Presiden Erdogan Bersumpah, Bangkitnya Hagia Sophia di Turki Menandai Pembebasan Masjid Al Aqsa

Hagia Sophia, di Istanbul, Turki, 10 Juli 2020. (Foto: Xinhua/Osman Orsal via Tempo.co)

NOTIF.ID, TURKI – Dalam laporan berita Jerusalem Post, 13 Juli 2020. Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan pada pidatonya dalam bahasa Turki yang diterjemahkan sedikit berbeda ke bahasa Arab dan Inggris mengatakan, bahwa keputusannya mengubah Hagia Sophia menjadi masjid merupakan bagian dari “kembalinya kebebasan Al Aqsa”.

“Kebangkitan Hagia Sophia menandai pembebasan Masjid Al Aqsa,”

“Kebangkitan Hagia Sophia adalah batu loncatan umat Islam di seluruh dunia yang akan datang…kebangkitan Hagia Sophia adalah kebangkitan api harapan umat Islam dan semua yang tertindas, disalahkan, tertindas dan dieksploitasi.” ucapnya, dikutip dari situs web Kepresidenan Turki, oleh Jerusalem Post.

Dirinya bersumpah untuk membebaskan Masjid Al Aqsa setelah mengubah status Hagia Sophia dari museum menjadi masjid pada Jumat kemarin. Namun, dalam laporan Jerusalem Post, terjemahan Turki referensi yang sama ke Spanyol tampaknya tidak dimasukkan seperti dalam bahasa Arab.

Baca Juga:   Tahukah Kamu? Ternyata Ada Doa Berbuka Puasa Versi Lain yang Juga Sah untuk Dilafalkan Lho

Sebagai informasi, Turki telah mengubah status Hagia Sophia yang sebelumnya diperuntukkan sebagai museum sejak 1934, kembali menjadi tempat peribadatan umat Muslim.

Sebelumnya, Hagia Sophia pernah menjadi masjid pada 1453 sejak penaklukan Konstantinopel.

Dilansir dari Tempo.co, Presiden Turki mengaitkan keputusan untuk menghidupkan kembali Islam dari Bukhara di Uzbekistan ke Andalusia di Spanyol. Terminologi ini, yang menghubungkan al Aqsa di Yerusalem dengan Hagia Sophia dan Spanyol.

Erdogan mengatakan, umat Muslim Turki akan menyelenggarakan salat Jumat di Hagia Sophia pada 24 Juli mendatang. Kantor berita Anadolu melaporkan, Presiden Erdogan beserta pihaknya menerima segala pandangan orang atas perubahan fungsi Hagia Sophia ini.

Namun, dirinya pun menekankan sikap yang berlebihan atas perubahan fungsi ini akan dianggap mencederai kemerdekaan Turki.

Baca Juga:   Masya Allah! Masjid di Birmingham Inggris Tampung Jenazah Muslim Pasien COVID-19

Dalam sejarah Turki, Hagia Sophia (Ayasofya) pada awalnya dibangun sebagai basilika bagi Gereja Kristen Ortodoks Yunani. Namun, fungsinya telah berubah beberapa kali sejak berabad-abad, menurut History.com.

Kaisar Bizantium Constantius menugaskan pembangunan Hagia Sophia pertama pada tahun 360 M. Pada saat pembangunan gereja pertama, Istanbul dikenal sebagai Konstantinopel, mengambil namanya dari ayah Konstantius, Constantine I, penguasa pertama Kekaisaran Bizantium.

Kekaisaran Ottoman (Utsmaniyah), dipimpin oleh Kaisar Fatih Sultan Mehmed, yang dikenal sebagai Mehmed sang Penakluk, merebut Konstantinopel pada tahun 1453. Ottoman mengganti nama kota Konstantinopel menjadi Istanbul.

Dengan penaklukan Istanbul, Hagia Sophia dengan cepat menjadi ikon budaya, membawa warisan budaya Turki sampai hari ini. (*)

Baca Juga:   Lima Momen Kenangan yang Hanya Ada di Bulan Ramadan di Era 90-an, Ada Jalan-Jalan Subuh Cari Jodoh Lho!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here