orang lain.

“Orangtua dan kakak saya yang selalu mengajarkan saya untuk berdikari,” tuturnya.

Dira menuturkan tak malu dengan apa yang dia jalani, meskipun teman-temannya di sekolah kerap bertemu saat dirinya berkeliling kampung memikul karung untuk barang rongsokan dan menjadi pelanggan saat dia berdagang cireng.

“Alhamduillah, teman saya gak pernah ada yang mengejek saya. Sama sekali saya tidak malu, yang penting pekerjaan saya halal,” kata dia.

Ia mengaku sejak melanjutakan sekolah ke jenjang SMP tidak lagi tersentuh lagi program sosial pemerintah seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP).

“Kalau sejak duduk di bangku SD saya mendapatkan bantuan uang tunai dari Program Indonesia Pintar (PIP) sebesar Rp450 ribu setiap tahunnya, namun sejak masuk ke SMP sudah tidak mendapatkan lagi,” ujarnya. (kia/mrb)

Editor: Dian Nugraha

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *