Peran Kakawin Sutasoma Untuk Negeri

Ilustrasi kisah pengembaraan Sutasoma (Gambar: I Dewa Putu Arsania (1960–) via sydney.edu.au)

NOTIF.ID, HISTORI – Naskah Nusantara yang juga disebut juga Kakawin (manuskrip), merupakan dokumen tertulis kuno yang menjadi khazanah karya budaya Bangsa Indonesia yang merujuk pada peninggalan kebudayaan masyarakat Nusantara di zamannya.

Manuskrip-manuskrip tersebut, biasanya ditulis pada helaian daun lontar/nipah, dan daluang yang berasal dari milenium pertama hingga akhir abad ke-20.

Tak lain pula dengan Kakawin Sutasoma, frasa “Bhinneka Tunggal Ika” yang menjadi falsafah dasar Bangsa Indonesia. Frasa Jawa Kuno dari abad ke-14 ini disematkan pada simbol negara Republik Indonesia, yang kini abadi dicengkram Burung Garuda pada sehelai pita putih.

Sebuah frasa yang ditulis dalam aksara Jawa Kuno “Bhineka Tunggal Ika” yang memiliki pengertian “Berbeda-beda Namun Tetap Satu Jua”. (dirujuk dari Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara berdasarkan buku yang diterbitkan oleh Sekretariat Jenderal MPR RI).

Merujuk laman Kemendikbud, Semboyan Republik Indonesia itu lahir dari Kakawin Sutasoma, pupuh 139, bait 5 yang digubah oleh Mpu Tantular pada masa keemasan Majapahit di bawah kekuasaan Prabu Rajasanagara, atau Raja Hayam Wuruk pada abad ke-14 lalu. Berikut, bait ini secara lengkap, dicantumkan di bawah ini:

Rwaneka dhatu winuwus Buddha Wiswa,
Bhinneki rakwa ring apan kena parwanosen,
Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal,
Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

Terjemahan:

Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda.
Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali?
Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal
Terpecah belahlah itu, tetapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran.

Ilustrasi lambang negara Indonesia Garuda Pancasila. (Gambar: Twipu.com via Kompasiana)

Untuk menjadikannya sebuah semboyan pemersatu Bangsa, para Founding Father telah melakukan berbagai prosesi. Mereka pun membubuhkan perspektif baru, karena dinilai relevan dan kontekstual dengan kebutuhan strategis membangun Indonesia merdeka pada saat itu.

Dalam buku karya PJ Zoetmulder yang bernilai magnum opus (merangkum sastra Jawa Kuno, Kalangwan, Sastra Jawa Kuno). Disebutkan bahwa semboyan itu awalnya mulai menjadi materi diskusi terbatas antara Muhammad Yamin, Bung Karno, dan I Gusti Bagus Sugriwa di sela-sela sidang-sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), antara Mei-Juni 1945.

Terdapat dugaan, bahwa M. Yamin lah pengusul pertama frasa tersebut. Setelah ia membaca tulisan Hendrik Kern yang berjudul “Verspreide Geschriften,” di mana frasa Jawa Kuno itu termuat.

Pada sela-sela sidang BPUPKI, M. Yamin menyebut frasa “Bhinneka Tunggal Ika”. Mendengar itu, sontak I Gusti Bagus Sugriwa yang merupakan Putera Bali berucap “Tan hana dharma mangrwa.”

Respon spontan tersebut ternyata menggugah hati M. Yamin, sekaligus menunjukkan bahwa saat itu di Bali frasa “Bhinneka Tunggal Ika” masih hidup dan dipelajari orang. Meskipun Kakawin Sutasoma ditulis oleh seorang pujangga Budhis, jangkauan pengaruhnya cukup besar di lingkungan masyarakat Hindu-Bali.

Pada versi lainnya, Wakil Pesiden Pertama, Mohammad Hatta berpendapat bahwa frasa “Bhinneka Tunggal Ika” merupakan usulan Presiden Pertama Indonesia, Ir. Soekarno. Ide ini secara historis diusulkan setelah Indonesia merdeka, saat momen munculnya kebutuhan untuk merancang lambang negara dalam bentuk Garuda Pancasila.

Masih seturut ingatan Bung Hatta, simbol Garuda Pancasila dengan dua kaki mencengkeram pita putih bertuliskan “Bhinneka Tunggal Ika” yang merupakan hasil dari kreasi Sultan Hamid II dipakai secara resmi dalam Sidang Kabinet Republik Indonesia Serikat (RIS) yang dipimpin Bung Hatta pada 11 Februari 1950.

Jadi jelas, bahwa semboyan “Bhineka Tunggal Ika” dibuat tidaklah asal atau main-main, fatamorgana atau tanpa sebab diambil. Dari Sepenggal kalimat “Ciwa Buddha Bhinneka Tunggal Ika Tanhang Dharma Mandrawa,” tersiar kalimat sakti nan wibawa yakni “Bhineka Tunggal Ika”, yang pada prinsipnya memegang teguh kesatuan NKRI.

Indonesia sebagai negara bangsa (nation-state), bagaimana pun realitasnya merupakan negara yang kaya akan multietnis, multibudaya, multiagama dan kepercayaan, serta multibahasa. Dengan adanya toleransi dan kesatuan, dapat mencairkan perbedaan menjadi persatuan sehingga tidak ada perpecahan atau konflik.

Oleh karena itu, negara Indonesia bukan saja butuh sesanti negara sebagai perekat kebangsaan. Namun, Indonesia juga butuh panduan falsafah dasar, atau philosofische grondslag, atau weltanschauung, sebagai kerangka ketatanegaraan hidup bersama.

Tanpa adanya azas universalisme kebangsaan ini yakni Pancasila dan “Bhinneka Tunggal Ika”, tidak mustahil jika jebakan partikularisme dalam bentuk sektarianisme sempit, baik atas nama etnis, agama ataupun kombinasi keduanya (ethno-religious) dapat menjadi ancaman dan memporakporandakan kehidupan sosial.

Dari segelintir pembukaan, berikut Notif rangkum sejarah dan asal muasal semboyan “Bhineka Tungggal Ika” dari berbagai referensi.

Kakawin Sutasoma

Naskah Sutasoma merupakan cerita epis dengan pangeran Sutasoma sebagai protagonisnya. Amanat kitab ini mengajarkan toleransi antar agama, terutama antar agama Hindu-Siwa.

Sebagian besar isi cerita naskah ini merupakan kisah Prabu Mahaketu dari Astina bernama Raden Sutasoma yang merupakan titisan Sang Hyang Budha yang rajin beribadah.

Kakawin Sutasoma merupakan karya lain dari Mpu Tantular yang digubah di bawah lindungan Sri Ranamanggala semasa pemerintahan Hayam Wuruk.

Tak diketahui secara pasti kapan karya sastra ini digubah, namun para pakar sejarah memperkirakan bahwa kakawin ini telah ditulis antara tahun 1365 dan 1389. Dengan tulisan menggunakan aksara Jawa kuno dengan ukuran berkisar 40,5 x 3,5 cm. Penulisan naskah Sutasoma diketahui menggunakan media daun lontar.

PJ Zoetmulder mencatat pada era Majapahit setidaknya terdapat dua kakawin besar yang ditulis oleh pujangga yang sama. Berjudul “Arjunawijaya” dan “Sutasoma”, nama pujangga yang menggubahnya tak lain ialah Mpu Tantular.

Terdapat dugaan, Kakawin Arjunawijaya lah yang terlebih dahulu digubah oleh Mpu Tantular dari pada Kakawin Sutasoma. Keduanya sama-sama digubah saat Raja Rajasanagara bertahta dan tengah berada di puncak kemegahannya. para peneliti pun menyebutkan, bahwa Kakawin Sutasoma lebih muda daripada Kakawin Nagarakretagama.

Sekitar tahun 1365-1389, dengan digubahnya Kakawin Sutasoma menjadikan karya tersebut memiliki peranan penting dalam memaparkan ide-ide religius, terutama yang berkaitan dengan agama Buddha Mahayana dan hubungannya dengan agama Siwa.

Fakta lainnya, Kakawin Sutasoma diturunkan sampai saat ini dalam bentuk naskah tulisan tangan, baik dalam bentuk lontar maupun kertas. Hampir semua naskah kakawin ini berasal dari pulau Bali.

Salah satunya seperti yang dilakukan oleh pelestari budaya yang juga seniman Bali, I Wayan Mudita Adnyana yang menyalin sendiri Kakawin Sutasoma dengan media daun lontar selama dua tahun sebanyak 120 lembar.

Baca Juga:   Mencontoh Korea Selatan, Indonesia Rencanakan Prosedur Drive Thru Tes COVID-19

Namun ternyata terdapat satu naskah yang berasal dari pulau Jawa yang memuat sebuah fragmen awal kakawin ini, dan berasal dari apa yang disebut sebagai “Koleksi Merapi-Merbabu” yang merupakan kumpulan naskah-naskah kuno yang berasal dari daerah sekitar pegunungan Merapi dan Merbabu di Jawa Tengah.

Informasi mengenai naskah-naskah ini pertama kali ditemukan dalam laporan statistik tertanggal 12 Agustus 1923, yang merupakan masa pemerintahan Gubernur Jenderal Van der Capellen pada masa Hindia Belanda. Dapat dipastikan, bahwa teks ini memang benar-benar berasal dari pulau Jawa dan bukan pulau Bali.

Replika fragmen Kakawin Sutasoma. (Foto: Zamane via Pinterest)

Menurut Zoetmulder, keberadaan Kakawin Sutasoma menjadi penting karena kakawin itu memberikan pengetahuan tentang bagaimana hubungan antara Budhisme-Mahayana di satu sisi dan Hindu-Siwaisme di sisi lain pada era Kerajaan Majapahit.

Sekalipun Kakawin Sutasoma sendiri diidentifikasi sebagai susastra Buddha, namun sang pujangga tak ragu menampilkan suatu cara terbaik di mana Budhisme-Mahayana dan Hindu-Siwaisme terus hidup berdampingan, mencari titik temu, dan menapaki kesejatian yang tunggal.

Bisa dikatakan, bahwa Mpu Tantular membuat Kakawin Sutasoma menjadi sebuah karya sastra yang unik. Karena, kisah tokoh keturunan Pandawa telah digubah menjadi kisah Buddhis. Kisah hidup Sutasoma berpolakan kisah hidup Buddha dan dirangkai dengan kisah yang mengambil bahan dari cerita faktual.

Lain dengan Kakawin Arjunawijaya yang memberilan peringatan pasca masa Gajah Mada. Kakawin Sutasoma cenderung memberikan peringatan tentang timbulnya pertentangan antara Keraton barat (Kusumawardhani/Wikramawardhana) dan Keraton timur (Bhre Wirabhumi) yang dikenal dengan Perang Paregreg.

Kiranya Kakawin Sutasoma memuat anjuran agar masalah pertentangan antara dua kubu keturunan Hayam Wuruk tersebut dapat diselesaikan dengan damai menurut prinsip Buddhis.

Disamping Mpu Tantular melukiskan Raja Hayam Wuruk sebagai penjelmaan Raja Buddhis yang ideal, namun di penuntup pupuh pada bait 148, ia menuangkan risalah yang berbunyi :

1 a. Nâhan tântyanikang kathâtiçaya Boddhacarita ng iniket
1 b. Dé sang kawy aparab mpu Tantular amarn.a kakawin alangö
1 c. Khyâtîng rat Purus.âdaçânta pangaranya katuturakena
1 d. Dîrghâyuh sira sang rumengwa tuwi sang mamaca manulisa .
2 a. Bhras.t.a ng durjana çûnyakâya kumeter mawedi giri-girin
2 b. Dé çrî râjasa raja bhûpati sang angd.iri ratu ri Jawa
2 c. Çuddhâmbek sang aséwa tan salah ulah sawarahira tinut
2 d. Sök wîrâdhika mêwwu yêka magawé resaning ari teka
3 a. Ramya ng sâgara parwatêki sakapunpunan i sira lengeng
3 b. Mwang tang râjya ri Wilwatikta pakarâjyanira n anupama
3 c. Kîrn.êkang kawi gîta lambing atuhânwam umarek i haji
3 d. Lwir sang hyang çaçi rakwa pûrn.a pangapusnira n anuluhi rat
4 a. Bhéda mwang damel I nghulun kadi patangga n umiber i lemah
4 b. Ndan dûra n mad.anêka pan wwang atimûd.ha kumawih alangö
4 c. Lwir bhrân.tâgati dharma ring kawi turung wruh ing aji sakathâ
4 d. Nghing sang çrî Ran.amanggalêki sira sang titir anganumata.

Terjemahan :

1 a. Maka inilah akhir dari sebuah cerita indah dan digubah dari kisah sang Buddha.
1 b. Oleh seorang penyair bernama Mpu Tantular yang menggubah kakawin indah.
1 c. Termasyhur di Dunia dengan nama Purusadasanta (pasifikasi raja Purusada).
1 d. Semoga semua yang mendengarkan, membaca dan menyalin akan panjang umurnya.
2 a. Hancur lebur para durjana, tak berdaya, gemetar, takut karena ngeri.
2 b. Oleh Sri Rajasa yang bertakhta di Jawa.
2 c. Para abdinya berhati murni dan melaksanakan segala perintahnya tanpa salah.
2 d. Sungguh banyak para pahlawan unggul, jumlahnya ada ribuan yang memberikan rasa takut kepada para musuh.
3 a. Indahlah laut dan gunung di bawah penguasaannya.
3 b. Dan ibu kota Wilwatikta (Majapahit) sungguh indah di luar bayangan.
3 c. Banyaklah jumlah para penyair, tua dan muda yang menggubah nyanyian dan Kakawin yang menghadap sang Ratu.
3 d. Bagaikan Dewa Candra kekuasaannya menyinari Dunia.
4 a. Berbeda dengan karyaku bagaikan gajah yang terbang di atas tanah.
4 b. Mustahil lah menyamai karena orang bodoh yang seolah-olah menulis kakawin indah.
4 c. Seperti seseorang yang bingung mengenai kewajiban seorang penyair tidak mengenal peraturan bersyair.

Kakawin Sutasoma, yang menuliskan tentang “Mangkang jinatwa kalawan Siwatattwa tunggal bhinneka tunggal ika tan hanadharmma mangrwa” mengisahkan tentang 13 hal, yaitu :

1. Kelahiran Sutasoma sebagai penjelmaan Sang Buddha;
2. Perjalanan Sutasoma ke Gunung Sumeru dan tapa brata Sutasoma;
3. Kisah Sumitra tentang asal-usul dan riwayat Jayantaka atau Purusada yang gemar melahap manusia;
4. Pergulatan Sutasoma dengan Gajamukha, naga, dan harimau;
5. Kematian Sutasoma dan penghidupannya kembali;
6. Pengajaran Sutasoma pada Gajamukha, naga, dan harimau;
7. Godaan oleh bidadari dan Indra;
8. Pertemuan Sutasoma dengan Dasabaku;
9. Perkawinan Candrawati dengan Sutasoma;
10. Kembalinya Sutasoma ke Hastina dan penobatannya sebagai raja;
11. Kemenangan pasukan raksasa atau Singhala;
12. Penawanan raja Widarbha oleh Kalmasapada (Purusada); dan
13. Kedatangan pasukan raksasa di Hastina, penyerahan diri Sutasoma, dan pertobatan Kalmasapada.

Adapun garis besar cerita dari Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular dapat dibeberkan sebagai berikut:

Kisah Perjalan Pangeran Sutasoma

Alkisah, Bodhisattva dilahirkan kembali sebagai Sutasoma, putra Raja Hastinapura, Prabu Mahaketu. Setelah dewasa Pangeran Sutasoma merupakan sosok yang sangat rajin beribadah, cinta dan patuh akan ajaran Buddha.

Namun pada suatu masa, Pangeran Sutasoma tidak senang dengan keputusan Raja untuk menikahkannya serta menobatkan dirinya menjadi seorang Raja baru.

Maka pada suatu malam, ia pun memutuskan untuk melarikan diri dari negara Hastina. Karena kepergian sang Pangeran yang tanpa diketahui, timbul kegegeran di istana yang membuat sang Raja beserta Permaisuri sangat sedih dan kahawatir.

Setibanya di hutan, Pangeran Sutasoma pun lalu bersembahyang dalam sebuah kuil. Ketika itu, datanglah sang Dewi Widyukarali yang merestui dan mengabulkan sembahyang sang Pangeran.

Setelah mendapatkan jawaban Dewi Widyukarali, kemudian Pangeran Sutasoma melanjutkan perjalanan dan mendaki pegunungan Himalaya diantarkan oleh beberapa orang pendeta.

Sesampainya di sebuah pertapaan, Para pendeta menceritakan riwayat mengenai seorang Raja Purusada atau Kalamasapada yang merupakan reinkarnasi raksasa yang gemar menyantap daging manusia kepada sang Pangeran.

Dalam cerita tersebut, diceritakan pada suatu waktu persedian daging untuk santapan sang Raja hilang, entah habis dimakan anjing dan babi.

Baca Juga:   Ibunda Jokowi Empat Tahun Ikhtiar Melawan Kanker

Juru masak istanapun kebingungan, ia pun tergesa-gesa mencari daging santapan pengganti. Karena tak satupun daging didapatinya, maka ia memutuskan pergi ke sebuah pekuburan dan memotong paha seorang mayat untuk disajikannya kepada sang Raja.

Ketika daging tersebut disajikan, sang Raja terlihat senang dan lahap memakan santapannya. Raja Purusada pun bertanya kepada sang juru masak daging apa yang disajikan untuknya.

Karena si juru masak merasa terancam dan ketakutan, iapun mengakui bahwa daging yang disajikan untuknya merupakan potongan daging seorang mayat manusia yang ia bawa dari kuburan.

Entah bagaimana, atau mungkin karena sang Raja merupakan reinkarnasi raksasa, semenjak ia mencicipi daging manusia, saat itu pun dirinya mulai gemar menyantap daging manusia.

Diceritakan, rakyatnya habis dijadikan santapan oleh sang Raja, baik dimakan ataupun yang melarikan diri.

Ketika waktu, Raja Purusada mendapatkan sebuah luka di kakinya dan divonis tak bisa disembuhkan. Mendapati kemalangannya, iapun berjanji akan mempersembahkan 100 raja kepada batara Kala jika ia dapat disembuhkan dari penyakitnya. Untuk meneguhkan janjinya itu, ia pun memutuskan tinggal di dalam hutan belantara.

Setelah Pangeran Sutasoma mendengarkan cerita tersebut, para pendeta meminta dirinya untuk membunuh Raja Purusada. Tetapi ia tidak mau, walaupun Dewi Pertiwi (Dewi Bumi) sekalipun membujuknya, ia tetap teguh memilih jalan untuk bertapa.

Ketika ia melanjutkan pengembaraannya, berjumpalah ia dengan seorang raksasa ganas berkepala gajah pemangsa manusia. Melihat Pangeran Sutasoma, raksasa tersebut hendak menjadikan dirinya sebagai mangsa dan terlibatlah perkelahian diantara mereka.

Dalam pertarungan tersebut, Pangeran Sutasoma berhasil menumbangkan raksasa itu hingga tersungkur ke tanah. Sadar akan kekuatan dan kesaktian Pangeran Sutasoma, raksasa itupun menyerah dan bertobat dihadapan sang Pangeran. Pangeranpun memberikan wejangan kepadanya untuk tidak membunuh lagi sesama makhluk hidup, Lalu raksasa berkepala gajah pun tunduk dan menjadi muridnya.

Pada perjalanan berikutnya, Pangeran Sutasoma dan muridnya bertemu dengan sosok naga yang jahat. Singkat cerita, Naga tersebut dapat dikalahkannya dan menjadi muridnya.

Ia pun sempat menjumpai seekor harimau betina yang lapar. Dikisahkan, harimau betina tersebut hendak memangsa anaknya sendiri. Melihat hal tersebut, Pangeran Sutasoma mencegah perbuatan harimau betina itu. Pangeran Sutasoma memberinya berbagai alasan, namun sang harimau tetap saja bersikeras.

Akhirnya Pangeran Sutasoma pun menawarkan dirinya untuk dijadikan santapan. Mendengar tawaran tersebut, sang Harimau tanpa berpikir panjang segera menerkam sang Pangeran dan menghisap darahnya.

Ilustrasi pengembaran Pangeran Sutasoma bersama muridnya. (Foto: Dongengbudaya)

Namun seketika harimau betina itupun tersadar dan menangis menyesali perbuatannya. Diwaktu yang bersamaan, datanglah Batara Indra (Raja Kahyangan) menghidupkan kembali sang Pangeran. Akhirnya Harimau betina itupun berserah diri dan menjadi pengikut Pangeran Sutasoma.

Tatkala itu, tengah terjadi pertempuran antara Raja Kalamasapada melawan Raja Dasabahu, yang masih merupakan sepupu dari Pangeran Sutasoma.

Secara tak sengaja di perjalanan, Pangeran Dasabahu berjumpa dengan Pangeran Sutasoma, lalu diajaknya lah pulang. Selama di Istana, Raja Dasabahu pun berniat untuk mengawinkan sang Pangeran dengan putrinya.

Singkat cerita, Pangeran Sutasoma menyetujui permintaan Raja Dasabahu dan pulang kembali ke negara Hastina. Dari hasil perkawinan tersebut, Ia pun dianugerahi seorang anak dan dinobatkan menjadi Raja Sutasoma.

Dilain tempat, Raja Purusada berhasil mengumpulkan 100 raja untuk dipersembahkan kepada Batara Kala (putera Dewa Siwa dengan Dewi Uma, yang merupakan Dewa Bawah Tanah). Tetapi Batara Kala tak mau memakan 100 Raja yang disajikan untuknya, ia malah menginginkan daging Raja Sutasoma.

Tak berpikir panjang, Raja Purusada pun berusaha untuk mengabulkan permintaan Batara Kala. Dalam penangkapan Raja Sutasoma, tak sedikitpun ia membela diri, namun ia meminta syarat agar ke 100 Raja yang hendak dijadikan persembahan agar dilepaskan.

Melihat kebaikan Raja Sutasoma, Raja Purusada pun tersentuh dan melepaskan semua 100 Raja itu lalu bertobat.

Mpu Tantular

Mpu Tantular merupakan seorang pujangga ternama sastra Jawa yang hidup pada pemerintahan Raja Rajasanagara (Hayam Wuruk). Ia merupakan putra dari Mpu Bahula yang dijelaskan dalam silsilah & kisah Bhagawanta oleh Mpu Bahula.

Dijelaskan, bahwa Mpu Tantular merupakan orang pandai di dalam berbagai ilmu filsafat. Tidak dapat seorangpun yang dapat menyamainya mengenai urusan kependetaan yang sama keutamaannya dengan kemapuan ayahnya.

Ida Mpu Tantular atau yang bergelar Danghyang Angsokanata Danghyang Angsokanata atau Mpu Wiranatha, berputra empat orang semuanya laki-laki, yakni:

  1. Seorang anak sulung bernama Mpu Danghyang Panawasikan.
  2. Anak nomor dua bergelar Mpu Bekung atau Danghyang Siddhimantra.
  3. Anak ke tiga bernama Mpu Danghyang Smaranatha.
  4. Dan yang terkecil bernama Mpu Danghyang Soma Kepakisan.

Menurut Zoetmulder, Mpu Tantular merupakan pujangga yang memeluk agama Buddha. Nama Mpu Tantular sendiri berarti, tan (tidak) dan tular (terpangaruh). Dengan demikian, citra Mpu Tantular seturut namanya adalah seorang Mpu (cendekiawan, pemikir, pujangga) yang berpendirian teguh, dan tidak mudah terpengaruh siapa pun.

Dalam Kitab Sutasoma, Mpu Tantular membubuhkan konsep persatuan yang merupakan faktor mendasar untuk membangkitkan kembali keterpurukan di Majapahit. Pandangan ini bukan semata khayalan seorang penyair dan sastrawan, tetapi hasil perenungan mendalam Mpu Tantular terkait realitas sosial masyarakat kala itu.

Ia menyadari bahwa Budhisme-Mahaya dan Hindu-Siwaisme memang merupakan praktik ritus dan teologi yang berbeda satu dengan lainnya. Namun, ketika bicara perihal tujuan tertingginya (ultimate reality) ia menyadari bahwa teologi Budhisme-Mahayana dan Hindu-Siwaisme itu niscaya tiba pada realitas yang satu dan sama.

Ilustrasi Mpu Tantular. (Foto: sinar5News)

Masih seturut Zoetmulder, poin substantif perihal harmoni atas perbedaan teologis antara Budhisme-Mahayana dan Hindu-Siwaisme itu bahkan ditegaskan dalam Kakawin Sutasoma sebagai “Mangkan ng jinatwa kalawan siwatattiva tunggal”, yakni “pada kenyataannya (yang paling dalam) Buddha dan Siwa adalah satu dan sama”.

Seorang Orientalis dan ahli bahasa Sanskerta berkebangsaan Belanda kelahiran Purworejo, Hendrik Kern (1833 – 1917) diketahui merupakan orang pertama yang menulis tentang terjadinya fenomena sinkretisme atau campuran (vermenging) antara Hindu-Shiwaisme dan Budhisme-Mahayana.

Tak kecuali, Agus Aris Munandar (2013) dalam Kemaritiman Majapahit Berdasarkan Data yang Tersedia menyimpulkan, bahwa penggabungan Siwa-Buddha adalah salah satu puncak peradaban Majapahit.

Pasalnya, dalam zaman Mataram Kuno di Jawa Tengah, juga zaman Airlangga dan Kadiri, ajaran Siwa dan Buddha masih berkembang secara terpisah.

Baca Juga:   Animo Masyarakat Jadi Relawan COVID-19 di Indonesia Bertambah, Kini Capai 17.616 Orang

Persemaian dari penggabungan Hindu-Siwa dan Budhisme-Mahayana barulah terjadi di era Singhasari dan kemudian dikembangkan lebih lanjut di era Majapahit. Saat itu dipahami bahwa hakikat tertinggi dari kedua agama itu, yaitu Siwadan Buddha, dipandang setara dan sederajat, tidak ada dharma yang mendua.

Selain itu, masih mengikuti Munandar, di tanah kelahirannya, di India sana, kedua agama itu selalu dalam kondisi yang bersaing dan konflik satu dengan lainnya. Fenomena ini nisbi tidak terjadi di Nusantara.

Pada titik ini, tak berlebihan jika dikatakan Mpu Tantular ialah pujangga besar. Meskipun hidup di zaman Majapahit abad ke-14, pemikirannya telah terbukti melompat jauh ke depan.

Mpu Tantular memang bisa dikatakan seorang filsuf yang jauh melampaui zamannya. Jauh sebelum para filsuf Eropa seperti Agostino Steuco (1497–1548), atau Marsilio Ficino (1433–1499), atau Giovanni Pico della Mirandola (1463–1494).

Atau bahkan jauh sebelum HP Blavatsky (1831–1891) dan Annie Besant (1847–1933) menelurkan ide “Kebijaksanaan Kuno” dan membentuk Masyarakat Teosofipada abad ke-19. Tentu juga melebihi sosok Aldous Huxley (1894 –1963) yang sohor sebagai pelopor kelahiran filsafat perenialisme di abad ke-20.

Secara tak langsung, Mpu Tantular sadar bahwa dirinya di abad ke-14 telah meletakkan fondasi titik temu teologis dalam khazanah keagamaan di Nusantara.

Menariknya, A Teeuw dan Stuart Owen Robson (1983) dalam “Kunjarakarna Dharmakathana: Liberation through the Law of Buddha” memaparkan bahwa hingga kini agama Hindu-Siwaisme dan Buddha-Mahayana dari era Kerajaan Majapahit masih menemukan kontinuitasnya di Bali. Senyawa kedua agama ini di Bali dikenal dengan sebutan “Siwa-Buddha”.

Terdapat dugaan, ia menulis Kakawin Sutasoma untuk mengkritik kebijakan Patih Gadjah Mada pada kala itu. Ketika fondasi yang dipakai oleh Sang Maha Patih guna menyatukan Nusantara begitu rapuh menggunakan strategi militer, ekonomi, dan agama.

Sebagai alternatif, sang Mpu Tantular menawarkan pendekatan budaya untuk mengatasi krisis multidimensi yang mendera Majapahit.

Mpu Tantular memang mengkritik Patih Gadjah Mada, tetapi sang Patih telah meletakkan fondasi pentingnya persatuan seluruh bangsa di tanah Nusantara. Politik Majapahit kala itu ingin ‘memeluk’ Nusantara secara keseluruhan dalam kerajaan agungnya.

Salah satu langkahnya, yaitu obsesi Patih Gadjah Mada dalam menyatukan seluruh Nusantara dengan Sumpah Palapanya. Sumpah yang tercetus sebagai bentuk pengabdian, pernyataan, pengharapan, dan pembuktian.

Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Patih Gadjah Mada dalam Kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca yang dikutip Slamet Muljana dalam Menuju Kemegahan (2015): Gadjah Mada berujar:

“Jika telah berhasil menundukkan Nusantara, saya baru akan istirahat. Jika Gurun (Lombok), Seran (Seram), Tanjung Pura (Kalimantan), Haru (Sumatera Utara), Pahang (Malaya), Dompo, Bali, Sunda, Sriwijaya (Palembang), Tumasik (Singapura) telah tunduk, saya baru akan istirahat.” Sumpah ini diucapkan sebagai janji oleh Gadjah Mada pada 1256 Saka atau 1334 Masehi.

Terlepas dari tujuan politik Kerajaan Majapahit, gagasan penyatuan Nusantara bukan hanya ambisi semata, tetapi juga renungan mendalam bahwa bangsa Nusantara merupakan kumpulan masyarakat yang meskipun berbeda-beda, tetapi mempunyai karakteristik sama sebagai sebuah bangsa.

Gerakan Kebhinnekaan 

Kakawin Sutasomo yang ditulis oleh Mpu Tantular di sekitar tahun 1350-an, tujuh abad silam, ternyata di antara isi pesannya terus bergulir hingga hari ini dan turut berproses membingkai negara kesatuan Indonesia.

Setiap peradaban yang diciptakan oleh bangsa Nusantara di beberapa tahapan masa yang tak lepas dari nilai-nilai yang harus mampu dipahami oleh generasi bangsa masa kini (milenial) maupun kedepannya.

Sejarah bangsa dari Republik ini telah dilalui banyak peristiwa pada era dan masanya. Di mana pada masa-masa itu menghasilkan banyak peradaban, tradisi, budaya, dan nilai-nilai sosial-masyarakat yang adiluhung. Dengan cara, memberikan penguatan pemahaman sejarah bangsa Indonesi. Seperti yang sempat ditekankan oleh cendekiawan Muslim, KH Said Aqil Siroj (2015).

“Man laisa lahu ardl, laisa lahu tarikh. Wa man laisa lahu tarikh, laisa lahu dzakiroh,” (barangsiapa tidak punya tanah air, maka tidak punya sejarah. Barangsiapa tidak punya sejarah, maka akan terlupakan).

Presiden RI ke-4, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pun sempat menyikapi keane karagaman bangsa Indonesia.

Ia menyebutkan bahwa “Semakin berbeda kita, semakin kita mengetahui titik-titik persatuan kita.” (Wisdom Gus Dur, 2014). Salah satu karakteristik bangsa Nusantara ialah berpikiran terbuka (eklektik).

Ia pun menyebutkan, bahwa ‘Indonesia lahir karena perbedaan, tanpa ada perbedaan tak ada Indonesia.’

Ilustrasi Keanekaragaman Indonesia. (Foto: Wartaplus)

Diharapkan pula, semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” yang merupakan ajaran luhur dapat diterapkan Bangsa Inonesia dalam menggaungkan semangat toleransi dan persatuan di dalam perbedaan.

Gerakan Kebhinnekaan harus dipahami sebagai sebuah kekuatan pemersatu bangsa yang keberadaannya tidak bisa dipungkiri. Kebhinnekaan juga harus dimaknai sebagai sebuah keragaman yang mempersatukan, menerima perbedaan sebagai sebuah kekuatan, bukan sebagai ancaman atau gangguan.

Semua budaya, agama dan suku yang ada tetap pada bentuknya masing-masing, dimana semua itu yang mempersatukannya adalah rasa nasionalisme dan kebanggaan sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

Kebhinnekaan adalah tonggak pemersatu bangsa yang harus dipandang dengan kebanggaan dan tak hanya dianggap hanya sekedar semboyan, melainkan penghayatan bagi setiap insan Indonesia.

Kebhinnekaan merupakan realitas bangsa yang tidak dapat dipungkiri keberadaannya untuk mendorong terciptanya perdamaian dalam kehidupan Bangsa dan Negara.

Tak lain, sebagai tuntunan perilaku rukun satu sama lainnya dan memerangi semua tindak Rasisme, Diskriminasi terlebih di era digital informasi yang pesat dan dinamis.

Berbahaya pula bila krisis identitas menggerus masadepan sebuah bangsa, salah satunya bagi kita sebagai generasi muda yang seharusnya paham akan sejarah bangsanya sendiri.

Sejarah bangsa Indonesia yang dikenal eklektik ini harus menjadi pijakan para generasi muda sebagai modal merawat kebinnekaan. Maka, gerakan ini tidak hanya merawat memori kolektif akan identitas orisinal bangsa Indonesia, tetapi juga sebagai upaya peneguhan negara lewat pengamalan nilai-nilai Pancasila. (ell/ras)

Sumber : 

  • Kelembagaan.perpusnas.go.id
  • Kompasiana “Menangkap Ajaran Bijak Kakawin Sutasoma” oleh Sri Wintala Achmad
  • Kitab Sutasoma “Mpu Tantular” (terjemah) oleh Pasma17 via wattpad
  • “Kakawin Sutasoma Sumber Frasa Bhinneka Tungggal Ika Dipetik” oleh zamane
  • NU.or.id “Spirit Kebhinnekaan Gadjah Mada dan Mpu Tantular” oleh Fathoni Ahmad
  • Indonesia.go.id “Sebuah Filsafat Perenialisme Tertua” oleh Waskito.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here