Menilik Kondisi Air Terjun Niagara Mini di Sumedang yang Kini Sepi Pengunjung

  • Whatsapp
Kondisi air terjun niagara mini Sumedang Curug Bu'ud. (kia)
Perkiraan waktu baca: 2 menit

NOTIF.ID, SUMEDANG – Tidak hanya memiliki keistimewaan sejarah serta keindahan budayanya saja, Kabupaten Sumedang juga memiliki wisata alam yang luas dan elok. Salah satunya yaitu destinasi wisata Curug Bu’ud yang berlokasi di Dusun Cipucung RT4/2, Desa Sukatani, Kecamatan Tanjungmedar, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.

Wisata Curug Bu’ud yang sempat dikatakan warga mirip dengan Air terjun Niagara yang berada di perbatasan Kanada dan Amerika Serikat dalam bentuk mini itu berlokasi di tengah perkebunan yang dikelilingi pepohonan ini, bukanlah temuan lokasi wisata baru di Sumedang.

Read More

Untuk menuju lokasi Curug Bu’ud, pengunjung akan menghabiskan waktu tempuh sekitar 1 jam dari pusat Kota Sumedang. Selain itu, pengunjung pun harus melewati perkebunan dengan kondisi jalan yang terjal sejauh satu kilometer dari pemukiman warga.

Namun, meski memiliki daya tarik, kini kondisinya memprihatinkan.

“Air terjun yang sempat disebut Air Terjun Niagara ini dulunya sangat indah dan banyak pengunjung, namun sekarang sepi, dan kondisinya tidak seindah dulu, ” kata Atep Mulyana, Kepala Desa Sukatani ditemui Notif, Rabu 28 Oktober 2020.

Menurutnya, nama Curug Bu’ud ini awalnya karena lokasinya berdekatan dengan bekas kantor Koperasi Unit Desa (KUD) Bu’ud. Sehingga, kata dia, nama tersebut diambil sebagai nama curug tersebut.

“Curug Bu’ud sempat dikatakan Air Terjun Niagara, karena curugnya memanjang, cuma sekarang airnya sedikit dan akses jalannya (rusak). Tapi nanti jalan masuknya mau dialihkan dari Bu’ud atau bekas KUD,” tuturnya.

Atep menuturkan, ramainya pengunjung untuk berlibur di curug ini terjadi pada tahun 2016, tepatnya ketika akses jalannya masih bagus dan lebar. Namun, setelah itu pengunjung tempat ini sudah mulai sepi.

“Kontur tanahnya labil, kondisi curug tersebut jadi berubah lantaran banyak erosi,” ungkapnya.

Sementara itu, Yayat Juhayat (48) warga setempat mengatakan, Curug Bu’ud ini dulunya memiliki panjang sekitar 35 meter dengan ketinggian 10 meter. Namun, kata dia, sekarang hanya memiliki panjang sekitar 10 meter.

Menurutnya, kondisi tersebut terjadi lantaran selama musim kemarau tiba, volume airnya tidak deras, dan meskipun saat ini sudah memasuki musim hujan, sehingga tidak ada keindahan yang bisa dilihat dari curug tersebut.

Selain itu, kata Yayat, beberapa tebing di sekitar curug juga sudah banyak yang longsor akibat pergerakan tanah yang kerap terjadi saat musim penghujan dan akses jalan juga sudah dipenuhi tumbuhan liar.

“Pada tahun 2019, keindahan curug ini seperti Air Terjun Niagara, Namun, sejak awal tahun 2020, curug tersebut sudah jarang dikunjungi warga karena kondisinya sudah tak seindah dulu,” ucapnya.

Ditambahkan Yayat, curug tersebut sudah jarang dikunjungi warga. Sebab, ujar dia, tebing yang berada di sekitar curug rawan tedampak bencana longsor.

“Kontur tanahnya sangat labil, sehingga dinilai bisa membahayakan keselamatan pengunjung,” kata dia. (kia/fik)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *