Namanya Dicatut dalam AJB Lahan, Perumahan SBG Cimanggung Dipasangi Spanduk oleh Para Penjual Lahan Sebagai Bentuk Protes

Pemasangan spanduk bertuliskan nada protes sejumlah penjual lahan di area Perumahan SBG Cimanggung.(kiki andriana/notif.id)

NOTIF.ID, SUMEDANG – Sengketa kepemilikan tanah seluas 80 hektar lebih yang kini diklaim dan dikuasai perusahaan pengembang perumahan PT Satria Bumintara Gemilang (SBG) di Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, tak kunjung selesai.

Berdasarkan pantauan Notif, Sabtu 15 Agustus 220, sejumlah masyarakat di Desa Cihanjuang, Kecamatan Cimanggung yang juga para penjual lahan beramai-ramai memasang spanduk yang bertuliskan sebuah pernyataan bahwa mereka telah menjual tanahnya kepada Cahro Suhendar Wikarta, mantan Direktur Utama PT SBG.

Spanduk tersebut dippasang di luar siteplain perumahan PT SBG tepatnya di Desa Cihanjuang, Kecamatan Cimanggung.

Uu Supriatna, salah satu warga mengatakan, pemasangan spanduk tersebut merupakan inisiatif para penjual lahan. Mereka, kata dia, memasang spanduk tersebut sebagai bentuk prostes dan mengaku tidak mendapat intervensi dari pihak manapun.

“Tidak ada intervensi, hal ini dilakukan atas inisiatif dari warga (penjual lahan saat itu),” kata Uu saat ditemui Notif di kediamannya, Sabtu 15 Agustus 2020.

Ditambahkan Uu, pihaknya menduga proses pembebasan lahan tersebut melibatkan mafia. Ia pun mengaku kecewa pasalnya namanya dicatut dalam akta jual beli AJB yang telah menjual lahannya ke seseorang yang bernama Bayu Halim.

Baca Juga:   Sengketa Kepemilikan Tanah Proyek Perumahan SBG Cimanggung Terus Berlanjut, Mantan Dirut SBG akan Melapor ke Polda

“Alamat saya dipalsukan, dan saya pun tidak pernah menjual kepada orang yang bernama Bayu Halim. Tetapi di Akta Jual Beli (AJB) nomor 387 nama saya dicatut dan ditulis jika saya menjual kepada Bayu Halim, padahal saya hanya menjual kepada Pak Cahro. Ini kan aneh,” kata dia.

Ditambahkan Uu, pihaknya meminta kepada Kepala Desa Cihanjuang yang kini tengah menjabat untuk membantu dan terbuka menyikapi permasalahan ini.

“Kami selalu meminta kepada Pak Kades untuk difasilitasi, tetapi Pak Kadesnya selalu menghindar dengan alasan yang berbelit-belit, ini sangat aneh bagi kami,” kata dia.

Ditempat terpisah, warga lainnya yang bernama Kamtu (77) menjelaskan, saat pembebasan lahan PT SBG pada 1994 lalu, pihaknya mengaku sebagai penjual lahan juga sebagai mediator. Tetapi, kata dia, hingga saat ini belum menerima uang pembebasan lahan yang telah ia jual.

Baca Juga:   Aktivitas Galian Tanah PT Amanah Sebabkan Warga Perumahan SBG Menderita Berbagai Penyakit

“Saat itu, uangnya sudah dibayarkan oleh Pak Cahro, namun saya tertipu oleh Zaenal Abdin alias Ian, uangnya dibawa kabur oleh dia,” katanya

Menurut Kamtu, pembayaran atas penjualan lahan miliknya tersebut dilakukan oleh Cahro di rumahnya yang berlokasi di Desa Mekar Bakti, Kecamatan Pamulihan. Namun, lanjut dia, setelah uang tersebut diterima, esok harinya uang tersebut diminta lagi oleh Zaenal Abidin dengan alasan hendak dipinjam dulu.

“Saat itu hingga sekarang saya engak ketemu lagi sama Zaenal. Mau urusan sampai kapan pun saya tidak akan takut, karena memang saya belum menerima uang atas penjualan lahan tersebut,” kata dia.

Ucapan senada dilontarkan oleh Eman (63), warga RT 03/06, Desa Cuhanjuang, pihaknya mengatakan, pemasangan spanduk ini merupakan sikap penjual untuk membuktikan kebenaran jika para penjual lahan tidak menjual terhadap pihak lain selain kepada Cahro Suhendar Wikarta.

“Uangnya sudah kami terima dari Pak Cahro, dan saya tidak ingin menanggung dosa atas pengakuan pihak lain, saya hanya menjual kepada Pak Cahro. Makanya saya meminta kepada kepala desa Cihanjuang untuk membereskan administrasinya dan terbuka terhadap warga (para penjual tanah),” ucapnya.

Baca Juga:   Buntut Sengketa Proyek Perumahan SBG Cimanggung Sumedang, Perusahaan Pengembang Klaim Kantongi Legalitas dan SHGB yang Sah

Sementara itu, Perwakilan PT SBG, Juki Mulyawan menuturkan, pihaknya telah mengetahui kabar adanya pemasangan spanduk yang dilakukan oleh sejumlah warga.

“Iya kami sudah mengetahui, sudah kami perintahkan petugas untuk mencabutnya kembali spanduk tersebut,” kata Juki dihubungi Notif melalui sambungan selular, Minggu 16 Agustus 2020.

Juki mengatakan, tindakan warga tersebut dinilai telah mengarah ke tindakan anarkis dan teror, baik kepada PT SBG maupun kepada warga Perumahan SBG.

“Mulai hari ini, esok atau lusa mereka (warga) kembali memasang spanduk atau bentuk lainnya, akan kami laporkan kepada pihak berwajib,” tutur dia.

Selain itu, Juki menambahkan, jika memang ada permasalahan maka harus diselesaikan secara hukum.

“Katanya mereka (Cahro Suhendar Wikarta) akan melaporkan ke kepolisian, tetapi kenapa ada aksi warga seperti itu. Bila mereka tidak melaporkan ke pihak berwajib, maka kami yang akan melaporkannya,” ujar Juki.(kia/ras)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here