Warga Temukan Alat Penokok Sagu Zaman Prasejarah Saat Buka Jalan di Papua

  • Whatsapp
Warga di Kampung Abar, Distrik Ebungfauw, Kabupaten Jayapura, Papua, temukan alat penokok sagu yang terbuat dari batu peninggalan zaman prasejarah. (Foto: Hari Suroto via Tempo.co)
Perkiraan waktu baca: 2 menit

NOTIF.ID, PAPUA – Penemuan alat penokok sagu yang belum pernah diketahui dan digunakan oleh masyarakat Papua telah ditemukan saat sedang melakukan pembangunan jalan di Kampung Abar, Distrik Ebungfauw, Kabupaten Jayapura, Papua.

Dilansir dari Tempo.co, menurut penuturan Kepala Suku Abar, Naftali Felle, penokok sagu itu ditemukan ketika masyarakat sedang membuka lahan untuk pembangunan jalan dengan menggunakan ekskavator.

Read More

“Kami menemukan alat penokok sagu yang dalam bahasa Sentani disebut fema,” terangnya.

Ia pun mengatakan, alat penokok sagu yang ditemukan ini berbeda dengan yang biasa mereka pakai.

“Kami di Sentani menggunakan penokok sagu yang ujungnya terbuat dari besi,” ucapnya, pada Minggu, 15 November 2020.

Penemuan ini juga telah mengungkap bagaimana nenek moyang masyarakat Papua mengolah bahan makanan pokok dari pohon sagu.

“Ini menunjukkan nenek moyang kami sangat luar biasa bisa membuat penokok sagu dari batu dan saya pikir sangat susah menggunakannya.”katanya.

Lebih lanjut, Naftali menjelaskan, untuk menokok sagu dari pohon sagu dengan alat yang memiliki ujung besi itu, sekurangnya membutuhkan waktu sehari penuh.

Namun, kini masyarakat Papua juga mulai menggunakan mesin parut sagu supaya proses mengolah batang sagu menjadi bubuk lebih praktis, cepat, dan hasilnya lebih banyak.

Peneliti Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto menjelaskan, sebelumnya masyarakat Papua menggunakan alat penokok sagu yang terbuat dari kayu soang yang dikaitkan dengan kayu matoa. Untuk alat penokok sagu berbahan besi sendiri baru mulai dikenal di masyarakat Sentani pada 1950-an.

Hari yang juga merupakan dosen arkeologi Universitas Cenderawasih menuturkan, bahwa alat penokok sagu yang ditemukan di Kampung Abar ini terbuat dari batu sepanjang 11 sentimeter dengan diameter 3 sentimeter.

“Kayu soang digunakan sebagai ujung penokok sagu karena sangat keras dan hanya tumbuh di pegunungan Cyclops di utara Danau Sentani,” ungkapnya.

Ia pun menjelaskan, pada masa prasejarah proses pembuatan alat penokok sagu bermula dari menyiapkan akar tunjang pohon matoa, batu sungai, dan rotan yang masih basah. Akar tunjang pohon matoa menjadi tangkai dan batu sebagai ujungnya.

Selanjutnya, batu dipotong dan dibentuk menurut ukuran yang dikehendaki menggunakan batu lainnya. Batu yang sudah jadi dimasukkan pada lubang tangkai kayu matoa, lalu diikat dengan tali rotan. Ikatan tali rotan agar batu tidak terlepas sewaktu digunakan untuk menokok sagu.

Tak hanya itu, di masa prasejarah, alat penokok sagu atau pemangkur sagu berfungsi mengerat empulur atau daging batang pohon sagu menjadi serbuk yang halus. Dari serbuk-serbuk yang halus ini kemudian dicampur dengan air. Masyarakat menggunakan tapisan untuk memisahkan serat batang pohon sagu dari pati sagu.

Pati sagu diolah menjadi papeda atau bubur sagu. Cara membuatnya, pati sagu dimasukkan ke dalam gerabah kemudian disiram air panas dan diaduk-aduk.

“Temuan alat tokok sagu prasejarah ini membuktikan tradisi mengolah sagu dan mengkonsumsi sagu sudah ada sejak masa prasejarah yaitu zaman neolitik, ketika manusia sudah hidup menetap dalam suatu perkampungan,” ucapnya.

Sebagai informasi, Kampung Abar sendiri merupakan satu-satunya kampung penghasil gerabah tradisional yang masih eksis di Papua saat ini. (*)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *