Derita Sepasang Tua, Bertahan Hidup dengan Rp10 Ribu Per Hari di Gubuk Nyaris Roboh

Ayub (51) dan Odah (57), pasutri asal Dusun Lebak Gede, RT01/11, Desa Sindanggalih, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. (Kiki Andriana/Notif.id)

PASANGAN suami istri berusia senja itu asyik memasukkan dan menyusun kerupuk dagangannya ke dalam plastik. Kerupuk dan plastiknya itu dibeli dari seorang bandar yang berada di wilayah Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.

Di ruangan sempit dari gubuk yang betul-betul sempit berukuran 4×4 meter, keduanya berjuang untuk hidup dengan mengambil keuntungan dari kerupuk yang jika sudah dikantongi, kelak dijual.

Kedua sepuh itu adalah Ayub (51) dan Odah (57), pasutri asal Dusun Lebak Gede, RT01/11, Desa Sindanggalih, Cimanggung, Sumedang. Di gubuk berbilik bambu itu, keduanya berpeluh. Tetapi, meski tampak begitu sengsara, keduanya tetap tegar.

Bagaimana tidak, kemiskinan bagi keduanya seperti rayap yang menggerogoti. Rayap itu pula yang membuat rumahnya saat ini tinggal menunggu roboh. Atapnya yang genting sudah banyak bagian bocor selama bertahun-tahun, dan keduanya tetap tinggal di gubuk panggung itu.

Baca Juga:   Lahan Penyimpanan Limbah B3 di Sumedang Terbakar

Tak ada perabotan mahal di gubuk itu, yang ada hanyalah kursi reyot dan perabotan rumah tangga yang sangat sederhana. Rumah itu dibagi menjadi tiga. satu kamar sempit, satu ruangan tamu, dan satunya dijadikan dapur.

Setiap harinya, Ayub  berjuang mencari rezeki yang halal. Setiap hari ia menyusuri kampung demi kampung untuk menjual kerupuk dengan berjalan kaki.

Kepada Notif dirinya bercerita jika setiap harinya ia memikul kerupuknya dari rumah ke rumah dengan berjalan kaki.

“Kalau sekarang jualannya berjalan kaki, kalau dulu saya jualannya memakai sepeda yang diberi dari tetangga, tetapi sepeda tersebut sudah saya jual pada tahun 2015 lalu, karena tidak memiliki modal,” ucap Ayub ditemui Notif di kediamannya, Jumat, 18 September 2020.

Baca Juga:   Ngeri! Warga Cimanggung Sumedang Ini Tewas Dengan Luka Menganga Dibagian Dada Setelah Dibacok Kawanan Orang

Ayub menyebutkan, cukup dengan modal sebesar Rp60 ribu, ia bisa mendapatkan kerupuk untuk dikemasnya kembali ke dalam 40 bungkus.

“Harganya Rp 2 ribu per bungkusnya, kalau habis saya memiliki keuntungan sebesar Rp20 ribu, itupun habisnya selama 2 hari,” kata dia.

Ayub mengatakan, rumah miliknya itu juga belum memiliki kamar mandi. Mereka terpaksa untuk menempuh jarak sekitar 600 meter ke kali Cimande. Kali itu digunakannya bersama istrinya sebagai tempat buang air dan mandi. Di musim hujan, pasutri tersebut memanfaatkan tadahan air hujan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

“Mandi dan buang hajatnya di kali Cimande, dan jika malam hari ingin buang hajat, saya menahannya karena takut,” tuturnya.

Baca Juga:   TB Hasanuddin: Kemiskinan dan Pendidikan Bukan Pemicu Paham Radikalisme dan Terorisme

Ditambahkan Ayub, dirinya mengaku rumah tersebut ia bangun bukan dari dari bahan material yang baru.

“Rumah ini dibangun dengan kayu dan bilik bekas, barang-barangnya dikasih oleh adik saya dan tetangga,” katanya.

Selain itu, Ayub menuturkan, pada 2015 lalu dirinya telah didatangi oleh seseorang yang mengaku jika rumah tinggalnya itu akan didaftarkan ke program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) yang bersumber dari anggaran pemerintah. Tetapi, kata dia, bantuan tersebut pun tak kunjung datang.

“Hingga saat ini, rumah kami belum tersentuh bantuan, namun kalau bantuan Sembako Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) saya menerimanya, dan saya tedaftar peserta Kartu Indonesia Sehat (KIS),” kata Ayub seraya berharap rumah miliknya tersebut segera mendapatkan bantuan dari program Rutilahu dari pemerintah. (kia/mrb)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here