Kaya Akan Protein, Jangkrik Disebut Sebagai Alternatif Pangan

Olahan Makanan Jangkrik Khas Thailand. (Foto: net)

NOTIF.ID, FOOD – Apakah kalian tahu bahwa jangkrik kaya akan kandungan protein? jenis serangga atau hama yang merupakan musuh para petani dan biasa digunakan sebagai pakan unggas ternyata memiliki nilai gizi protein berlebih.

Dilansir dari Tempo.co, pakar sistem integrasi peternakan dari IPB University, Asnath M. Fuah, melalui keterangan tertulisnya mengatakan, Jangkrik dapat dijadikan olahan pangan alternatif sehari-hari

“Jangkrik bisa dijadikan olahan pangan asal pengolahannya baik dan berlabel dan kita bisa membawanya ke market yang luas,” tulis pernyataanya, pada Rabu 12 Agustus 2020.

Dikutip dari Boombastis, pada tahun 2013 silam PBB pernah mengeluarkan sebuah laporan bahwa Dunia ini sudah harus mulai mengonsumsi serangga.

Kandungan protein yang terkandung di dalam serangga ternyata cukup mumpuni untuk memecah kelaparan. Kawasan-kawasan rawan kelaparan seperti Afrika bisa mengolah serangga sebagai bahan pengganti protein yang lebih murah.

Dari data yang dikelola oleh PBB, ditemukan sebuah fakta yang cukup mencengangkan. Dengan kandungan protein yang sama, serangga lebih hemat biaya produksi hingga 12 kali. Artinya dengan biaya produksi yang sama, protein yang bisa dihasilkan bisa mencapai 12 kali lipat lebih banyak.

Namun, masyarakat di Indonesia terbiasa menggunakan jangkrik sebagai pakan unggas. Adanya permintaan tinggi untuk pakan unggas tersebut, Menurut Asnath, membuat pemasok jangkrik menjadi usaha budi daya yang memiliki potensi ekonomi yang menguntungkan.

“Terutama budidaya jangkrik jenis kliring, cendawang, dan kalung yang memiliki produktivitas tinggi,” ucapnya.

Di lain tempat, Pakar Satwa Harapan Fakultas Peternakan IPB University, Yuni Cahya Endrawati yang menjelaskan mengenai beberapa hal yang harus diperhatikan oleh peternak yang hendak membudidayakan jangkrik.

Ia menyebutkan, diantaranya adalah kondisi lingkungan terutama suhu dan kelembapan. Tempat budi daya harus sama dengan habitat aslinya. Selain itu, tipe opositor pada tubuh tiap jenis jangkrik harus diperhatikan karena akan menentukan manajemen penetasannya.

Berdasarkan perbandingan beberapa jenis jangkrik yang dibudidayakan di Indonesia, menurut Yuni, jangkrik bimaculatus atau kalung paling unggul baik dari umur hingga kandungan nutrisi lebih baik.

“Jangkrik jenis mitratus memiliki penetasan yang lebih tinggi, tapi karakternya yang lincah membutuhkan penanganan agak sulit. Jadi inilah alasan mengapa bimaculatus lebih unggul.” ungkapnya.

Ketua Kelompok Ternak Jangkrik Perwira Bekasi, Ahmad Anwari mengatakan, budi daya jangkrik selain menguntungkan juga tidak memerlukan halaman yang luas untuk budidayanya.

“Pakan pendamping pun sangat mudah didapatkan seperti daun pisang maupun rerumputan yang berkadar air tinggi,” katanya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here