WHO Ultimatum Indonesia, Sebut Klorokuin dan Hidrosiklorokuin Berisiko Obati Pasien COVID-19

Klorokuin, obat malaria yang disebut-sebut sebagai obat Covid-19.(grid.id)

NOTIF.ID, JAKARTA – World Health Organization (WHO) telah memberikan ultimatum kepada Indonesia. WHO bersikeras agar pemerintah RI untuk segera menghentikan penggunaan dua jenis obat malaria, yakni klorokuin dan hidrosiklorokuin untuk mengobati pasien Corona Virus Diseases 2019 (COVID-19).

Ultimatum yang diberikan WHO kepada Indonesia bukan tanpa alasan. Menurut WHO, kedua obat tersebut berisiko menimbulkan gangguan detak jantung pasien dan bisa menyebabkan kematian. WHO pun batal menguji coba obat tersebut.

Hal itu telah dikonfirmasi oleh dokter spesialis paru yang yang terlibat dalam menyusun pedoman perawatan virus corona dan merupakan anggota Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Erlina Burhan.

“Kami telah mendiskusikan hal ini dan masih ada perselisihan. Kami belum sampai pada kesimpulan,” ucapnya, seperti dikutip dari ABC.

Ahli jantung dan kepala staf akademik di Miller Family Heart, Vascular & Thoracic Institute di Cleveland Clinic, AS, Stephen Nissen, mengatakan terkejut mendengar Pemerintah Indonesia pernah merekomendasikan penggunaan obat tersebut.

Baca Juga:   Terjangkit Virus Corona Dua Penumpang Diamond Princess Meninggal, Indonesia Segera Evakuasi 74 WNI dari Yokohama

“Kita tahu produksi obat ini langka, namun dapat menimbulkan efek samping penyakit kardiovaskular yang sangat berbahaya, yaitu gangguan detak jantung yang susah disembuhkan,”

“Jadi, ide untuk memberikan obat ini kepada pasien secara rutin berdasarkan pada bukti (efektivitas) yang tipis sangatlah tidak masuk akal.” katanya.

Sementara itu, seorang peneliti farmakologi di Charles Sturt University di Australia, Jane Quinn, mengatakan bahwa obat anti-malaria dapat menimbulkan dampak yang lebih parah melihat dari profil enzim warga Indonesia.

“Melihat bukti yang sudah ada dari (profil enzim) global, populasi Indonesia sebenarnya kurang efisien dalam memecahkan klorokuin dan hidroksiklorokuin ini,” katanya.

Menurutnya, bagi orang Indonesia, obat ini justru kemungkinan menurunkan efektivitas pengobatan lainnya dan menimbulkan racun.

Menurut Kantor berita Reuters, pihaknya telah menghubungi juru bicara WHO, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan juru bicara Gugus Tugas COVID-19 mengenai perihal ultimatum tersebut. Namun, sampai artikel ini diterbitkan belum menerima tanggapan.

Baca Juga:   Uu Ruzhanul Ulum: Warga Jabar yang Sempat Pelesiran ke Luar Negeri Diminta untuk Isolasi Mandiri

Diketahui, Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang paling aktif menganjurkan penggunaan obat malaria klorokuin dan hidrosiklorokuin dalam menangani pasien bergejala ringan hingga parah.

Dilansir dari Suara.com, menurut laporan Kementerian Kesehatan, perusahaan di Indonesia memiliki target untuk memproduksi 15,4 juta dosis kedua obat tersebut di bulan April dan Mei.

Wakil BUMN, Budi Gunadi Sadikin awal Mei lalu mengatakan dua BUMN Farmasi, yakni PT Indofarma (Persero) dan PT Kimia Farma (Persero) tengah memproduksi tiga jenis obat penanganan COVID-19 di Indonesia, yang salah satunya adalah klorokuin.

“Kimia Farma saat ini dapat memproduksi sekitar 250-400 ribu tablet per minggu obat klorokuin dan hidroksiklorokuin,” kata Budi, dalam rapat gabungan antar komisi DPR RI secara daring, pada 5 Mei 2020.

Akhir Maret lalu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun telah mengumumkan pememsanan sebanyak tiga juta butir pil obat klorokuin yang menurutnya adalah obat ‘second line’ atau baris nomor dua dalam penyembuhan pasien COVID-19.

Baca Juga:   Wartawan Salah Satu Pejuang Garda Terdepan COVID-19, TB Hasanuddin: Tolong Dimasukkan ke Jaring Pengaman Sosial

“Pengalaman beberapa negara, klorokuin digunakan dan banyak pasien COVID-19 sembuh dan membaik kondisinya,” kata Presiden Jokowi, dalam kunjungannya ke Wisma Atlet Kemayoran, pada 23 Maret 2020.

Obat tersebut memang sempat dipuji oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dan sejumlah pemimpin negara lainnya sebagai obat yang efektif untuk COVID-19.

Presiden Trump bahkan mengaku telah menggunakan obat itu untuk mencegah infeksi, meskipun belakangan ia menyatakan telah berhenti meminumnya.

Menurut Dr Erlina sebagai anggota perhimpunan dokter paru, klorokuin dan azithromycin, antibiotik yang digunakan bersamaan dengan obat tersebut, selama ini telah rutin digunakan dalam merawat pasien virus corona.

Namun, dirinya tak dapat memastikan apakah kedua obat ini telah meningkatkan angka kematian pasien. Karena, menurutnya belum ada pemeriksaan atas kemungkinan tersebut. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here