Harkonas 2020 dan Politik Hukum Perlindungan Konsumen

Dr. Firman Turmantara Endipradja, S.H., S.Sos., M.Hum selaku Dosen Hukum Perlindungan Konsumen Pascasarjana Univ. Pasundan, Ketua Assosiasi BPSK Jawa Barat & Ketua Himpunan Lembaga Konsumen (HLKI) Jabar, Banten, DKI Jakarta.(istimewa)

Oleh: Dr. Firman Turmantara Endipradja, S.H., S.Sos., M.Hum.

Dosen Hukum Perlindungan Konsumen Pascasarjana Universitas Pasundan, Ketua Assosiasi BPSK Jawa Barat & Ketua Himpunan Lembaga Konsumen (HLKI) Jabar, Banten, DKI Jakarta.

Setiap orang, mulai dari jabang bayi sampai manula, termasuk pelaku usaha adalah konsumen. Konsumen tidak mengenal usia, gender, profesi, jabatan, status sosial dan lain-lain. Semua rakyat adalah konsumen. Konsumen menurut UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UUPK) adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan.

Hak konsumen telah diatur dalam UUPK, demikianpun hak-hak dasar umum (hak asasi) konsumen diakui secara internasional. Hak-hak tersebut pertama kali disuarakan oleh John F. Kennedy, Presiden Amerika Serikat (AS), pada tanggal 15 Maret 1962 melalui “A special Message for the Protection of Consumer Interest” yang dalam masyarakat internasional lebih dikenal dengan “Declaration of Consumer Right”.

Dalam literatur umumnya disebut “empat hak dasar konsumen” (the four consumer basic rights). Hak-hak dasar itu dideklarasikan meliputi : 1.Hak untuk mendapat/memperoleh keamanan (the right to safety); 2. Hak untuk memilih (the right to choose); 3. Hak untuk memperoleh informasi (the right to be informed); dan 4. Hak untuk didengarkan (right to be heard).

Setelah itu, Resolusi PBB Nomor 39/248 Tahun 1985 tentang Perlindungan Konsumen (Guidelines for Consumer Protection), juga merumuskan berbagai kepentingan konsumen yang perlu dilindungi. Dan tepat hari ini, tanggal 20 April kita peringati sebagai Hari Konsumen Nasional (HARKONAS), sesuai dengan saat disahkannya Undang-undang RI Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UUPK) pada tanggal 20 April 1999 oleh Presiden BJ Habibie dan diberlakukan satu tahun kemudian yaitu tanggal 20 April 2000.

Sebelumnya, tanggal 15 Maret seluruh dunia memperingati Hari Konsumen Dunia. Dalam memperingati hari konsumen, kita semua sebagai konsumen diingatkan kembali akan hak-hak konsumen yang diatur dalam peraturan perundang-undangan perlindungan konsumen nasional maupun regulasi dunia.

Baca Juga:   Kasus Covid-19 Meningkat di Cicalengka, Alun-alun dan Kawasan Candi Tenjolaya Ditutup Sementara

Peringatan Harkonas merupakan momentum untuk meningkatkan pemahaman hak dan kewajiban konsumen, meningkatkan kecerdasan dan kemandirian konsumen serta meningkatkan nasionalisme tinggi dalam jiwa sosial kemanusiaan. Disamping itu, penetapan Harkonas sendiri ditujukan agar semakin banyak pihak yang termotivasi membangun konsumen yang cerdas dan pelaku usaha yang semakin memiliki etika dalam usahanya.

Negara Belum Maksimal Hadir

Harkonas lahir dari Undang-Undang tentang Perlindungan Konsumen (No. 8 Tahun 1999) yang sudah berusia 21 tahun sejak saat diterapkannya, dengan tujuan untuk mewujudkan suatu masyarakat adil dan makmur yang merata materiil dan spiritual dalam era demokrasi ekonomi berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Menimbang pada UU Perlindungan Konsumen tersebut, ditetapkanlah Keputusan Presiden No. 13 Tahun 2012 tentang Hari Konsumen Nasional. Harkonas sudah mulai diperingati sejak tahun 2013 hingga sekarang.

Harkonas dilatarbelakangi oleh adanya keprihatinan persoalan perlindungan terhadap konsumen di Indonesia yang belum dapat diselesaikan secara efektif dan efisien, meski keberadaan UUPK sudah 21 tahun. Sedangkan arti Perlindungan Konsumen sendiri adalah segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memberikan perlindungan kepada konsumen guna mewujudkan konsumen cerdas dan mandiri.

Kasus pengaduan konsumen dari tahun ke tahun yang masih tinggi dan banyaknya sengketa konsumen yang belum juga tuntas, kriminalisasi terhadap konsumen yang kritis, serta berbagai permasalahan yang tidak terlaporkan oleh karena konsumen tidak mengetahui hak dan kewajibannya, membuat betapa pentingnya perlindungan kepada konsumen lewat peringatan Harkonas. Konsumen adalah kekuatan besar bagi suatu negara dalam membangun perekonomiannya, suatu negara yang tidak hadir dalam melindungi konsumen ibarat menunggu bom waktu.

Politik Hukum Paradigma Baru

Saat ini dinamika, perkembangan, serta tantangan perlindungan konsumen sangat kompleks. Hal ini dapat terlihat dengan kuatnya pengaruh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, perubahan ekonomi global (konflik dagang antara Amerika dan China) dan kondisi alam, serta ekses perkembangan era revolusi industri 4.0/era disrupsi.

Kompleksitas persoalan perlindungan konsumen secara kongkrit dapat kita lihat dengan adanya kasus-kasus nasional maupun internasional seperti, ketidakpastian konsumen dalam membayar iuran BPJS Kesehatan pasca putusan Mahkamah Agung serta pelayanan kesehatan yang diterimanya; Sanksi pemberhentian pelayanan publik terhadap konsumen penunggak iuran BPJS Kesehatan; Hak-hak konsumen akibat penipuan yang dilakukan perusahan investasi bodong; Hak-hak konsumen akibat gagal bayar oleh perusahaan asuransi pemerintah (Bumiputera, Jiwasraya, Asabri); Hak konsumen untuk memperoleh alat-alat, pelayanan kesehatan dan obat-obatan untuk mencegah corona; Posisi konsumen dalam perjanjian berdasarkan alasan Force Majeure Covid-19.

Baca Juga:   Hima Persis: Pemerintah Terkesan Zalim Naikkan Iuran BPJS di Tengah Covid-19

Selain itu, kedudukan konsumen akibat ekses dari Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja; Posisi konsumen yang saat ini berada dalam struktur pasar monopoli dan kartel yang cenderung digiring untuk memilih atau membeli produk dan jasa dari kaum monopolis. Belum lagi terkait upaya penguatan terhadap lembaga/badan2 perlindungan konsumen, seperti Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) dan Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM) yang tersebar di kabupaten/kota se Indonesia, serta Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) yang belum memperoleh perhatian serius dari pemerintah.

Dalam perspektif yuridis, sinkronisasi antara pengaturan perlindungan konsumen yang semula diselenggarakan oleh kabupaten/kota dialihkan ke provinsi yang diatur oleh UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana diubah dengan UU No. 9 Tahun 2015, dengan UU No. 8 Tahun 1999 tentang Pelindungan Konsumen (UUPK), sampai saat ini masih menyisakan “pekerjaan rumah” yang belum selesai. Sementara, harmonisasi UUPK dengan UU lain pun belum terlihat selaras (selalu dikesampingkan), seperti UUPK dengan UU OJK, UU Jaminan Fidusia, UU Perbendaharaan Negara, UU Kesehatan, UU ITE. Hal ini karena UUPK dianggap sebagai UU General/UU Umum yang bisa dikesampingkan oleh UU lain melalui penerapan asas Lex specialis derogat legi generali. Padahal menurut politik hukum UUPK yang tercantum dalam Penjelasan, disebutkan bahwa “UUPK merupakan payung yang mengintegrasikan (UU lain, pen) dan memperkuat penegakan hukum di bidang perlindungan konsumen.”

Secara sosiologis, dengan adanya beberapa kebijakan terkait pencegahan penularan virus Corona (Covid-19), seperti work from home, social/physical distancing, dan lockdown dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang jika dilanggar bisa dipidana, serta kebijakan asimilasi dan integrasi terhadap penghuni lapas, mengakibatkan kebebasan konsumen untuk memperoleh kebutuhan hidup sehari-hari (sekaligus mencari nafkah) juga terganggu. Termasuk konsumen yang menyampaikan haknya sesuai UUPK, yaitu untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan terhadap pemerintah bisa dijerat dengan Surat Telegram Kapolri Nomor ST/1100/IV/HUK.7.1./2020 tentang ancaman untuk “mempolisikan” warga yang salah bicara. Persoalan lain adalah mengenai ketidakpastian relaksasi kredit dari lembaga keuangan, ancaman dikejar2 Debt Collector dan larangan mudik.

Baca Juga:   UPDATE Covid-19 Jabar 8 April 2020: 343 Positif, 29 Meninggal, 17 Sembuh

Belum tercapainya sasaran strategi nasional, action plan, road map dan standarisasi pelayanan perlindungan konsumen, terutama dalam hubungannya antara pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota serta antara kementerian/lembaga. Sementara keberdayaan konsumen Indonesia masih relatif rendah, yang ditunjukkan oleh rendahnya Indeks Keberdayaan Konsumen (IKK).

Melihat problematik perlindungan konsumen dengan spektrum luas yang kompleks dan semakin tidak mengenal batas nilai dan norma yang konvensional lagi, untuk langkah-langkah perlindungan konsumen nasional ke depan, diperlukan strategi baru dalam manajemen penyenggaraan perlindungan konsumen.

Dengan kata lain, inti persoalan perlindungan konsumen bermuara pada 5 hal yang perlu dibenahi, yakni : (1) pembenahan, harmonisasi & pengadaan hukum baru (peraturan perundang-undangan); (2) peningkatan dan pengadaan sarana/prasarana (fasilitas); (3) pemberdayaan sdm/aparat baik kualitas maupun kuantitas; (4) budaya hukum masyarakat; dan (5) political will untuk melindungi konsumen secara konsisten dan simultan.

Untuk mencapai kelima sasaran di atas, perlu disiapkan energi hukum baru untuk merancang politik hukum perlindungan konsumen dalam kondisi perekonomian nasional dan global pascacorona. Penyusunan rancangan politik hukum perlindungan konsumen perlu dibuat dengan paradigma baru dan ini tentunya memerlukan dukungan penuh dan kemampuan politik dari eksekutif maupun Legislatif.

*) Isi dan gagasan tulisan ini adalah tanggung jawab penulis dan bukan bagian dari tanggungjawab redaksi notif.id. Redaksi hanya memiliki kewenangan menyunting tulisan tanpa mengubah substansi isi dan gagasan penulis.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here