Indonesia dan Turki Kecam Serangan Teror yang Terjadi di Gereja Notre Dame Prancis

  • Whatsapp
Aksi Penyerangan teroris terhadap Gereja Notre Dame, kota Nice, Prancis, pada tanggal 29 Oktober 2020 menewaskan 3 orang dan beberapa lainnya luka-luka. (Foto: AP Photo/Daniel Cole via Detik.com)
Perkiraan waktu baca: 3 menit

NOTIF.ID, PRANCIS – Keadaan negara Prancis kembali memanas, setelah terjadi serangan teror di Gereja Notre Dame, kota Nice, Prancis, pada tanggal 29 Oktober 2020 sekitar pukul 09.00 pagi waktu setempat. Sejumlah negara mayoritas berpenduduk muslim, termasuk Turki dan Indonesia turut mengecam aksi biadab tersebut.

Dalam aksi penyerangan tersebut, dilaporkan telah menewaskan 3 orang dan beberapa lainnya luka-luka. Diketahui, seorang imigran Tunisia, Brahim Aouissaoui telah melancarkan penyerangan terhadap Gereja Notre Dame di Nice.

Read More

Dalam aksi brutal itu, Aouissaoui menggorok leher penjaga Gereja, memenggal kepala seorang perempuan berusia 60 tahun dan melukai hingga parah seorang perempuan berusia 44 tahun hingga meninggal.

Kini, polisi setempat telah berhasil mengamankan pelaku teror dengan cara menembaknya. Saat ini, Aouissaoui tengah dirawat di rumah sakit dalam keadaan kritis.

Sebelumnya, mencuatnya kasus penerbitan ulang karikatur Nabi Muhammad oleh majalah satire Prancis,Charlie Hebdo yang dirilis pada pada Selasa, 1 September 2020, mendapatkan banyak kecaman warga Muslim dunia. Dan aksi pembunuhan berencana pun terjadi terhadap seorang guru, Samuel Paty, pada 16 Oktober lalu di Paris, Prancis.

Alhasil, Presiden Emmanuel Macron dalam pernyataannya yang kontoverisal menuding Islam Radikal sebagai dalang di balik sejumlah aksi teror di Prancis yang merupakan hasil dari krisis Islam.

Dikutip dari Detik.com, buntut dari serangan tersebut, negara Prancis kini telah menaikkan status darurat. Presiden Prancis, Emmanuel Macron mengatakan, Prancis akan mengerahkan ribuan tentara untuk melindungi situs-situs penting, seperti tempat ibadah dan sekolah di Prancis pada level tertinggi.

“Prancis telah diserang atas nilai-nilai kami, untuk selera kami akan kebebasan, untuk kemampuan di tanah kami untuk memiliki kebebasan berkeyakinan… Dan saya mengatakannya dengan sangat jelas lagi hari ini: Kami tidak akan memberi tanah apapun,” kata Macron.

Dikutip dari Tempo.co, walaupun hubungan Prancis dengan negara-negara muslim lainnya beberapa hari terakhir sempat memanas. Namun, dari terjadinya aksi terorisme terhadap penyerangan Gereja Notre Dame, dalam bentuk solidaritas, salah satunya yakni negara Turki mengungkapkan pernyataan kecamannya terhadap aksi teror tersebut.

Pada pernyataan pers Kementerian Luar Negeri Turki, yang dikutip dari CNN, Kamis, 29 Oktober 2020. Menyatakan bahwa tidak ada alasan apapun yang bisa menjustifikasi pembunuhan warga tidak bersalah di Nice.

“Sangat jelas bahwa mereka yang mengorganisir serangan brutal di tempat suci tersebut tidak memiliki nilai-nilai kemanusiaan, moral, ataupun religiositas,” ucap Kementerian Luar Negeri Turki.

Kementrian Luar Negeri Turki pun menuturkan bela sungkawa terhadap para korban dan keluarga yang tertimpa serangan teroris itu dan berharap kasus tersebut dapat segera dituntaskan.

“Sebagai negara yang berurusan dengan berbagai macam terorisme dan kehilangan warga karenanya, kami menekankan solidaritas dengan warga Prancis, terutama penduduk Nice, terkait perang terhadap terorisme,” ujar Kementerian Luar Negeri Turki.

Tak hanya negara Turki, negara Indonesia pun melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) dalam keterangannya di Twitter yang dirilis pada Jumat, 30 Oktober 2020, turut berduka dan mengecam aksi teror di Nice, Prancis.

“Indonesia mengecam aksi teror di Nice, Prancis pada tanggal 29 Oktober 2020 sekitar pukul 09.00 pagi waktu setempat, yang telah mengakibatkan 3 orang meninggal dan beberapa luka-luka,”

“Indonesia menyampaikan simpati dan duka cita mendalam kepada korban dan keluarga korban,” isi pernyataan tersebut.

Kini, Kemlu pun terus berkoordinasi dengan otoritas setempat dan Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di Nice untuk memastikan tidak adanya warga negara Indnesia yang menjadi korban dalam serangan tersebut.

“KBRI Paris dan KJRI Marseille secara aktif terus berkoordinasi dengan otoritas setempat. Sejauh ini tidak terdapat korban WNI. Tercatat terdapat total 4.023 WNI yang menetap di Perancis dimana 25 orang diantaranya tinggal di Nice dan sekitarnya,” ujar pernyataan Kemlu.(*)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *