Perlu Diketahui! Bedanya Hari Lahir Pancasila dengan Hari Kesaktian Pancasila Secara Historis

  • Whatsapp
Bung Karno saat berpidato dengan penuh semangat dan berapi-api.(foto: Life)
Perkiraan waktu baca: 4 menit

NOTIF.ID, BANDUNG – Presiden Joko Widodo pada 1 Juni 2016 telah menandatangani Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 24 Tahun 2016 yang menetapkan 1 Juni 1945 sebagai Hari Kelahiran Pancasila. Dengan begitu, mulai tahun 2017, setiap tanggal 1 Juni telah ditetapkan sebagai hari libur nasional.

Perlu diketahui setiap tahunnya masyarakat Indonesia memperingati hari Pancasila sebanyak dua kali. Selain tanggal 1 Juni yang merupakan Hari Kelahiran Pancasila, masyarakat juga selalu memperingati Hari Kesaktian Pancasila yang jatuh pada 1 Oktober.

Read More

Namun demikian, masih banyak masyarakat Indonesia yang bingung dengan arti dan makna dua hari peringatan itu. Banyak masyarakat yang mengasumsikan dua hari kelahiran sama makna dan nilai historisnya. Padahal, secara historis kedua hari peringatan itu sangatlah berbeda. Lalu apa bedanya?

Berikut uraian perbedaan mengenai Hari Kelahiran Pancasila dan Hari Kesaktian Pancasila:

Hari Kelahiran Pancasila

Hari Kelahiran Pancasila adalah hari dimana pertama kalinya istilah Pancasila sebagai hakikat ideologi yang dicetuskan oleh Presiden Sukarno dalam pidatonya pada sidang Dokuritsu Junbi Cosakai (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia/BPUPKI).

Panca berarti lima dan sila adalah bahasa Sansekerta yang berarti prinsip atau asas. Pada awalnya, pidato Sukarno disampaikan secara aklamasi tanpa judul, lalu mendapat sebutan pidato Lahirnya Pancasila dari mantan Ketua BPUPKI Dr Radjiman Wediyodiningrat yang kemudian menjadi Pancasila sebagai ideologi terbuka.

Berikut cuplikan isi pidato Sukarno pada sidang BPUPKI:

“Sekarang banyaknya prinsip: kebangsaan, internasionalisme, mufakat, kesejahteraan dan ketuhanan berjumlah lima bilangan. Tetapi namanya bukan Panca Dharma, saya namakan ini dengan saran dari teman kita ahli bahasa – namanya Pancasila. Sila artinya asas atau dasar dan di atas kelima dasar itulah Negara Indonesia didirikan untuk kekal dan abadi”

Sebelum Sukarno, ternyata ada dua tokoh lainnya yang sempat mengemukakan rumusan nilai-nilai dasar kebangsaan dan kenegaraan. Mereka yakni Muh Yamin dan Dr Soepomo. Rumusan dari kedua tokoh tersebut nampaknya menjadi pelengkap rumusan Pancasila Sukarno sebelum akhirnya tercetus Piagam Jakarta pada 22 Juni 1945.

Kemudian setelah itu masuk ke dalam Pembukaan UUD tanggal 18 Agustus 1945. Lalu pada 27 Desember 1949 masuk dalam mukaddimah Konstitusi Republik Indonesia Serikat, berada di UDDS pada tanggal 15 Agustus 1950 dan masuk pada Dekret Presiden tanggal 5 Juli 1959.

Jadi, secara garis besar hari lahir Pancasila adalah hari di mana kata Pancasila pertama kali diperdengarkan kepada peserta sidang BPUPKI oleh Sukarno yang berpidato tentang lima dasar negara. Panca yang berarti lima, dan sila merupakan bahasa Sanskerta yang artinya prinsip atau asas. Sebelumnya Muh Yamin juga sudah merumuskan dengan nama Lia Dasar.

Berikut rumusan nilai-nilai dasar Pancasila dari ketiga tokoh tersebut:

  • Muh Yamin (29 Mei 1945)
  1. Peri Kebangsaan
  2. Peri Kemanusiaan
  3. Peri Ketuhanan
  4. Peri Kerakyatan
  5. Kesejahteraan Rakyat
  • Dr. Soepomo (31 Mei 1945)
  1. Persatuan
  2. Kekeluargaan
  3. Keseimbangan Lahir Batin
  4. Musyawarah
  5. Keadilan Rakyat
  • Soekarno (1 Juni 1945)
  1. Kebangsaan Indonesia
  2. Internasionalisme atau Peri Kemanusiaan
  3. Mufakat atau Demokrasi
  4. Keejahteraan Sosial
  5. Ketuhanan yang Berkebudayaan

Lima rumusan dari Sukarno itu akhirnya dikaji ulang oleh peserta dan akhirnya disetujui. Sampai sekarang, momentum ini terus diperingati dari tahun ke tahun sebagai bagian dari kesadaran masyarakat Indonesia akan perumusan awal dari dasar negara.

Namun, hal berbeda begitu terasa pada masa pemerintahan Orde Baru dibawah kendali Suharto. Polemik muncul. Sebab seperti ada upaya untuk tidak melekatkan Pancasila dengan Sukarno. Saat itu, Suharto lebih sering merayakan Hari Kesaktian Pancasila pada 1 Oktober 1965, sebagai tanda gagalnya G30S/PKI.

Hari Kesaktian Pancasila

Semnetara itu, Hari Kesaktian Pancasila adalah hari dimana Pancasila dijadikan sebagai dasa negara yang tak tergantikan. Tanggal 1 Oktober sangat berkaitan erat dengan peristiwa G30S/PKI 30 September 1965.

Oknum PKI yang ingin mengubah unsur Pancasila sebagai ideologi negara menjadi ideologi komunis meningkat di tahun 1965. Sedikitnya enam jenderal dan satu kapten dibunuh oleh oknum PKI sebagai bentuk upaya kudeta kepada para pengawal istana (Cakrabirawa) yang dianggap loyal kepada PKI.

Pejabat tinggi Angkatan Darat yang menjadi korban diantaranya:

  • Letjen Ahmad Yani (Menteri/Panglima Angkatan Darat/Kepala Staf Komando Operasi Tertinggi)
  • Mayjen TNI Raden Suprapto (Deputi II Menteri/Panglima AD bidang Administrasi)
  • Mayjen TNI Mas Tirtodarmo Haryono (DEputi III Menteri/Panglima AD bidang Intelijen)
  • Brigjen Donald Isaac Panjaitan (Asisten IV Menteri/Panglima AD bidang Logistik)
  • Mayjen TNI Siswondo Parman (Asisten I Menteri/Panglima AD bidang Intelijen)
  • Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo (Inspektur Kehakiman/Oditur Jenderal Angkatan Darat)

Jenderal TNI Abdul Haris Nasution yang menjadi sasaran utama berhasil selamat. Namun putrinya yang bernama Ade Irma Suryani Nasution dan ajudannya, Lettu CZI Pierre Andreas Tendean tewas dalam peristiwa tersebut.

Pada akhirnya, gejolak yang timbul dari G30S/PKI berhasil diredam oleh otoritas militer Indonesia. Sehingga Pemerintah Orde Baru dibawah kendali Presiden Suharto kemudian menetapkan 30 September sebagai peringatan peristiwa G30S/PKI dan 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila untuk menegakkan kembali Pancasila sebagai dasar negara.

Pada peringatan Hari Kelahiran Pancasila 1 Juni ini, semoga persatuan Bangsa Indonesia kembali terajut. Politik kebencian yang terus saja menguat akibat Pilpres 2019 hingga saat ini, dan memicu disintegrasi bangsa, berharap lekas runtuh. Jangan sampai protracted hostility (permusuhan semakin berlarut) dan dibiarkan terpelihara dalam dada.

Pudarkan kebencian itu. Bakar kembali semangat juang bangsa. Ingatlah cita-cita bangsa seperti yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 alinea kedua. Pun demikian tujuan negara seperti yang tertuang dalam UUD 1945 aline keempat. Mari gapai itu bersama-sama. Bersama, yakinlah kita akan kuat. Wujudkan Indonesia sepenuhnya merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Selamat Hari Pancasila 1 Juni. Merdeka!!!.(ras/mrb)

Sumber: Berbagai sumber

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *