Potret Seorang Dukun Beranak Asal Tanjungsari di Zaman Modern dan Pandemi Covid-19

  • Whatsapp
Salah satu pembantu persalinan tradisional yang masih bertahan di era modern (kia)
Perkiraan waktu baca: 3 menit

NOTIF.ID, SUMEDANG – Empat Fatimah (53), menjadi salah satu dari sekian banyak warga yang terdampak pandemi Covid-19.

Perempuan paruh baya yang berprofesi sebagai dukun beranak di Dusun Bojong RT02/07, Desa Margajaya, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat ini kini hanya bisa pasrah dan bertahan hidup seadanya. Sesekali tangannya menutup dengan ujung kain kerudung ke arah wajahnya.

Read More

Empat mengaku jika pendapatannya tak menentu dan kian menurun drastis. Terlebih, kata dia, kondisi saat ini serba modern dan adanya wabah Covid-19.

“Selama pandemi Covid-19 ini, jarang ada orang yang melahirkan. Sudah jelas pendapatan saya jadi menurun,” ucap Empat Fatimah ditemui Notif di kediamannya, Senin 19 Oktober 2020.

Tak hanya dirinya seorang, sang suami Pepi Ruhaepi (56) yang berprofesi sebagai pedagang hewan ternak di Pasar Hewan Tanjungsari juga turut mengalami kemerosotan pendapatan.

“Setelah Covid-19 mewabah pendapatan yang diperoleh suami pun turun drastis,” ungkapnya.

 

Selain itu, Empat menyebutkan, berprofesi menjadi seorang dukun beranak ini telah ia lakoni sejak Tahun 1990. Profesinya itu, kata dia, karena mengikuti jejak nenek dan ibunya.

“Iya turun temurun dari keluarga, Nenek dan Ibu saya seorang paraji (dukun beranak),” kata perempuan yang memiliki 4 orang anak ini.

Empat menjelaskan, sejak dirinya berusia 17 tahun, dirinya kerap diajak oleh sang Ibu untuk mendampingi dan menanangi orang yang hendak melahirkan.

“Emak (Ibu) selalu mengajak saya jika mau menanangi orang yang mau melahirkan, tujuannya agar saya tau cara dan bisa menangani orang yang hendak melahirkan,” kata dia.

Selain belajar ilmu proses persalinan dari sang ibu, tambah dia, dirinya pun dibekali buku tata cara menangani persalinan dan juga sejumlah alat medis tradisional.

“Bukunya seperti ilmu kebidanan, terus saya dikasih juga alat-alat sama Ibu seperti timbangan, alat pendengar detak jantung (phondoskop), dan gunting,” katanya.

Empat menambahkan, berbekal ilmu yang ia dapat dari sang Ibu, pihaknya mengaku sempat buka praktik layanan persalinan sendiri di daerahnya.

“Kalau dulu sempat buka layanan persalinan sendiri, tetapi sekarang sudah tidak praktik lagi, kan sekrang mah zaman modern,”ujarnya

Lebih lanjut Empat mengatakan, hingga saat ini pihaknya kerap diminta bantuan oleh sejumlah Bidan yang berada di daerahnya untuk membersihkan alat-alat kesehatan, memijat bayi dan Ibu bayi paska persalinan saja.

“Membantu bidan juga tak menentu, kan sekarang mah bidannya sudah pada punya asisten. Kalau Ibu gak narif upah, seridhonya saja. Kadang ada bidan yang ngasih Rp 50 ribu, ada juga yang ngasih Rp 100 ribu, bahkan pernah ada juga yang ngasih hanya untuk membeli pulsa sebesar Rp 20 ribu, tapi itu sudah rejeki dari Allah, yang penting halal,” bebernya.

Selain membantu bidan untuk memijat dan memandikan bayi, tambah Empat, pihaknya kerap diminta oleh warga untuk memijat bayi dan warga yang tengah sakit badan.

“Bayi yang berusia seminggu biasanya Ibu suka dikasih Rp15 ribu, dan kalau bayinya sudah berusia lebih dari satu minggu hingga 40 hari persalinan suka dikasih Rp40 ribu, ” ucapnya.

Sebelum pandemi Covid-19, ujar dia, setiap satu bulan sekali suka ada dua atau empat orang yang melahirkan. Namun, kata Empat, saat ini, orang yang melahirkan itu jarang.

Kendati demikian, Ia berharap, peran dukun beranak ini tidak sampai terlupakan. Sebab, ujar dia, peran tersebut merupakan warisan leluhurnya yang harus dilestarikan sehingga tidak akan hilang termakan zaman.

“Mudah-mudahan peran dukun beranak tidak terlupakan di jaman serba modern ini,” kata Empat seraya berharap agar pandemi Covid-19 cepat selesai. (kia/fik)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *