Selebritas Bisa Menjadi Penentu Kemenangan Pilbup Bandung 2020 di Era Dinamika Politik Elektoral

  • Whatsapp
Direktur Eksekutif Lingkar Kajian Komunikasi dan Politik (LKKP), Adiyana Slamet.(ist)
Perkiraan waktu baca: 2 menit

NOTIF.ID, KABUPATEN BANDUNG – Tahun 2020 menjadi era dinamika politik elektoral di Indonesia. Pasalnya, Desember mendatang sejumlah daerah melaksanakan Pilkada langsung secara serentak gelombang keempat. Sejumlah partai politik pun berlomba-lomba menggaet figur dari kalangan selebritas untuk mendongkrak perolehan suara pada semua segmentasi pemilih demi meraih kemenangan dalam kontestasi.

Pengamat Komunikasi Politik Unikom Bandung yang juga Direktur Eksekutif Lingkar Kajian Komunikasi dan Politik (LKKP) Adiyana Slamet menuturkan, partai politik yang mengusung figur dari kalangan selebritas mempunyai modal dasar sebagai awal untuk meraih kemenangan.

Read More

Dalam persaingan partai politik kontestan harus mampu menempatkan produk politik dan image politik dalam benak masyarakat. Maka dari itu, diperlukan selebritas untuk memenangi kontestasi tersebut, tak terkecuali di Pilbup Bandung 2020. Pelaksanaan Pilkada langsung secara serentak ini menunjukan bahwa Kabupaten Bandung tengah memasuki babak baru menuju good governance dan clean government.

“2020 ini merupakan dinamika politik baru. Kenapa? Ada faktor dimana kalangan selebritas diyakini bisa meruntuhkan kekuasaan yang telah lama dikuasai. Terlebih ada indikasi dari jenuhnya masyarakat dengan sitem oligarki, di Kabupaten Bandung” kata Adiyana saat dihubungi, Rabu 5 Agustus 2020.

Selain itu, tambah Adiyana, partai politik juga berlomba untuk memenangkan Pilgub di tahun 2023 dan Pilpres serta Pileg di tahun 2024. Sehingga, kata dia, kepopularitasan selebritas memang digadang-gadang menjadi senjata utama partai politik.

Terlebih, di dalam sistem demokrasi elektoral, selebritas memungkinkan bisa merepositioning politik kandidat pasangannya. Namun, kata dia, parpol juga tak sembarangan memilih atau memberikan rekomendasi kepada figur dari kalangan selebritas.

“Tentu yang dilihat parpol adalah modal dasar figur itu (popularitas dan elektabilitas). Ini sudah hal yang dominan dalam memberikan SK rekomendasi,” ucapnya.

Menurut dia, jika dilihat dari sisi positifnya selebritas yang memiliki modal dasar memang berimplikasi kepada voters (pemilih). Sebab, dengan strategi repositioning politik, maka daerah dimana votersnya lemah bagi pasangannya bisa diambil alih sang selebritas hanya dengan dembel-embel keartisannya yang tentu saja tingkat kepopularitasannya cukup tinggi.

“Repositioning politik ini menjadi perlu. Dimana pasangan sang artis yang berasal dari kader murni partai tapi di suatu daerahnya votersnya lemah, bisa didongkrak oleh popularitas sang artis,” kata kandidat doktor komunikasi politik Unpad ini.

Kendati demikian, kata dia, dalam strategi demokrasi elektoral, kepopularitsan tinggi bukan menjadi penentu. Parpol harus betul-betul jeli melihat potensi kapasitas dan kredibilitas sang selebritas agar betul-betul meningkatkan elektabilitas kandidat pasangan calon.

“Jangan terkesan instan memilih artis hanya gagal pengkaderan dimana kader tidak layak untuk didorong. politik instan dan tanpa pembekalan. Asal mereka terkenal sudah cukup menjadi sumber daya terjun ke dunia politik. Alhasil, popularitas dan ketenaran menjadi syarat no satu. Salah besar jika parpol hanya melihat artis dari konteks keartisannya saja. Karena di demokrasi elektoral ada aturan mainnya. Popularitas bukan hal yang mutlak. Harus diimbangi kapasitas di diri si artis. Baik kapasitas pendidikan politiknya, kredibilitas, elektabilitas dan aksepbilitasnya,” kata dia.(put/ell)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *