Hari Sumpah Pemuda, Apa pentingnya? Bagaimana Memaknainya?

  • Whatsapp
Kepala Bidang Aksi dan Pelayanan GMKI Sumedang MB 2019/2020, Kristian J.L Siregar.(ist)
Perkiraan waktu baca: 3 menit

Oleh: Kristian J.L Siregar

Kepala Bidang Aksi dan Pelayanan GMKI Sumedang MB 2019/2020

Read More

Setiap tanggal 28 Oktober, Indonesia memperingati lahirnya sumpah pemuda yang merupakansebuah momentum penyatuan semangat para pemuda dalam melawan tindakan penjajahan dan penindasan di Ibu Pertiwi.

92 Tahun yang lalu (28 Oktober 1928) menjadi ukiran indah gelora pemuda dalam menyatukan pikiran dan meninggalkan batas/sekat-sekat pemisah sehingga melahirkan sebuah ikrar dalam menyatakan diri sebagai bagian dari komunitas yang bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia, berbangsa yang satu, bangsa Indonesia, dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Tak lekang dari ingatan, ikrar tersebut menjadi dasar kesadaran Pemuda Indonesia untuk menghargai dan turut serta dalam memperjuangkan Identitas bangsa dengan semangat kebhinekaan.

Bila menilas balik sejarah, sebelum lahirnya sumpah pemuda 28 Oktober,Pemuda Indonesia masih berada dalam belenggu sikap individualisme dan primoldial yang masih dipegang teguh khususnya Organisasi Pemuda Kedaerahan.

Tak bisa dianggap remeh, Pemuda merupakan elemen penting bagi bangsa, karena Pemudalah yang nantinya akan mewarisi falsafah dan pandangan hidup bangsa yang nantinya akan menentukan arah negara 20-50 tahun kedepan.

Tak salah Soekarno pernah mengatakan “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia” yang dari tahun ketahun selalu digaungkan di Indonesia.

Point yang dapat dilihat dari pesan tersebut adalah perbandingan antara 1000 orang tua dan 10 Pemuda dalam menciptakan sebuah perubahan yang besar.

Narasi Tunggal yang dibuat oleh Soekarno tersebut bukan tanpa alasan. Soekarno memandang bahwa Pemuda merupakan pioner penting “harta” negara yang mampu membawa perubahan besar bagi Negara dan Dunia.

Ucapan Soekarno itu sontak membagar kembali semangat Pemuda dalam bahu-membahu memperbaiki dan memajukan kualitas kehidupan bangsa. Ia memandang bahwa Pemuda nantinya akan melahirkan inovasi-inovasi baru diberbagai bidang ilmu dan teknologi, yang kemudian dapat dipergunakan oleh seluruh masyarakat.

Dalam momentum Sumpah Pemuda tahun ini, memang agak berbeda dari tahun sebelumnya.

Pandemi yang berkepanjangan hingga gejolak politik yang tiada hentinya, seakan-akan mengingatkan kita akan Pesan moral sejarah Indonesia di masa lampau. Sumpah pemuda “berbangsa yang satu dan bertumpah darah yang satu” menyiratkan akan kesatuan semangat untuk saling mendukung dalam membantu setiap pihak, baik dari pemerintah, relawan, tenaga kesehatan untuk menghadapai dan menangani penyebaran wabah covid-19 di seluruh penjuru tanah air.

Pemuda yang notabene merupakan “Agent of Change” harus mampu menciptakan inovasi dan perubahan yang berdampak luas bagi sekitar.

Tak muluk-muluk, dengan menerapkan Protokol kesehatan “3M” merupakan langkah kecil konkrit yang dapat kita lakukan guna memberantas mata rantai penyebaran Covid-19.

Tindakan ini nantinya akan menjadi teladan atau contoh ditengah-tengah lingkungan sosial kita yang berpengaruh besar dalam mendukung Pengentasan Covid-19.

Disamping itu, Pemuda saat ini juga memiliki tantangan yang tak kala berat. Gejolak politik yang menjadi-jadi menuntut Pemuda untuk berperan aktif memperjuangkan kepentingan –kepentingan rakyat yang tertindas oleh “Penyalahgunaan Kekuasaan”.

Masih banyak diberbagai daerah yang membutuhkan semangat pemuda dalam menyuarakan sikap penindasan yang dilakukan sebahagian “Oknum” yang bertopengkan “kemakmuran rakyat” .

Naluri Critical thingking Pemuda sebagai anugerah mestinya dipergunakan untuk mengembalikan kembali bumi pertiwi kepangkuan Pancasila yang sesungguhnya. Semangat yang membara, naluri kebebasan yang bertanggungjawab merupakan tombak dan tameng yang dimiliki Pemuda dalam menyuarakan kebenaran.

Pemuda harus Kritis bukan Apatis. Ucapan Sok Hok Gie ,seorang Aktivis muda dan Pemikir intelektual yang mengungkapkan bahwa ” Hanya ada dua pilihan: menjadi apatis atau mengikuti arus. Tapi, aku memilih untuk jadi manusia merdeka”. Jika diperjelas dari ucapannya, Gie berpesan pada Pemuda khususnya untuk tidak henti-hentinya menyerukan kembali “Kemerdekaan”.

Peran aktif pemuda yang tidak “asal ikut” dalam prosesnya memerlukan pengorbanan dan keberanian yang mutlak. Setiap tahap dan proses nya nanti akan menjadi ukiran sejarah Indah Perjuangan Pemuda dalam mewujudkan Indonesia yang Adil dan Sejahtera.

“Kita jangan pernah mewarisi abunya sumpah pemuda, tetapi kita harus mewarisi apinya sumpah pemuda”- Ir Soekarno. Ya Api , Api perjuangan yang tak kenal lelah. Api semangat yang membakar sikap apatis dan Egosime.

Api yang menyala dalam melawan penindasan dan ketidak adilan, Api yang hidup, hidup untuk selamanya.

Wahai pemuda busungkan dadamu, pandanglah ke depan, kepalkan tanganmu dan angkat semangatmu, ikrarkan sumpahmu dan raihlah sebuah kemerdekaan. Kemerdekaan yang sejati. Selamat memperingati Hari Sumpah Pemuda.
Salam Pemuda Indonesia! Merdeka!

*) Isi dan gagasan tulisan ini adalah tanggung jawab penulis dan bukan bagian dari tanggungjawab redaksi notif.id. Redaksi hanya memiliki kewenangan menyunting tulisan tanpa mengubah substansi isi dan gagasan penulis.*

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *