Menyedihkan! Meski Tinggal di Samping Kantor Dinkes Sumedang, Balita Pengidap Hidrosefalus Ini Luput dari Perhatian

Andhin Saputri, balita buah hati dari pasangan Dadan Kardani (50) dan Yuli Istiana (26) mengidap hidrosefalus.(kiki andriana/notif.id)

NOTIF.ID, SUMEDANG – Yuli Istiana (26) terlihat hanya pasrah dan ikhlas saat buah hatinya terbaring lemas di pangkuannya. Sesekali wajahnya menyiratkan kesedihan saat mendengar tangisan lirih buah hatinya yang menahan rasa sakit akibat selang yang terpasang di kepalanya.

Yuli terus menatap wajah mungil anaknya saat buah hatinya mengucurkan air mata. Tangannya terus mengusap pipi anaknya yang telah basah. Yuli seolah memberikan isyarat agar putri kecilnya tetap kuat sambil menegarkan hatinya sendiri.

Andhin Saputri, buah hati dari pasangan Dadan Kardani (50) dan Yuli Istiana (26) ini tak bisa menolak apapun yang akan terjadi dengan kondisi kesehatannya yang kian hari semakin memprihatinkan, sebab kata dokter Andhin telah mengidap Hidrosefalus.

Andhin yang tinggal bersama kedua orang tuanya di sebuah kamar kontrakan berukuran kecil yang berada di Lingkungan Palasari, RT 01/14, Kelurahan Kota Kulon, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat itu setiap harinya hanya bisa tidur beralaskan kasur tipis.

“Andhin lahir dalam keadaan normal, dan saat lahir bobot Andhin seberat 3 kilogram, namun setelah menginjak usia satu tahun berat badan Andhin hanya 5 kilogram,” kata Yuli di kamar kontrakannya Jumat 21 Agustus 2020.

Waktu usia 6 bulan, kata Yuli, Andhin dioperasi pemasangan selang untuk mengalirkan cairan di kepala ke tubuhnya.

“Ukuran kepala Andhin memang sedikit mengecil, tapi tubuhnya juga tetap kecil enggak berkembang,” ucapnya.

Dikatakan Yuli, semenjak buah hatinya menjalani operasi, setiap sebulan sekali Yuli harus membawa Andhin untuk kontrol ke RSUD Sumedang.

“Biaya kontrol, paling tidak harus mengeluarkan uang sebanyak Rp300 ribu dengan rincian Rp100 ribu untuk daftar, Rp200 ribu untuk membeli obat,” kata Yuli.

Yuli menyebutkan, meski biaya operasi anaknya gratis, dirinya tetap mengeluarkan biaya saat kontrol dan membeli obat. Menurutnya, Kartu Jamkesda yang ia miliki hanya dapat membantu biaya operasinya saja.

“Operasinya sekitar enam bulan yang lalu, dan kata dokter kalau sudah satu tahun selangnya harus diganti,” kata dia.

Dikatakan Yuli, ada sedikit perubahan setelah buah hatinya menjalani operasi.

“Kepalanya Andien lumayan mengecil. Tapi kemarin-kemarin dari telinganya mengeluarkan cairan. Pas saya lihat, cairannya banyak belatung,” ucapnya.

Dikatakan dia, Andhin pun kembali dibawa ke rumah sakit untuk berobat.

“Kata dokter enggak ada luka, tapi belatungnya keluar dari dalam kepala Andhin,” katanya.

Yuli mengatakan, pihaknya selalu diwarnai perasaan yang tidak tenang, pasalnya selain buah hatinya mengeluarkan cairan dari telinga, dokter telah memvonis otak buah hatinya tidak akan bisa berkembang lagi akibat cairan yang ada didalam otaknya.

“Kata dokter, otak Andien sudah enggak bisa berkembang, katanya dokter kepalanya Andien sudah tidak ada otaknya. Saya yakin Andien bisa sembuh,” ujarnya.

“Untuk berobat saya kadang pakai Jamkesda, saran orang-orang pakai itu karena saya enggak punya BPJS,” sambung Yuli.

Ditambahkan Yuli, biaya pengobatan Andhin dinilai sangat sangat mahal, pasalnya untuk kebutuhan sehari-hari saja sudah pas-pasan karena sang suami bekerja sebagai buruh serabutan. Yuli mengaku, cukup sulit untuk mendapatkan bantuan pemerintah. Padahal, lanjut dia, kamar kontrakan yang ia tinggali persis di samping Kantor Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sumedang.

“Belum pernah dapat bantuan, kalau kata RT alasannya karena saya bukan warga sini, jadi tidak bisa bantu,” kata Yuli seraya berharap ada bantuan dari para dermawan untuk biaya pengobatan buah hatinya.(kia/ell)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here