Pembayaran Zakat Via Online Mulai Dilirik, Begini Hukumnya Dalam Pandangan Islam

Ilustrasi membayar zakat (foto: blibli.com)

NOTIF.ID, ISLAMI – Wabah Covid-19 membuat segala aktivitas menjadi terbatas. Pasalnya, pemerintah telah membuat aturan untuk masyarakat agar tetap menjaga jarak fisik (physical distancing) dalam segala jenis aktivitas yang dilakukan.

berbelanja atau membayar keperluan untuk kebutuhan misalnya, banyak yang dilakukan secara online. Terlebih menjelang Hari Raya Idul Fitri. Segala keperluan untuk hari raya ini juga dilakukan secara online. Tak ketinggalan mengenai kebutuhan membayar zakat.

Model pembayaran zakatsecara online juga kini berkembang. Ini menjadi alternatif yang mulai dilirik oleh umat Islam. Lalu, bagaimana hukumnya mengenai pembayaran zakat online ini? Apakah sah dalam pandangan Islam?

Dilansir dariHarakah, beberapa tokoh agama telah menjelaskan model pembayaran zakat berbasis teknologi ini. Irfan Syauqi Beik, Direktur Baznas, menjelaskan bolehnya membayar zakat secara online. Namun, dalam konteks transaksi komersial, ijab dan qabul merupakan keharusan.

Baca Juga:   Jokowi Tak Melarang Masyarakat Mudik pada Lebaran Tahun Ini

Tetapi pelaksanaannya sangat kontekstual. Tergantung perkembangan di masyarakat. Tidak mesti melalui tatap muka. Bisa dilakukan lewat media-media lain, tulisan dan lainnya. Yang penting dari semua media tersebut adalah masing-masing pihak bisa memahami dengan baik konsekuensi transaksi.

Transaksi dalam zakat adalah transaksi sosial. Ia tidak mengharuskan adanya ijab dan qabul seperti dalam transaksi komersial. Dalam pembayaran zakat, ijab dan qabul tidak menentukan sah tidaknya zakat. Hal ini karena zakat adalah transaksi sosial. Bukan transaksi komersial.

Sampai di sini, pembayaran zakat sebenarnya tidak perlu adanya ijab dan qabul. Kalaupun dianjurkan adanya ijab dan qabul, dalam model pembayaran zakat sekarang sudah ada layanan khusus berupa notifikasi email dan lainnya yang berisi bukti pembayaran zakat, niat zakat, dan lainnya. Ini menjadi model transaksi ijab dan qabul yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Di sisi lain, segala sesuatu yang tidak bertentangan dengan syariah, hukumnya boleh.

Baca Juga:   MUI Minta Pelaksanaan Pembayaran Zakat Fitrah Perhatikan Protokol Kesehatan

Zul Ashfi dari Dompet Duafa, menjelaskan bahwa tidak ada syarat ijab dan qabul dalam proses pembayaran zakat. Zakat secara online hanya soal model pendistribusian atau pengiriman zakat. Selama seseorang sudah berniat mengeluarkan zakat, selanjutnya adalah soal pengiriman zakat. Ibaratnya, zakat online adalah model pengiriman ekstra cepat.

Ustadz Abdul Shomad, pendakwah terkemuka Riau, menegaskan bahwa ijab dan qabul dalam zakat adalah sunnah. Ini berbeda dengan ijab dan qabul dalam nikah yang hukumnya wajib. Dalam transaksi komersial, hukumnya sunnah. Demikian pula dalam zakat. Hukumnya sunnah.

Sementara itu Buya Yahya memberikan arahan, sekalipun boleh membayar zakat melalui fitur online, tetapi hendaknya muzakki (pembayar zakat) lebih mempertimbangkan kemaslahatan orang di sekitar kita. Jangan sampai kita membayar zakat via online, yang dalam penyalurannya untuk mereka di kawasan yang jauh, tetapi sebenarnya tetangga kita ada yang sangat membutuhkan. Berzakat itu harus mikir.

Baca Juga:   Tahukah Kamu? Ternyata Ada Doa Berbuka Puasa Versi Lain yang Juga Sah untuk Dilafalkan Lho

Penjelasan beberapa tokoh di atas menunjukkan bahwa membayar zakat secara online hukumnya boleh dan sah. Namun yang harus dipikirkan adalah tentang distribusi zakat yang harus transparan dan tepat sasaran. Jangan sampai zakat yang umat Islam tunaikan justru dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here