Pengusaha Batik di Sumedang Banting Stir Jadi Pembuat Masker Agar Pegawainya Tak Menganggur

Aktivitas pembuatan masker kain di workshop milik Eri Anggriani (42), seorang pengusaha batik sekolah asal RT 01/05 Kelurahan Cipameungpeuk, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.(notif.id/kiki andriana)

NOTIF.ID, SUMEDANG – Mewabahnya virus Corona (Covid-19) membuat ketersediaan masker di sejumlah daerah mengalami kelangkaan. Pasalnya, masker kain maupun bedah, kini memang tengah dicari-cari masyarakat.

Kondisi ini tentu saja dimanfaatkan oleh sejumlah industri rumahan. Pun demikian oleh industri rumahan yang ada di Kabupaten Sumedang. Sebab, mewabahnya Covid-19 sangat berdampak terhadap para pelaku UMKM.

Eri Anggriani (42), seorang pengusaha batik sekolah asal RT 01/05 Kelurahan Cipameungpeuk, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, yang ikut memanfaatkan situasi ini.

Eri mencoba banting stir memproduksi masker karena harus membiayai para pegawai dan tentu mebiayai kebutuhan sehari-hari keluarganya. Eri sendiri mengaku tidak mencari kesempatan dalam kesempitan dalam situasi ini. Sebab, produksi batik seragam sekolah menjadi sepi akibat wabah ini.

Baca Juga:   Besar dari Keluarga Sederhana, Ini Kisah Kapolres Sumedang AKBP Hartoyo

“Sebelumnya saya hanya memproduksi batik untuk sekolah- sekolah, Namun sudah hampir dua minggu ini saya memproduksi masker. Bukan aji mumpung ya. Karena saya punya tanggungan dan kewajibab membyar pegawai,” kata Eri Anggriani, di kediamannya, Rabu 1 April 2020.

Sejak mewabahnya virus Corona, usaha batik yang ia lakoni mengalami penurunan omset yang cukup drastis. Kendati demikian, agar usahanya tidak gulung produksi batiknya dihentikan dulu sementara waktu dan berpindah memproduksi masker kain.

“Dampak virus Corona ini, saya harus banting setir usaha. Intinya kami memproduksi dan berjualan masker ini untuk mempertahankan hidup para penjahit batik. Kalau tidak mereka bisa menganggur. Apalgi sekarang ada anjuran untuk tinggal di rumah saja,” kata dia.

Baca Juga:   BREAKING NEWS: 1 Orang Warga Sumedang Positif Virus Corona, 986 ODP

Permintaan masker kain yang begitu banyak, kata dia, membuat ia menambah pegawai. Sebelumya, ia hanya mempekerjakan tiga orang pegawai saja. Namun kini ia mempekerjakan enam pegawai selaku penjahit.

“Dalam satu hari total produksi yang bisa dicapai sebanyak 1800 masker per hari. Satu penjahit bisa menghasilkan 300 masker kain,” kata dia.

Eri menuturkan, permintaan masker kain yang cukup tinggi bukan saja hanya menguntungkan para penjahit saja. Namuni juga para pedagang. Menurutnya, banyak pedagang yang kini ikut banting satir akibat mewabahnya Covid0-19.

“Pedagang makanan ikut juga berjualan masker. Jangan karena wabah virus Corona, perekonomian kita menjadi terpuruk, kita harus bangkit,” tuturnya.

Kendati banting stir memproduksi masker kain, namun ia tidak mengambil keuntungan berlebih. Menurutnya, harga masker kain produksinya masih dalam kategori wajar. Per lusinnya, ia hanya menjual Rp40 ribu.

Baca Juga:   Pemuka Agama di Sumedang: Pascapemilu Jangan Terprovokasi Isu di Media Sosial

“Jadi itung-itung bantu masyarakat juga. Soalnya dapat informasi, harga masker kain yang mirip dengan hasil produksi saya, bisa dijual sampai Rp7 ribu hingga Rp9 ribu. Kan kebangetan,” kata dia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here