Pengeboran Sumur Panas Bumi Baru Dianggap Merugikan Masyarakat Pangalengan, Ratusan Massa Geruduk PT Star Energy

Ratusan massa di Pangalengan, Kabupaten Bandung, berunjuk rasa menuntut PT Star Energy hentikan aktivitas pengeboran sumur panas bumi baru, Selasa 4 Agustus 2020. (notif.id)

NOTIF.ID, KABUPATEN BANDUNG – Ratusan orang massayang tergabung dalam Pangalengan Bangkit menggelar aksi unjuk rasa di area helipad milik PT Star Energy Geothermal (persero). Warga dari Desa Margamukti dan Desa Sukamanah itu menuntut PT Star Energy untuk tidak melakukan pengeboran panas bumi baru di wilayah Kecamatan Pangalengan.

Tuntutan itu disampaikan oleh pengunjuk rasa dengan membawa sejumlah kertas yang bertuliskan sejumlah penolakan dan kerugian masyarakat Pangalengan akibat pengeboran panas bumi yang dilakukan oleh perusahaan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) itu.

Koordinator aksi Pangalengan Bangkit, Iman Abdurahman mengatakan, selama kurang lebih 20 tahun berdiri, perusahaan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Star Energy Geothermal, sama sekali tidak membawa manfaat bagi masyarakat di 13 desa di Pangalengan. Alih-alih membawa manfaat, justru pada 2015 lalu menyebabkan bencana longsor akibat ledakan pipa geothermal hingga mengubur Kampung Cibitung, Desa Margamukti dan menewaskan puluhan nyawa warga.

“Sekarang mereka akan menambah sumur baru. Dimana aktivitas penggalian sumur itu juga membabat tanaman sayuran milik para petani disini, pembabatan lahan pertanian seluas kurang lebih 6 hektar itu dilakukan pihak Star Energy tanpa permisi kepada para petani,” kata Iman disela aksi unjuk rasa, Rabu 4 Juli 2020.

Penggalian sumur baru yang dilakukan diwilayah Panon Arum Desa Margamukti, selain merusak tanaman sayuran milik masyarakat sekitar, dikhawatirkan juga dapat merusak kelestarian lingkungan. Ancaman kekeringan dampak dari pengeboran sumur panas bumi tersebut.

“Dari berbagai sumber menunjukan jika keberadaan sumur panas bumi dimanapun juga menyebabkan hilangnya sumber air bersih. Selain itu, ancaman bencana alam seperti longsor terus membayangi kami,” ujarnya.

Selama ini, lanjut Iman, pihak Star Energy Geothermal telah melakukan pengeboran 17 sumur yang sudah beroperasi. Namun selain ke 17 sumur tersebut, terdapat beberaapa sumur yang diterlantarkan begitu saja. Sumur sumur yang terbengkalai hanya ditutup dan diingkari agar tidak ada masyarakat sekitar yang masuk ke area sumur.

“Beberapa sumur dibiarkan terbengkalai, kok sekarang malah membuat sumur baru,” katanya.

Iman menegaskan, berdirinya PLTU Star Energy Geothermal, masyarakat Kecamatan Pangalengan tak merasakan manfaat apa-apa. Adapun Corporate Social Responsibility (CSR) sebesar Rp120 juta per tahun untuk tiap desa, terbilang kecil ketimbang kerugian moril dan materil masyarakat Pangalengan.

“Tidak ada manfaat yang kami rasakan dari keberadaan Star Energy Geothermal itu. Justru ketenangan hidup kami yang terusik, lahan pertanian kami dirusak, kekeringan mengancam kehidupan kami,” tuturnya.

Dikatakan Iman, masyarakat menuntut agar pengeboran sumur baru dihentikan. Jika masih tetap berlangsung, masyarakat akan kembali melakukan unjuk rasa dengan jumlah massa lebih besar.

“Pangalengan itu ada 13 desa, warga yang hadir disini belum ada apa apanya. Masih banyak warga Pangalengan yang siap unjuk rasa yang lebih besar,” katanya.

Hal senada dikatakan perwakilan buruh wanita tani, Tien Nurhayati, penggusuran paksa lahan pertanian sayuran dilahan yang akan dijadikan sumur baru itu, sangat melukai perasaan para petani. Selama ini mereka bertani dan menanam dengan sepenuh hati dan kasih sayang. Namun tiba-tiba, tanaman sayuran dirusak diluluhlantakkan oleh alat beraat milik PT Star Energy Geothermal.

“Mulai dari penyemaian bibit dan menama kami lakukan dengan sepenuh hati. Hancur dan merasa terhinakan hati kami ketika melihat alat-alat berat itu merusak tanaman kami,” katanya.(put/ell)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here