Petani Sayuran di Kabupaten Bandung Punya Jurus Jitu untuk Bisa Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19

Ilustrasi petani sayuran.(ist)

NOTIF.ID, KABUPATEN BANDUNG – Pandemi Covid-19 membuat sejumlah petani di Kabupaten Bandung merugi. Pasalnya, hasil bumi para petani tidak bisa terjual semua akibat faktor kebijakan pemerintah untuk mencegah penyebaran Covid-19. Salah satunya yaitu penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bandung, Tisna Umaran menuturkan, meski merugi, para petani hingga saat ini masih bisa survive. Hal itu dikarenakan para petani sayuran terutama di sayuran jenis hortikultura masih memiliki strategi ekonomi yang ampuh.

“Ada strateginya. Namanya rumus 5 dan 2. Artinya selama setahun mereka menanam lima kali dengan kerugian dua kali. Nah kerugian petani di pandemi Covid-19 ini masuk dalam hitungan rumus itu. Jadi mereka masih bisa survive,” kata Tisna di Soreang, Senin 22 Juni 2020.

Baca Juga:   Empat Orang Petani di Bulukumba Tewas Tertimpa Tanah Longsor

Tisna mengaku masih belum bisa merinci secara detail berapa kerugian yang dialami para petani sayuran di Kabupaten Bandung. Namun, ia menyebut kerugiaannya cukup besar.

“Saya kira cukup besar. Selama pandemi ini Jakarta melakukan PSBB. Pasar-pasar ditutup. Padahal pasar di Jakarta itu salah satu lokasi terbesar untuk pemasara, produk sayur dari Kabupaten Bandung,” kata dia.

Tak hanya itu, PSBB juga menyebabkan sejumlah pasar di Jawa Barat tak beroperasi yang biasa mendapat pasokan sayur dari wilayah Bandung Selatan. “Resepsi atau hajatan juga tidak dibolehkan. Ini juga salah satu faktor yang mempengaruhi kerugian petani. Namun, petani sadar bahwa aturan pemerintah ini untuk kebaikan demi memutus mata rantai Covid-19,” kata dia.

Baca Juga:   Pemkab Bandung Siapkan Pasar Komoditas Pertanian Bagi Petani yang Terkena Dampak Covid-19
Kadistan Kabupaten Bandung, Tisna Umaran.(notif.id)

Tisna menuturkan, secara vegetasi sektor pertanian di Kabupaten Bandung dalam tiga bulan terakhir ini sebetulnya cukup baik. Hasil panen melimpah dengan produk yang berkualitas. Sebab, kata dia, faktor iklim sangat mendukung hasil produksi yang optimal.

“Hama juga tidak ada yang aneh. Intinya produksi optimal tapi tidak dengan pemasarannya. Kami juga sudah mencoba bantu membuatkan aplikasi online penjualan. Tapi, kami sadar harus butuh waktu yang lama agar pembeli dan penjual beradaptasi. Karena jual beli sayuran itu seninya ada di pasar, saling tatap muka dan tawar menawar,” kata dia.

Dikatakan Tisna, meski merugi para petani di Kabupaten Bandung masih tetap semangat untuk menanam. Sebab, kata dia, para petani optimistis jika roda perekonomian akan kembali stabil meski di tengah pandemi.

Baca Juga:   Seorang Petani di Sumedang Tewas Tersambar Petir saat Berjalan Kaki

Untuk menanam, kata dia, para petani biasanya akan meminjam dana ke pihak ke tiga seperti koperasi atau menggunakan dana hasil dari keuntungan panen musim lalu. Sehingga, Tisna menyebut para petani masih bisa bertahan hingga musim tanam selanjutnya dengan kondisi seperti ini.

“Apalagi produks hasil bumi dari petani kami ini kualitasnya baik. Dari segi harga juga bisa disebut yang paling murah dari wilayah lain. Saya sendiri optimistis para petani akan bisa keluar dari kondisi ini dan kembali normal lagi,” kata dia.(put/ell)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here