Masih Gunakan Metode Sederhana, Rangginang asal Cikancung Berpotensi Naik Kelas, Teh Nia: Jangan Gengsi Makan Rangginang!

Teh Nia saat ikut membantu ibu-ibu membungkus rangginang di Kampung Sukaresmi, Kecamatan Cikancung, Kabupaten Bandung, Rabu 7 Oktober 2020.(wisnu saputra)

NOTIF.ID, KABUPATEN BANDUNG – Kecamatan Cikancung, Kabupaten Bandung, selama ini dikenal sebagai wilayah produsen sapi ternak. Namun jika menilik lebih jauh ke dalam, banyak masyarakat di Kecamatan Cikancung yang berprofesi sebagai pelaku usaha rumahan rangginang.

Rangginang dari Kecamatan Cikancung ini sudah dikenal di sejumlah daerah di Jawa Barat. Sayangnya, bahan baku pembuatan rangginang masih disuplai dari luar Kabupaten Bandung.

“Ternyata UKM rangginang di Cikancung sudah ada sejak tahun 1991. Dari produksi nya sangat berpotensi sekali. Karena produksinya bisa skala besar,” kata Kurnia Agustina saat melakukan kunjungan ke sentra Ranggingan di Kampung Sukaresmi, Desa Cikancung, Kecamatan Cikancung, Rabu 7 Oktober 2020.

Teh Nia sapaan akrabnya menyebut, bahan baku pembuatan rangginang berasal dari beras ketan. Beras ketan tersebut disuplai dari wilayah Kabupaten Subang. Harganya pun dinilai lebih murah dibanding dari Kabupaten Bandung.

Baca Juga:   Luar Biasa! Pasar Kicimpring asal Ciparay Tembus Hingga ke Jepang, Begini Tanggapan Teh Nia

Menurut Teh Nia, kurangnya dan mahalnya bahan baku dari Kabupaten Bandung menjadi perhatian dirinya. Untuk meningkatkan kesejahteraan pelaku UKM rangginang, Teh Nia berjanji akan memfasilitasi ketersediaan bahan baku.

“Ini jadi perhatian kami. Dan tentu PR bagi NU Pasti Sabilulungan ke depannya untuk memfasilitasi ketersediaan bahan baku dengan dinas terkait,” ujar Teh Nia yang kini menjadi calon bupati Bandung nomor urut 1.

Dalam kunjungannya itu, Teh Nia mengaku cukup terkesima dengan produksi rangginang rumahan tersebut. Pasalnya, produksinya masih dilakukan dengan menggunakan metode sederhana.

UKM rangginang di Kecamatan Cikancung, ujar dia, berpotensi bisa naik kelas. Pasalnya, rangginang bisa menjadi satu panganan yang luar biasa.

Baca Juga:   Luar Biasa! Pasar Kicimpring asal Ciparay Tembus Hingga ke Jepang, Begini Tanggapan Teh Nia

“Apalagi jika dalam produksinya dilakukan pembinaan dengan melibatkan akademisi teknologi pangan,” ujarnya.

Dikatakan Teh Nia, rangginang masih mudah untuk didapatkan dan ditemui. Meski dalam masa pandemi, makanan ringan tersebut masih tetap diproduksi.

Ia berpesan agar produsen rangginang di Cikancung tidak berkecil hati. Sebab, rangginang masih bisa bersaing dengan produk makanan ringan lainnya.

“Sekarang bagaimana caranya rengginang ini bisa masuk ke bioskop, atau ke toko-toko besar lainnya. Dan bagaimana anak muda tidak malu dan gengsi memakan rengginang. Kami dorong terus agar produsen rangginang bisa berinovasi,” ucap dia.

Teh Nia juga mengapresiasi bertahannya para pelaku UKM rangginang di Cikancung yang masih tetap memproduksi meski ditengah pandemi Covid-19. Dimana, pandemi Covid-19 berdampak pada ekonomi masyarakat.

Baca Juga:   Luar Biasa! Pasar Kicimpring asal Ciparay Tembus Hingga ke Jepang, Begini Tanggapan Teh Nia

“Contoh, Bu Popoh (pelaku UKM rangginang) masih bisa mempekerjakan masyarakat sekitar. Saya akhirnya banyak belajar dari ke-humble-an atau ke-tawadhu-an mereka,” kata dia.

“Dengan metode sederhana ini tapi kepedulian tinggi untuk berbagi dan bersama. Akan kami support karena di masa pemulihan ekonomi, upah sekecil apapun yang mereka dapatkan kalau dibawa ke rumah akan sangat berharga,” kata dia.(put/ras)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here