Dian Sastro Bongkar Lika-Liku Kesuksesan Dita Karang Secret Number di Industri K-Pop

  • Whatsapp
Tangkapan layar sesi Live Interview Dian Sastro dan Dita Karang Secret Number.
Perkiraan waktu baca: 3 menit

NOTIF.ID, SELEB – Artis ternama Dian Sastrowardoyo, bongkar lika-liku kesuksesan Dita Karang di industri musik K-Pop sebagai member Girl Group pertama asal Indonesia dalam sesi live interview pada Minggu, 24 Mei 2020.

Sontak, live streaming antara Dian Sastro dan Dita karang di platform Instagram mendapatkan banyak perhatian warganet di Indonesia.

Read More

Sepanjang siaran langsung, sekitar 20 ribu pengguna Instagram ikut menyaksikan. Bahkan puncaknya sempat menyentuh angka 29 ribu viewers.

Pencapaian Dita pun tak main-main, bersama dengan Secret Number lewat debut pertamanya “Who Dis?” yang beranggotakan Lea, Dita, Soodam, Denise dan Jinny mampu membuat banyak orang kagum.

Kini, 25 Mei 2020, MV (Music Video) resmi Secret Number yang diunggah di Youtube oleh 1theK pada 19 Mei 2020 telah mencapai 7, 5 juta Viewers dengan 653 ribu Like dan 104,232 Comments dari berbagai negara.

Namun, tak banyak orang tahu bahwa Dita pun menjalani lika-liku kesuksesannya yang tak kalah berat. Kepada Dian Sastro, Dita pun mengaku pernah merasakan putus asa menjalani kehidupan sebagai seorang performer.

Dalam live streaming dengan Dian Sastro, Ia pun menceritakan bahwa tampil di atas panggung merupakan pilihan jalan hidupnya.

“Setiap habis perform, kayak ada adrenaline rush yang bikin aku senang banget. Kalau habis turun panggung itu kayak the best feeling ever,” kata Dita.

Untuk mengasah kemampuan, wanita kelahiran 25 Desember 1996, ini masuk ke salah satu akademi ternama, yakni American Musical and Dramatic Academy (AMDA) di New York, Amerika Serikat.

Selama dua tahun di AMDA, ia begitu bersemangat karena mendapat berbagai ilmu baru. Termasuk akting dan nyanyi, walau tak dipelajari secara mendalam.

Namun, semangatnya sempat buyar sebegitu lulus dan harus menghadapi kerasnya Dunia. Ia pun mengaku sempat Bolak-balik audisi, namun tak jua berhasil meraih peran besar.

“Aku cuma diterima di project-project kecil yang individual, tapi kayak it’s not my main goal,” ungkapnya.

Jatuh dari keterpurukan, Dita pun kembali bangkit dan tak mau berlama-lama meratapi nasib.

Akhirnya ia pun memilih memperluas kemampuannya, dengan mengikuti kelas dance di 1Million Dance Studio yang berada di Korea Selatan.

Karena, menurutnya keputusan untuk mengambil langkah tersebut dapat membukakan jalannya untuk terjun ke industri K-Pop di Negeri Ginseng.

Ketertarikannya terhadap dunia K-Pop semenjak sekolah Menengah telah menarik dirinya untuk mencoba sesuatu hal yang baru, yakni industri K-Pop.

Berkat kegigihan serta dukungan semangat dari keluarga serta orang-orang yang mendukungnya. Ia pun berhasil diterima di salah satu agensi, yakni Vine Entertainment, dan menjadi awal perjalanan Dita menuju Idol K-Pop.

Tak hanya di New York, Dita tak lantas begitu saja bisa sukses ketika berada di naungan Vine Entertainment. Rasa putus asa pun pernah juga menghampirinya saat menjalani masa-masa menjadi trainee. Salah satunya soal kepastian debut yang belum jelas.

Ia bahkan sempat meragukan keputusannya untuk menjadi Idol K-Pop. “Waktu di sini (Korea Selatan) karena aku ngerasa… my skill kok segini-gini aja. Ini salah jalan apa, ya?” ia menceritakan.

Akhirnya, ia pun dapat mengatasi rasa putus asa berkat bantuan teman-temannya.

“Akhirnya aku ngobrol-ngobrol sama temanku yang sudah tujuh tahun, lima tahun (menjadi trainee). Dan this is my responsibility, aku yang milih ini,” ungkapnya.

“Enggak ada gunanya nyerah. This is what I want,” katanya.

Disamping menceritakan pengalamannya, warganet pun banyak yang melontarkan pertanyaan terhadap Dita yang lalu disampaikan oleh Dian Sastro. Salah satunya mengenai pertanyaan rasisme dikalangan industri K-Pop.

“Apa benar kalau katanya di Korea itu ada problem rasisme?” tanya Dian Sastro.

Mendengar pertanyaan tersebut, dengan wajah lugunya Dita pun mengaku bahwa selama ia menjalankan aktivitas sebagai Idol K-Pop di Korea Selatan tak merasakan perlakuan tersebut.

“Sejauh ini, aku belum pernah merasakan itu,”

“Selama ini aku lihat orang-orang, kayak di music broadcasting station, mereka semua biasa aja kayak enggak ada…aku enggak terlalu ngelihat sih, personally. Tapi aku enggak ngerti, mungkin karena aku belum keluar lebih jauh lagi,” ungkapnya.

Dita juga merasa dirinya tak dibedakan dengan yang lain, atau diminta untuk mencapai standar kecantikan Korea konvensional, seperti berkulit putih.

“Malah mereka yang bilang kayak they like my tan skin, and just keep it that way (mereka menyukai kulitku yang kecokelatan, dan pertahankan seperti ini saja),” tuturnya.

Karena Dita sekarang banyak melakukan aktivitas dan menjadi idol K-Pop di Korea Selatan, ia pun mengaku sudah menjadi kewajibannya untuk mempelajari bahasa dan budaya di Negeri Ginseng.

”Karena aku mau beraktivitas di Korea, aku sebisa mungkin show them that I’m really interested in their culture and everything (Aku harus menunjukkan bahwa aku tertarik dengan kebudayaan mereka dan segala sesuatunya),” tuturnya.

“Aku juga merasa mereka enggak mungkin hate me for loving their culture juga,” katanya. (*)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *