Hubungan Korut-Korsel Kembali Memanas, Militer Korut Kembali Disiagakan di Perbatasan Kedua Negara

  • Whatsapp
Seorang prajurit tentara Korea Selatan berpatroli di Jembatan Unifikasi, yang mengarah ke desa perbatasan Panmunjom di Zona Demiliterisasi di Paju, Korea Selatan. Selasa, 16 Juni 2020. Korea Utara meledakkan sebuah kantor penghubung antar-Korea tepat di dalam perbatasannya dalam suatu tindakan Selasa yang secara tajam meningkatkan ketegangan di Semenanjung Korea di tengah jalan buntu diplomasi nuklir dengan Amerika Serikat. (Foto: AP/Ahn Young-joon)
Perkiraan waktu baca: 2 menit

NOTIF.ID, KOREA UTARA – Menanggapi desakan Presiden Korea Selatan (Korsel), Moon Jae-in terhadap Korea Utara (Korut) saat pidato yang menganggap Korea Utara telah merusak Proses pemulihan hubungan. Adik perempuan Kim Jong-un, yakni Kim Yo-jong mengecam balik Korsel dan menyalahkan Seoul karena telah merusak hubungan antar kedua negara.

Kim Yo-jong merupakan adik perempuan Kim Jong-un yang selama ini disebut sebagai penerus sang kakak. Akhir-akhir ini, Kim Yo-jong memang gencar mengecam desakan Korsel.

Read More

Korean Central News Agency (KCNA) dalam laporannya mengungkapkan, Korut akan menolak “taktik jahat” Korsel yang menawarkan mengirim utusan khusus untuk menghadap Kim Jong-un.

“Setelah desakan yang dikirim oleh pihak Korsel dengan tergesa-gesa, Wakil Direktur Pertama Komite Pusat Partai Buruh Korut, Kim Yo-jong, mengumumkan pendirian kami bahwa dengan tegas menolak proposal yang tidak bijaksana dan jahat dari Korsel,” tulis KCNA.

Adanya peningkatan tersebut, telah membatalkan kesepakatan perdamaian lintas-perbatasan yang terkait dengan pembangunan ekonomi, akan menjadi kemunduran besar bagi upaya Moon untuk rekonsiliasi yang lebih tahan lama dengan Korea Utara, dan akan semakin mempersulit upaya-upaya pimpinan Amerika yang telah terhenti untuk membujuk Pyongyang untuk meninggalkan program nuklir dan misilnya.

Kim Yo juga mengecam Moon dengan keras dalam pernyataan KCNA lainnya, mengatakan dia telah mengubah hubungan antar-Korea menjadi “boneka AS.”

“Di mata Kims, pemerintahan Moon memberikan terlalu banyak harapan palsu bahwa itu akan menentang tekanan AS untuk memajukan hubungan mereka,” Chun Yung-woo, mantan utusan nuklir Korea Selatan, mengatakan kepada kantor berita Reuters.

Diketahui, pemerintahan Kim Jong-un dalam beberapa waktu terakhir telah dianggap gagal dalam menghentikan aksi sejumlah aktivisnya yang terus mengirim selebaran anti-Korut dari perbatasan kedua negara.

Tak lama kemudian, Korut menyatakan untuk memutus hubungan komunikasi militer dan politik dengan Korsel akibat insiden selebaran propaganda tersebut.

Tak hanya itu, Korea Utara pun mulai mengerahkan pasukan militernya ke dalam dua zona bisnis di kota perbatasan Kaesong dan Gunung Kumgang menyusul hubungan yang memanas dengan Korea Selatan.

Pyongyang pun berencana mengoperasikan kembali seluruh pos penjagaan di zona demiliterisasi (DMZ) yang merupakan perbatasan Korut-Korsel.

Pemerintahan Pemimpin Tertinggi, Kim Jong-un juga telah menegaskan akan “melanjutkan semua jenis latihan militer reguler” di dekat perbatasan.

Juru bicara kantor Staf Jenderal Korut melalui pernyataan yang dirilis di kantor berita pemerintah, KCNA, pada Rabu, 17 Juni 2020, menyatakan “Satuan-satuan dari tingkat resimen dan sub-unit dengan misi pertahanan akan dikerahkan di kawasan wisata Gunung Kumgang dan Kawasan Industri Kaesong,” ucapnya.

“Pos-pos keamanan sipil yang telah ditarik dari DMZ di bawah perjanjian militer Korut-Korsel akan dioperasikan kembali untuk memperkuat penjagaan garis depan,” sebutnya.

Tak hanya itu, Korea Utara juga akan melanjutkan kampanye propagandanya sendiri, mengirimkan selebaran anti-Seoul melintasi perbatasan.

“Area-area yang menguntungkan untuk menyebarkan selebaran di Selatan akan terbuka di seluruh garis depan dan upaya masyarakat kita untuk menyebarkan selebaran akan dijamin secara militer dan langkah-langkah keamanan menyeluruh akan diambil,” katanya.

Sebagai Informasi, Gunung Kumgang dan Kawasan Industri Kaesong merupakan dua situs yang menjadi simbol pemulihan hubungan Korut-Korsel yang diteken oleh kedua pemimpin negara pada 2018 lalu.

Dalam perjanjian tersebut, disebutkan Korut-Korsel sepakat mengembangkan kembali dua situs tersebut untuk dikelola bersama. (*)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *