Inspiratif! Setengah Abad Lebih Mengabdi, Abah Ii Suparlan Bertekad Dedikasikan Diri Menjadi Anggota Linmas Seumur Hidup

Abah Ii Suparlan (85) yang masih aktif menjadi anggota Linmas Desa Tenjolaya, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung.(wisnu saputra/notif.id)

NOTIF.ID, KABUPATEN BANDUNG – Siang itu Ii Suparlan berjalan sedikit cepat hingga terhuyung-huyung untuk bergegas kembali ke rumah dari sawah yang telah ia garap sedari pagi. Ia ingin segera berganti pakaian seragam berwarna hijau kebanggaannya. Sebab, ia mendapat tugas dari Kepala Desa Tenjolaya, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung, untuk mengecek persiapan menghias kampung menyambut HUT RI ke 75.

Sesampai di rumah, tak butuh waktu banyak ia mengganti pakaiannya dengan seragam pakaian serba hijau lengkap dengan topinya. Kesigapan nampak diperlihatkannya. Ia kemudian kembali berjalan untuk mengelilingi kampung, melihat-lihat persiapan warga di Kampung Baru Embe RT 04/24 yang telah bersiap menghias kampung dengan aneka pernak-pernik merah putih.

Beberapa jam telah berlalu. Abah, sapaan akrabnya di kampung, akhirnya pulang. Sang istri, Atikah (70) telah menanti di teras depan rumah sambil menggendong kucing oranye kesayangannya. Telah disediakannya segelas kopi untuk suami tercinta di meja ruang tamu. Abah kemudian meneguk segelas kopi itu secara perlahan sebelum merebahkan badannya yang telah renta dimakan usia. 10 April 2020 lalu, usianya genap 85 tahun.

Aktivitas sehari-hari Abah memang sebagai petani. Namun ia juga seorang anggota perlindungan masyarakat (Linmas). Lebih dari setengah abad ia menjalani profesi itu dengan hanya mengandalkan uang insentif pemberian dari pemerintah. Tanpa gaji sebesar Upah Minimum Kota/Kabupaten (UMK). Namun begitu, ia tak pernah mengeluh.

Menjadi anggota Linmas pun sudah sangat cukup menjadi kebanggan tersendiri. Karena memang, sedari mudanya ia berkeinginan mengabdikan dirinya kepada negara dan masyarakat. Baginya, menjadi anggota Linmas tak berbeda jauh dengan polisi dan tentara. Pasalnya, sama-sama mengabdi kepada negara.

“Mulai jadi Linmas itu pas masih muda, sebelum menikah. Masih belasan tahun. Lupa kapan tahun berapa. Saat itu namanya masih Organisasi Keamanan Desa (OKD), bukan Hansip bukan Linmas. Abah jadi Linmas sudah dari sejak empat kepala desa yang telah meninggal,” katanya mengawali kisah ceritanya kepada Notif di kediamannya, Rabu 5 Agustus 2020.

Baca Juga:   Bupati Sumedang Melarang Warga Merayakan Perlombaan 17 Agustus yang Mengundang Kerumunan Massa

Selama menjadi OKD dulunya, Abah sempat ikut menjalankan operasi militer bersama TNI AD Batalyon 327/Raider Banjar Kedaton (kala itu) yang saat ini berubah nama menjadi Yonif 300/Raider Brajawijaya yang bermaskas di Cianjur, Jawa Barat. Pasukan elit TNI AD ini mempunyai tugas pokok mencari, mendekati, menawan, dan menghancurkan musuh untuk sasaran yang strategis.

Operasi yang ia ikuti cukup banyak. Salah satu yang ia kenang adalah operasi pengamanan dan penangkapan gerakan DI/TII pimpinan Karto Suwiryo, hingga gerakan terlarang Partai Komunis Indonesia (PKI) di Jawa Barat. Kala itu, Abah menjadi komandan regu OKD Tenjolaya.

Abah sendiri tak menghitung secara pasti berapa kali ikut dalam operasi itu. Yang diingatnya, sudah berpuluh kali ia meninggalkan anak istri demi mengemban tugas yang ia sebut sebagai tugas negara. Kendati demikian, anak dan istri Abah tak pernah melarang. Mereka justru bangga dengan jiwa nasionalis Abah.

“Dulu kalau ikut operasi Abah dipersenjatai. Pakai senapan api. Senapannya tidak otomatis jaman dulu mah. Sekali kokang saja. Setelah dikokang harus mundur untuk diisi peluru lagi. Enggak seperti sekarang senapannya,” kata dia.

Ayah dari empat otang anak ini bercerita, menjadi OKD dibutuhkan nyali yang besar. Setiap diajak operasi kemiliteran, OKD-lah yang menjadi garda terdepan. Namun itulah yang manjadi dasar kebanggannya menjadi OKD. Sebab anggota OKD ikut berjuang membela kedaulatan negara Indonesia. Sekalipun nyawa taruhannya.

Meski sudah memasuki usia senja, Abah sendiri tak ingin dipensiunkan. Abah mengaku ingin menjadi anggota Linmas seumur hidup, hingga Tuhan Sang Pencipta Alam memanggilnya. “Enggak mau pensiun. Mau sampai mati saja Abah jadi Linmas. Karena jadi Linmas itu enak, menyenangkan, buat Abah seperti muda lagi,” kata Kakek 7 orang cucu ini dengan penuh semangat.

Abah berharap, ada generasi muda yang bisa melanjutkan semangatnya sebagai pengabdi negara. Ia meminta agar generasi tak perlu malu untuk berprofesi seperti yang ia tekuni saat ini. Meski tak memiliki gaji yang besar, namun rasa kepuasan dan pengalaman untuk membela negara menjadi upah yang begitu mahal dan tak dapat tergantikan.

Baca Juga:   Desa Tenjolaya Berhasil Menjadi Kampung Tangguh Covid-19 Terbaik Tingkat Polresta Bandung

Sementara itu, Ani Setiani (35) anak bungsu Abah sangat bangga dengan keputusan ayahnya itu yang tak ingin berhenti menjadi pelayan masyarakat. Ia bahkan terus mendukung apa yang ingin diperbuat ayahnya disisa usianya yang sudah senja.

“Selagi itu positif dan untuk mengabdi negara saya dukung. Keluarga juga dukung. Memang kami (anak Abah) sudah meminta Abah untuk pensiun. Tapi Abah enggak mau. Katanya ingin sampai mati jadi Linmas. Ya apa daya, kami hanya bisa mensupport saja, ” kata dia.

Dimata Ani, ayahnya adalah sosok yang pekerja keras dan selalu memliki semangat juang yang tinggi. Terlebih semangat saat mengemban tugas dari desa. Menurut Ani, Abah tak pernah sekali saja mangkir jika ada perintah dari kepala desa.

“Walaupun sedang di sawah kalau ada perintah tugas, langsung cepat-cepat pulang dan pergi menyelesaikan tugas. Abah itu yang terutama adalah kepentingan masyarakat dulu,” katanya.

Abah Ii Suparlan bersama Kepala Desa Tenjolaya Ismawanto Somantri.(r wisnu saputra/notif.id)

Sementara itu Kepala Desa Tenjolaya, Ismawanto Somantri cukup bangga dengan semangat yang dimiliki Ii Suparlan. Hingga senja, Ii masih semangat berjuang dan tangguh untuk melayani masyarakat. Menurutnya, sosok Ii dinilai cukup menginspirasi dan bisa dijadikan motivasi bagi generasi muda.

“Sangat bangga sekali. Saya sendiri juga tidak akan pernah memberhentikan Abah sebagai anggota Linmas. Karena memang itu adalah kemauannya untuk menjadi Linmas seumur hidup. Dan ini adalah bentuk apresiasi dari saya,” kata Ismawanto yang mendiang ayahnya juga seorang anggota Linmas dan juga mantan komandan regu dari Ii Suparlan.

Ismawanto menuturkan, saat ini di Desa Tenjolaya ada sebanyak 50 orang anggota Linmas. Jumlah ini melebihi dari anggota Linmas di desa lain yang ada di Kabupaten Bandung.

Ke 50 orang anggota Linmas tersebut selalu dilibatkan dalam setiap kegiatan yang ada di Desa Tenjolaya. Karena kekompakan dan semangat juang mengabdi yang tinggi, Ismawanto tak segan-segan memberikan perhatian khusus kepada para anggota Linmasnya itu.

Baca Juga:   Meski Memiliki Andil dalam Memerdekan Indonesia dari Belenggu Penjajah, Pesantren Masih Kerap Dipojokkan Jadi Sarang Teroris

“Perhatian khusus terus kami berikan. Terus terang kami sangat terbantu sekali dengan adanya mereka. Sebagai anak dari anggota Linmas, saya paham betul kebutuhan yang mereka perlukan. Makanya kami terus perhatikan mereka. Kalau ada yang sakit pasti kami urus,” kata dia.

Ismawanto berharap generasi muda bisa termotivasi dengan sikap tanggung Abah yang tetap setia mengabdi kepada negara hingga usianya telah lanjut.

“Saya berharap ada generasi muda yang meneruskan semangat Abah. Terlebih di momen menjelang HUT kemerdekaan Indonesia ke 75 ini,” katanya.

Kabid Linmas Satpol PP Kabupaten Bandung Rahmatullah Mukti Prabowo.(notif.id)

Sementara itu, Kabid Linmas Satpol PP Kabupaten Bandung Rahmatullah Mukti Prabowo memberikan apresiasi kepada Ii Suparlan dengan tidak memberhentikannya. Padahal jika sesuai aturan, anggota Linmas harus pensiun jika usianya menginjak 55 tahun.

“Kami hargai semangatnya karena masih mau mengabdi. Beliau sendiri bilang ke saya jika tidak mau dipensiunkan dan ingin seumur hidupnya menjadi anggota Linmas,” kata dia.

Bowo sapaan akrabnya menuturkan, menjadi anggota Linmas bukanlah sebuah profesi yang tidak elok. Justru anggota Linmas menjadi salah satu profesi yang memiliki dasar bela negara.

Oleh sebab itu, kata Bowo, saat ini banyak generasi muda yang ingin menjadi anggota Linmas. Meski tak berupah besar, namun menjadi anggota Linmas bisa mendapat pengalaman luar biasa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Untuk di Kabupaten Bandung sendiri saat ini ada sekitar 5.600 anggota Linmas yang tersebar di setiap desa. Setiap desa minimal memiliki 20 orang anggota Linmas,” kata dia.

Bowo menambahkan, peran yang begitu besar anggota Linmas dalam kehidupan masyarakat desa membuat Pemkab Bandung ingin melakukan perubahan kesejahteraan. Oleh sebab itu, saat ini insentif bulanan anggota Linmas di Kabupaten Bandung dinaikkan.

“Ada kenaikan Rp25 ribu insentif per bulannya. Jadi sekarang per bulan Rp100 ribu setiap orangnya. Dibayarnya per tiga bulan. Untuk jaminan kesehatannya sudah tercover BPJS yang dibiayai oleh dana desa,” kata dia.(put/ras)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here