Pusat Pengujian COVID-19 Milik Palestina di Kota Hebron Dihancurkan Aparat Israel

Ilustrasi Palestina-Israel. (Foto: Marxist.com)

NOTIF.ID, PALESTINA – Pusat pengujian Virus Corona Diseases 2019 (COVID-19) milik Palestina di kota Hebron, di selatan kawasan Tepi Barat dilaporkan telah dihancurkan oleh aparat keamanan Israel.

Dilansir dari CNNIndonesia, seorang insinyur berusia 35 tahun, Maswadeh mengatakan kepada Middle East Eye, tiga bulan lalu pemerintah kota telah meminta warga Palestina untuk mengumpulkan dana untuk membangun klinik layanan melintas (Drive-Thru) untuk tes COVID-19.

“Keluarga saya memutuskan untuk menyumbangkan tanah kami (yang berlokasi) di pintu masuk utara Hebron dengan tujuan membangun klinik tes Covid-19,” katanya.

Dikatakan Maswadeh, bahwa klinik tersebut dibangun untuk mengenang sang kakek yang baru-baru ini meninggal karena terpapar COVID-19. Maswadeh mengatakan proyek itu menelan biaya keluarga sekitar USD$250 ribu atau sekitar Rp3,6 miliar.

Tanah itu terletak di Area C bagian Tepi Barat yang sepenuhnya dikendalikan oleh Israel. Ia pun mengatakan, Israel hampir tak pernah memberikan izin mendirikan bangunan kepada warga Palestina di area tersebut.

Baca Juga:   Kali Ke-8 Pesawat Tempur China Dekati Wilayah Taiwan, PLAAF Ancam dan Langgar ADIZ

Dirinya pun mengakui, bahwa mereka membangun pusat pengujian tanpa izin dari pihak Israel. Karena, menurutnya walaupun telah mengajukan perizinan tetap tak akan mendapatkan izin dari pihak Israel.

“Jika kami mengajukan izin, kami tidak akan mendapatkan (izin tersebut). Kami kira mungkin selama Covid-19, (kami) akan mendapat beberapa pengecualian,” ucapnya.

Sebelumnya, ide proyek ini muncul untuk mengurangi beban rumah sakit di Hebron yang kapasitasnya sudah penuh karena merawat pasien COVID-19.

Diketahui, Maswadeh telah membangun pos tersebut sekitar dua bulan lalu, sementara tentara Israel pun seringkali berpatroli di daerah tersebut.

Pihak tentara Israel pun mengetahui adanya alat berat buldoser dan peralatan bangunan di sekitar lokasi proyek, tapi tidak mengatakan apapun. Namun, pada 12 Juli, mereka menerima perintah dari seorang komandan tentara Israel untuk menghentikan pembangunan.

Baca Juga:   Seorang Jurnalis Tewas Ditembak Mati dalam Kerusuhan di Derry

Di lain sisi, seorang pengacara hak asasi manusia dan aktivis dari Hebron, Farid al-Atrash menyebutkan, bahwa kota itu mengalami kesulitan akibat krisis COVID-19 dan sangat membutuhkan klinik tersebut.

“Dengan cara ini kami bisa mengendalikan orang-orang yang keluar-masuk Hebron dan mengendalikan (penyebaran) virus secara lebih baik,” ucapnya.

Menurutnya, penghancuran klinik tersebut merupakan cara bagi Israel untuk menekan pemerintah Palestina agar melanjutkan koordinasi birokrasi.

Hal tersebut dilakukan Palestina sebagai unjuk protes atas rencana Israel untuk mencaplok bagian-bagian Tepi Barat.

“Secara umum Israel membuat Palestina sulit melawan virus. Sejak pemerintah Palestina menghentikan koordinasi dengan Israel, Israel telah menggunakan semua cara untuk menekan Palestina kembali melakukan koordinasi,”

Baca Juga:   Kawal Pemilu Presiden AS 2020, Facebook Berjanji Akan Memblokir Iklan Media Asing

“Mereka akan melakukan segala upaya untuk membuat hidup kami di sini kesulitan,” ucap Farid.

Kini, wilayah Tepi Barat tengah berjuang menahan gelombang kedua infeksi virus Corona, setelah berhasil menangkal penyebaran pandemi dengan memberlakukan lockdown ketat selama sepekan pada Maret lalu.

Dilaporkan, Hebron yang merupakan kota terbesar dan menjadi pusat kekuatan ekonomi pemerintah Palestina sangat terpukul akibat pandemi.
Jumlah kematian pun di wilayah Palestina akibat COVID-19 mencapai 65 orang.

Walaupun Kota Hebron telah mendirikan pusat krisis virus corona. Namun, stigma sosial dan kesulitan yang disebabkan oleh pendudukan Israel menghambat penanganan virus mematikan itu. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here