Bantuan Program Kartu Tani di Kabupaten Bandung Tidak Merata, Yena Datangi Bank Mandiri untuk Mencari Informasi Kebenarannya

  • Whatsapp
Yena Iskandar Ma'soem saat keluar dari Bank Mandiri di Jalan Kondang Majalaya, Rabu 18 November 2020.(ist)
Perkiraan waktu baca: 2 menit

NOTIF.ID, KABUPATEN BANDUNG – Calon bupati Bandung nomor urut 2, Yena Iskandar Ma’soem mendantangi Bank Mandiri di Jalan Kondang, Majalaya. Rabu 18 November 2020. Kedatangannya ke bank milik BUMN tersebut untuk mencari informasi terkiat bantuan program pemerintah melalui kartu tani.

Yena melakukan check and recheck tersebut lantaran mendapat sejumlah aduan dan keluahan dari para petani di Kabupaten Bandung mengenai program kartu tani. Seusai mencari informasi ke bank tersebut, Yena masih  belum banyak mendapatkan informasi tersebut dari pihak bank.

Read More

“Awalnya, banyak para petani yang mengeluh kepada saya tentang bantuan petani yang tidak merata dan tidak sesuai dengan kebutuhan. Bantuan itu disalurkan melalui kartu tani. Makanya, saya minta informasi ke Bank Mandiri. Namun saya belum mendapatkan informasi yang valid dari Bank Mandiri. Nanti saya akan minta informasi lagi di Kantor Pusat Bank Mandiri,” kata Yena kepada wartawan usai melakukan kunjungan ke Bank Mandiri di Majalaya.

Dikatakan putri mendiang H Nanang Ma’soem tersebut, para petani yang mengadu dan mengeluhkan ihwal bantuan tersebut mengaku tidak menerima bantuan sesuai kebutuhan. Contohnya, masalah bantuan yang tidak sesuai dengan kebutuhan jika dibandingkan dengan luas lahan yang dimiliki petani.

“Termasuk ada petani yang sudah meninggal, tapi masih mendapatkan kartu tani. Saya ingin tahu, mekanismenya yang jelas seperti apa,” katanya.

Yena mengatakan, keluhan para petani itu merata hampir di setiap kecamatan di Kabupaten Bandung, di antaranya dari petani asal Ciparay.

“Saya ingin membantu para petani, di antaranya untuk mendapatkan bantuan pupuk. Karena bantuan pupuk bagian yang terpenting, supaya hasil produksinya lebih optimal,” harapnya.

Sekarang, katanya, kalau salurannya tidak ada, dan sudah jelas programnya dari pemerintah itu ada, mereka menganggap menjadi petani itu tidak menguntungkan. “Sekarang harga pupuk mahal, dan hasil jualnya murah,” ujarnya.

Ia pun mengatakan, nilai bantuan untuk para petani pun, belum diketahui pasti karena ketika dirinya berusaha bertanya ke bank tersebut belum memperoleh informai yang valid.

“Yang jelas di lapangan, para petani masih banyak yang belum mendapatkan program kartu tani yang digulirkan pemerintah secara merata,” ungkapnya.

Yena berharap sistem pemberian bantuan dari pemerintah pusat untuk para petani itu untuk diperbaiki. “Itu bantuan dari pusat, bukan program daerah. Untuk itu, seorang bupati itu harus betul-betul bisa mengawal dan berkoordinasi dengan kementerian supaya program itu bisa nyampai di masyarakat. Itu yang paling penting, sinergitas antara kabupaten dan pusat,” tuturnya.(kia/ell)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *