Kontribusi Generasi Milenial dalam Demokrasi Elektoral

  • Whatsapp
Anggota KPU Kabupaten Sumedang, Mamay Siti M Suhandi S.Sos .(ist)
Perkiraan waktu baca: 4 menit

Oleh: Mamay Siti M Suhandi S.Sos

Penulis merupakan anggota KPU Kabupaten Sumedang

Read More

Siapakah yang disebut generasi milenial? Menurut National Chamber Foundation (NCF), ada beberapa pengelompokan generasi, diantaranya GI Generation (1901-1924), silent generation (1925-1946), Baby Boom Generation (1946-1964), Generation X (1965-1979), Millenial Generation (1980-1999), Generation Z (2000-…). Setiap generasi memiliki sifat dan cirinya tersendiri, yang dipengaruhi oleh perkembangan zaman.

Generasi milenial memiliki karakteristik yang berbeda dengan generasi lainnya, ada karakteristik yang bersifat positif adapula yang cenderung negatif. Diantara karakteristik generasi millenial adalah kreatif, informatif, punya passion atau minat dan produktif. Dengan karakteristik ini banyak lahir produk-produk atau kebiasaan yang tidak pernah dilakukan oleh generasi sebelumnya.

Misal penyebaran informasi yang begitu cepat nya di era ini, sehingga apapun yang berwujud informasi akan mudah tersebar luas, baik itu berita yang benar ataupun hoax atau berita bohong.

Selain itu juga tingginya minat generasi ini terhadap sesuatu hal, mendorong terciptanya sebuah produk atau gagasan baru, seperti maraknya penggunaan media sosial, terciptanya platform-platform digital dan aplikasi yang beraneka ragam macam dan peruntukannya.

Dilihat dari sisi karakteristik negatif generasi milenial, diantaranya lebih dekat dengan gadget atau dawai seperti handphone atau telepon genggam, kurang menghargai “local Ethic” atau etika lokal, lebih individualistis atau kurangnya kompetensi sosial.

Sisi negatif ini tentu terpengaruh akibat banyaknya penggunaan tekhnologi informasi dan kurangnya interaksi terhadap lingkungan sekitar, sehingga pendekatan-pendekatan sosial dan tata krama sosial semakin pudar dan terkesan tabu.

Milenial dan demokrasi, dua hal yang tidak bisa dipisahkan, karakteristik generasi milenial yang melek informasi dan tekhnologi, kreatif dalam berbagai bidang, tentu sangat berkaitan erat dengan sistem demokrasi, dimana kebebasan berekspresi seseorang sangat dijunjung tinggi.

Lalu bagaimana kontribusi generasi milenial dalam kehidupan demokrasi terutama demokrasi elektoral. Demokrasi elektoral dapat dimaknai sebagai sebuah sistem untuk membuat keputusan-keputusan politik dimana individu-individu mendapatkan kekuasaan untuk memutuskan melalui pertarungan kompetitif dalam meraih suara pemilih. Selain itu demokrasi elektoral juga disebut pesta demokrasi dalam pemilihan umum.

Sebelum kita menganalisa bagaimana kontribusi generasi milenial dalam demokrasi elektoral, kita akan menganalisa terlebih dahulu beberapa kategori atau kelompok generasi millenial dalam pandangan mereka terhadap politik dan demokrasi.

Pertama, kategori alergi politik, yaitu mereka yang sama sekali tidak mau ikut campur dalam segala bentuk hal yang berbau politik dan cenderung tidak mau tau bagaimanapun situasi politik yang terjadi.

Kedua, kategori nyinyir politik, yaitu mereka yang memiliki sentimen terhadap segala hal berbau politik, dan menumpahkannya dalam kritisi-kritisi dan pandangan negatif terhadap politik seperti apapun, mereka akan menciptakan isu-isu negatif dan menggulirkan wacana-wacana tak baik berkaitan dengan berbagai hal negatif.

Ketiga, melek politik, mereka yang sangat tertarik dengan dunia politik dengan memperhatiakan dan melakukan kajian-kajian berkaitan dengan politik, baik yang bersifat teori maupun praktik. Yang keempat, aktor politik, yaitu golongan kaum millenial yang terjun langsung, mengambil peran dalam sistem politik, menjadi pelaku politik praktis, bisa menjadi kader partai politik, mengambil peran dan menjadi bagian dari legislatif dan eksekutif, seperti menjadi anggota dewan atau kepala pemerintahan.

Berapa besar ketertarikan generasi milenial terhadap proses demokrasi dan politik?

Menurut survey Litbang Kompas 2019, sebanyak 86,3% generasi milenial tidak mau terlibat langsung menjadi anggota partai politik, sebanyak 11,8% memiliki keinginan untuk menjadi kader partai politik dan sebanyak 1,9% tidak tahu.

Dilihat dari angka tersebut tentu masih sangat kecil persentase ketertarikan generasi millenial terhadap keterlibatan mereka dalam politik.

Ini menjadi pekerjaan rumah bagi setiap lembaga baik lembaga pemerintah, lembaga pendidikan, penyelenggara pemilihan maupun partai politik, untuk mampu meningkatkan kesadaran dan ketertarikan generasi millenial untuk ikut mengambil peran dan terlibat langsung dalam dunia politik.

Di sinilah pendidikan politik yang berkesinambungan perlu terus diberikan kepada masyarakat terutama generasi milenial sebagai generasi penerus tongkat kepemimpinan selanjutnya. Lalu kontribusi seperti apa yang bisa dilakukan oleh generasi milenial di ranah politik dan demokrasi elektoral?

Bonus demografi yang dimiliki generasi milenial sangat mendukung kontribusi mereka di ranah politik, kedekatan mereka dengan tekhnologi informasi, sikap open minded atau keterbukaan wawasan, good networking atau kemapuan menciptakan jaringan yang luas dan cepat, serta pemikiran yang rasional, bisa menjadi salah satu modal penting yang bisa dioptimalkan dalam memberikan pemahaman yang benar berkaitan dengan sistem demokrasi dan politik.

Menjadi Agent of Change atau perantara perubahan dari praktek politik kotor, dengan tidak ikut terlibat dan mengikuti segala bentuk politik yang tidak sesuai dengan peraturan, dan ikut menyampaikan informasi kepada siapapun disekitarnya bagaimana politik yang baik dan yang sesuai. Kontribusi ini penting dalam upaya bersama memperbaiki citra buruk politik selama ini.

Kontribusi yang kedua berperan aktif dalam ranah demokrasi kebangsaan, dengan mengambil bagian dalam proses demokrasi elektoral, yaitu dengan menjadi penyelenggara pemilihan, baik KPU (Komisi Pemilihan Umum) dan Bawaslu (Badan Pengawas Pemilu) atau aktif dalam komunitas dan lembaga independent yang aktif dalam mengawasi pelaksanaan demokrasi elektoral.

Kontribusi yang ketiga, ikut mengkampanyekan atau mensosialisasikan berkaitan dengan good politic yaitu politik yang benar yang sesuai dengan peraturan dan sistem demokrasi.

Kontribusi yang keempat, bersikap kritis terhadap kinerja legislatif dan eksekutif. Jadi ketika menjadi bagian penyelenggaraan pemilihan, tidak hanya terhenti sampai proses pemilihan, tetapi harus mengambil bagian pengawasan kinerja legislatifa dan eksekutif yang telah dipilihnya, bagaimana implementasi atau penerapan janji-janji politik yang sudah disampaikan saat kampanye, dapat betul-betul direalisasikan untuk kesejahteraan masyarakat.

Kemudian kontribusi yang terakhir, ketika ikut terjuan ke ranah politik praktis, menjadi aktor politik atau politikus, memiliki jiwa negarawan, sehingga mampu mengedepankan kepentingan rakyat dan negara dibanding pentingan pribadi dan golongan, demi kesejahteraan masyarakat dan kemajuan negara.

Banyak hal yang bisa dilakukan generasi millenial dalam proses demokrasi elektoral dengan tujuan memperbaiki sistem demokrasi ke arah yang lebih baik. Semangat perubahan ini yang harus kita pupuk dan gaungkan bersama. Sehingga harapan kita bersama terhadap perbaikan sistem politik dan demokrasi elektoral di Indonesia bisa terwujud.(*)

**) Isi dan gagasan tulisan ini adalah tanggung jawab penulis dan bukan bagian dari tanggungjawab redaksi notif.id. Redaksi hanya memiliki kewenangan menyunting tulisan tanpa mengubah substansi isi dan gagasan penulis.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *