[Kamp Interniran] Nasib Belanda Ditangan Jepang dan Bangkitnya Perlawanan Bangsa Indonesia

Lampersari-Sompok, keuken, Semarang. (Foto: Javapost.nl)

NOTIF.ID, HISTORI – Tepat pada 1 September 1939 menjadi awal pecahnya perang dunia (PD) II di Eropa. Pada tahun yang sama, Front Barat yakni Inggris dan Prancis secara resmi mengumumkan bahwa negaranya sedang dalam kemelut perang melawan Nazi Jerman.

Sehari setelah pengeboman Rotterdam oleh Nazi Jerman, tentara Belanda mengaku menyerah, pada 15 Mei 1940. Ditambah kabar penyerangan Jepang ke Pearl Harbour, Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat yang diterima di Batavia sekitar pukul 3 pagi, pada 8 Desember 1941.

Empat jam kemudian, semua stasiun radio nasional Hindia Belanda melalui perintah Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Tjarda van Starkenborgh Stachhouwer mengumandangkan pernyataan perang terhadap Jepang.

Walaupun hal ini terjadi jauh dari Jawa, namun hal tersebut telah membuat panik para pemangku Hindia Belanda di Jawa, yang notabenenya Belanda merupakan sekutu dari Front Barat.

Semua lapisan pemangku kekuasaan Hindia Belanda di Jawa mengatur persiapan langkah selanjutnya dalam menanggapi keadaan Negeri Belanda jika sampai perang berkecamuk di Hindia Belanda.

Pada akhirnya sesuai dengan prediksi, invasi besar-besaran pasukan Jepang menuju Hindia Belanda pun terjadi.

Militer Jepang dari 11 Januari 1942 hingga 7 Maret 1942 telah berhasil menggempur militer Hindia Belanda dan menguasai beberapa wilayah, seperti Tarakan, Balikpapan, Pontianak, Samarinda, Banjarmasin, Palembang dan yang terakhir ialah pulau Jawa.

Pada tanggal 25 Februari 1942, sebelum penaklukkan pulau Jawa, beberapa kapal armada laut Jepang telah terdengar memasuki perairan Jawa.

Seketika itu, pangkalan armada laut Belanda di Surabaya yang dipimpin oleh Laksamana Karel Willem Frederik Marie Doorman atau Karel Doorman, diinstruksikan untuk melakukan pencarian dan penghadangan invasi Jepang ke pulau Jawa.

Tetapi akibat kesalahan informasi, dilaporkan bahwa armada laut Jepang masih jauh dari perairan Jawa. Karena menunggu terlalu lama dengan keadaan kru kapal yang letih, akhirnya Doorman memutuskan untuk kembali ke pangkalan di Surabaya dan merapat pukul 09.30, pada 27 Februari 1942.

Di hari yang sama, pukul 15.00, ia diinstruksikan Helfrich untuk menyergap kembali armada Jepang yang secara mengejutkan dilaporkan telah merangsek masuk mencapai timur Bawean, perairan Laut Jawa.

Tak berpikir panjang, armada Karel Doorman kembali ke perairan laut Jawa untuk menghadang armada laut Jepang.

Dengan menggunakan kapal De Ruyter, Doorman menghadang 21 halu laju armada Laut Jepang yang berada di laut Pasifik (kejadian ini dikenal sebagai perang laut Jawa).

Tanpa koordinasi yang baik dan kondisi kru kapal yang kelelahan, mereka akhirnya kalut dan kewalahan menghadapi perlawanan sengit dari pihak Jepang sejak pukul 17.08 hingga 19.38.

Hr.ms de Ruyter (angkatan laut Belanda), ditenggelamkan dalam pertempuran laut Jawa pada tahun 1942 oleh seorang penjelajah kelas myoko. (Foto: Reddit.com)

Kapal armada laut Jepang kala itu memiliki persenjataan dan teknologi lebih maju ketimbang kapal-kapal armada laut milik Hindia Belanda. Pertahanan pun akhirnya berhasil diluluh-lantahkan.

Tercatat, pada 28 Februari 1942, kapal De Ruyter yang dipimpin Doorman terkena tembakan torpedo dibagian pantat kapal dan menenggelamkannya beserta sang kapten.

Kejadian ini telah disaksikan oleh Boenandier, yang kala itu menjadi kru kapal De Ruyter, kepada Suara Surabaya, pada 27 Februari 2008 lalu.

Menurut Boenandir, ketika terjadi pertempuran, awak kapal De Ruyter berusaha membalas serangan, meski hanya dengan peluru artileri 150 mm yang daya jangkaunya tak sebanding peluru 280 mm yang dilontarkan oleh kapal armada laut Jepang.

“Armada laut mereka luar biasa besar dan banyak. Amunisi mereka pun juga banyak,” katanya.

Setelah sehari semalam bertempur, pantat kapal De Ruyter terkena tembak torpedo Jepang. Awak kapal panik dan berusaha menyelamatkan diri, termasuk Boenandir.

“Waktu itu saya masih di kamar mesin. Luar biasa takut dan panik saya. Kapal sudah mulai miring dan saya berjuang untuk mencapai dek. Begitu melihat sekoci penyelamat, saya langsung naik dan tak berapa lama kemudian kapal karam,” ujar Boenandir, yang juga merupakan mantan Kolonel Angkatan Darat Indonesia.

Kejadian tersebut, merupakan salah satu pertanda peralihan tampuk kekuasaan Hindia Belanda kepada Jepang telah dimulai.

Sejarah mencatat, penyerahan tanpa syarat oleh Panglima Angkatan Perang Hindia Belanda, Letnan Jenderal H. Terpoorten, kepada Letnan Jenderal Hitoshi Imamura, pada tanggal 8 Maret 1942. Maka, dimulai lah masa kependudukan Jepang di Indonesia.

Berita resmi penyerahan Hindia Belanda kepada Jepang di Lapangan Udara Kalijati tersiar dari corong Nederlandsch-Indische Radio Omroep Maatschappij (NIROM), pada Senin, 9 Maret 1942.

Seketika itu juga, kehidupan orang-orang Belanda di bumi jajahannya berubah drastis.

Para Nyonya dan Meneer Belanda atau bangsa Eropa lainnya yang terbiasa dengan gaya hidup mewah kemudian terkatung-katung dalam kehidupan yang mengenaskan di bekas Negeri jajahannya.

Pasukan tentara Belanda menyerah kepada Pasukan Jepang. Belanda (Barat), Papua, 1942. (Foto: dani1944 via flickr)

Seiring jatuhnya Hindia Belanda, Jepang juga berhasil menghembuskan propaganda “Saudara tua” dan propaganda anti Front Barat, yakni Belanda, Amerika, Inggris beserta sekutunya. Hal ini tak lain untuk menarik simpati Bangsa Indonesia.

Dampak masa kependudukan Jepang selama 3,5 Tahun di Bumi Persada Indonesia menyisakan banyak kesan pahit, kepedihan dan sekaligus masa gemilang Bangsa Indonesia dalam memerdekakan diri dari penjajahan.

Berbagai tindakan opresif Jepang selama menduduki Indonesia, ditunjukkan dengan sistem kerja romusha yang harus ditanggung oleh rakyat Indonesia dan juga para tahanan perang.

Ketika militer Jepang mencetuskan kebijakan tenaga kerja romusha, awalnya mendapat sambutan baik dari bangsa Indonesia. Banyak rakyat Indonesia yang terbuai dan bersedia untuk jadi sukarelawan.

Namun, semua itu berubah ketika kebutuhan Jepang untuk berperang meningkat. Pengerahan romusha menjadi sebuah keharusan, bahkan paksaan.

Semua dipaksa membangun semua sarana perang yang ada di Indonesia. Rakyat Indonesia dan tahanan perang pun bahkan dikirim ke luar negeri untuk dipekerjakan sebagai romusha.

Beberapa dikirim ke Vietnam, Burma (sekarang Myanmar), Singapura, Muangthai (Thailand), dan Malaysia.

Mereka dipaksa bekerja sepanjang hari, tanpa diimbangi upah dan fasilitas hidup yang layak. Akibatnya, banyak dari mereka yang gugur dalam keadaan yang mengenaskan.

Kesaksian Runtuhnya Kolonial Dutch East Indies

“Mempertahankan suatu daerah kepulauan seluas Eropa dengan 350.000 orang serdadu bayaran … berarti suatu pekerjaan yang mustahil,” ungkap Bijkerk.

Hal itu disebutkannya dalam tulisan B.J. Bijkerk “Vaarwel, Tot Betere Tijden: Documentatie over de ondergang van Ned-Indie” pada tahun pada 1974.

Tulisannya juga sudah diterbitkan dalam Bahasa Indonesia oleh Penerbit Djambatan, dengan judul “Selamat Tinggal, Sampai Jumpa Pada Masa yang Lebih Baik”

Berdasarkan tulisan Bijkerk, seorang perempuan Belanda berusia 45 tahun yang waktu itu merupakan seorang perawat di Gemeente Ziekenhuis Juliana (Kini RS Hasan Sadikin), Bandung, menuliskan pengalamannya menjelang runtuhnya kekuasaan Hindia Belanda.

Bijkerk berpendapat, bahwa kekuatan Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL) pada masa itu dibentuk untuk menjaga keamanan dan kedamaian Hindia Belanda, tidak dipersiapkan untuk berperang dengan musuh dari luar.

“(Suasana Hindia Belanda seperti) orang yang menunggu hasil ujian tetapi mereka sebenarnya sudah tahu dengan pasti bahwa mereka tidak lulus,” tulisnya.

Dikatakannya, stasiun radio NIROM memperingatkan kepada warganya untuk membuang isi botol minuman beralkohol. Pikirnya, mereka tahu bahwa dalam pengaruh alkohol serdadu Jepang akan berlaku brutal.

“Semua botol-botol minuman kami buang isinya,” ungkap Bijkerk.

Namun, belakangan mereka baru paham bahwa tanpa pengaruh alkohol pun militer Jepang memang sudah terkenal dengan kebrutalannya.

“Akhir dari Hindia Belanda di Bandung terlihat gedung-gedung pertemuan dan restoran-restoran, yang dipenuhi orang-orang Belanda,”

“ […] Para perwira tinggi yang berdansa tampak tidak terganggu (dengan serangan Jepang) di Societeit Concordia di Jalan Braga dan di Hotel Homann Bandung. Hampir semua yang hadir berbusana malam…” ungkap B.J. Bijkerk.

Jurnalis United Press asal Amerika Serikat, William Henry McDougall Jr. (1909-1988) beserta jurnalis lainnya memberikan kesaksian pada saat penyerangan militer Jepang di Subang, pada Rabu, 4 Maret 1942.

Ketika itu, Ia dan jurnalis lainnya yang turut mendokumentasikan pertempuran di Subang dibekali senapan otomatis dan diberi keluasaan menyaksikan bagaimana armada KNIL menghalau Jepang agar mundur kembali ke laut.

Militer Jepang melakukan serangan terhadap pasukan KNIL Belanda di Jawa. (Foto: Javapost.nl)

Namun, pada kenyataannya McDougall menemukan hal yang sebaliknya. Armada KNIL dipukul mundur kocar-kacir meninggalkan Subang menuju Bandung yang dibombardir oleh pesawat-pesawat Jepang.

“Kami mencari-cari hingga horizon, namun tidak menemukan apapun kecuali bercak asap hitam sisa ledakan peluru penangkis serangan udara,”

“Lalu kami menyadari apa yang membuat pasukan itu panik. Peluru-peluru penangkis serangan udara itu meletus dan turun ke bawah seperti parasut-parasut hitam.” ungkap McDougall.

Menurut seorang Jurnalis National Geographic Indonesia, Mahandis Y. Thamrin mengatakan, Monumen Tjiaterstelling-Soebang-Kalidjati di Ereveld Pandu, Bandung. Menjadi saksi bahwa Hindia Belanda takluk kepada Jepang.

Bijkerk dan McDougall merupakan sebagian dari penyintas kapal Poelau Bras, dan juga banyak warga Belanda lainnya bersama mengungsi dengan mobil ke Wijnkoopsbaai (Pelabuhan Ratu).

Dalam buku riwayatnya, dituliskan bahwa Wijnkoopsbaai belum diketahui oleh pesawat-pesawat pemburu milik Jepang. Untuk sementara mereka aman di kapal Poelau Bras yang siap berlayar menuju Pulau Christmas, Australia.

Namun, keberangkatan kapal Poelau Bras dari Wijnkoopsbaai menuju pulau Christmas terciduk Militer Jepang dan ditenggelamkan, pada 7 Maret 1942 di barat laut Pulau Christmas, Samudra Hindia.

Perkiraan korban tenggelamnya kapal Poelau Bras mencapai 240 orang, sebanyak 116 orang berhasil selamat dari maut karena sekoci.

Selama tiga tahun lebih, korban yang selamat mendekam terpisah di balik kawat berduri kamp tawanan perang yang berada di Sumatra.

McDougall menulis petualangannya dalam “Six Bells off Java: A Narrative of One Man’s Miracle” yang diterbitkan Charles Scribner’s Sons, New York pada 1948. Buku lain karyanya berjudul “By Eastern Windows” terbit pada tahun berikutnya.

Atas petualangan dan laporan pascaperangnya, McDougall menerima Nieman Fellowship di Harvard University dan juga nominasi Pulitzer Prize.

Tak hanya Bijkerk dan McDougall, kesaksian pun dituturkan oleh Gladys Luginbuehl Surbek yang akrab dipanggil Gladys Surbek.

Seorang perempuan warga Swiss (Negara Blok Netral) yang lahir dan tinggal di Hindia Belanda sampai pada akhirnya masuk kependudukan Jepang.

Ia lahir di Palembang dan besar di Medan dan Bandung selama 16 tahun. Orangtuanya Kurt dan Gret Surbek ditugaskan sebagai dokter oleh Kerajaan Belanda semenjak 1919.

Ketika ia dan keluarganya menetap di Bandung, ayah Galdys sempat mendirikan Rumah Sakit Solsana (kini RS Paru Dr. H. A. Rotinsulu) di Lembang, Jawa Barat.

Pada masa itu, kehidupan keluarga Surbek yang semula mewah, menjadi terbalik. Beruntung, karena mereka orang Swiss, lantas dianggap netral. Kurt pun tidak ditangkap Jepang atau dikirim ke kerja paksa.

“Waktu zaman Jepang masuk ke Indonesia, kami mau tak mau harus meninggalkan Indonesia. Dan semua milik kami, termasuk tanah, dijual,“ kenang Gladys.

Namun, kisah pahit yang dialami keluarganya cukup tragis, Ia dan ibunya sempat diperkosa oleh tentara Jepang didepan mata ayahnya.

“Sejak saat itu, kami tidak berani lagi tidur di rumah. Kami pindah ke rumah sakit,“ kata Gladys.

Ia telah menuliskan pengalaman dan kesaksiannya melalui sebuah buku yang berjudul “Im Herzen Waren Wir Indonesier” (Di Dalam Hati Kami, Kami Orang Indonesia), dan sepotong film dokumenter “Gladys Reise” (Perjalanan Gladys), yang mengisahkan kisah hidup keluarga Surbek di Hindia Belanda.

Namun, salah satu bagian sejarah yang tak banyak dibicarakan adalah mengenai kehidupan para tawanan perang asing di kamp konsentrasi yang dibuat oleh Jepang semasa kependudukannya di Indonesia.

Kamp Interniran

Selama masa pendudukan Jepang, mereka ditempatkan dalam kamp – kamp konsentrasi yang dikenal dengan sebutan Kamp Interniran atau “Interneringskamp” yang dibangun untuk menampung banyak orang.

Kamp Interniran memiliki sistem kontrol yang dibangun oleh militer Jepang di Batavia, bahkan di seluruh Indonesia.

Hal ini diberlakukan oleh Jepang untuk mengklasifikasi warga Belanda serta keturunannya, Eropa, Yahudi dan warga asing lainnya. Seleksi Penahanan dilakukan dengan memeriksa akte kelahiran mereka agar lebih mudah diawasi.

Mereka yang masuk kamp, umumnya adalah orang-orang Belanda asli. Bagi para keturunan Indo (sebutan bagi campuran Eropa-Pribumi), tak menjadi sasaran para tentara Jepang untuk diinternir kedalam Kamp konsentrasi. Mereka masih diperbolehkan tinggal diluar Kamp.

Tak lama setelah pembebasan, kamp kami KAMPONG MAKASSAR dikunjungi oleh para jurnalis untuk div. ambil gambar seperti ini di pintu masuk tempat saya baru bangun, senang dengan foto ini dari masa lalu. latar belakang pohon-pohon palem di sepanjang jalan menuju bagian dalam kamp. (Foto: Johanna Charlotte via Pinterest)

Namun, apabila percampuran darah lebih condong kepada darah Belanda tetap akan diberlakukan penahanan.

Kamp Interniran, dibedakan antara kamp laki-laki dan perempuan serta anak-anak. Seperti beberapa kamp Interniran di Batavia (Kini Jakarta), seperti kamp Cideng, Kampung Makasar, Keramat Raden Saleh, Penjara Salemba, Penjara Bukit Duri, Penjara Glodok, Petekoan dan Jatinegara.

Pada Kamp Bukit Duri (kini komplek pertokoan di daerah jatinegara) dijadikan tempat tawanan bagi pria Belanda dan Eropa. Dijalan Jaga Monyet yang dulunya merupakan markas KNIL dan juga Kioni (kini jalan Suryopranoto) sempat dijadikan kamp tahanan perang asal Maluku.

Sedangkan di penjara Glodok (kini pertokoan Harco), menjadi kamp tawanan pertama bagi orang Eropa. Tempat penampungan kuli di wilayah matraman berisi sekitar 3.000 tawanan laki-laki Belanda dari beberapa tempat di Batavia.

Dilaporkan, jumlah tahanan membengkak ketika September 1944 yang turut ditempatkan pula para tahanan wanita dan anak-anak.

Perempuan dan anak-anak Belanda di kamp interniran Jepang, Batavia, Indonesia 1945. (Foto: Reddit.com)

Tawanan perang yang dipenjara di kamp, diketahui berjumlah sekitar 1.500 orang yang kebanyakan adalah serdadu Inggris dan Australia. RS Jiwa di Grogol, menjadi kamp tawanan dengan jumlah 1.400 orang Belanda.

Sementara kamp pengungsi Koja, Tanjung Priuk mendekam sekitar 800 tahanan orang Inggris yang didatangkan langsung dari Bandung. Demikian pula di kampung Makasar dan puluhan tempat lainnya dari luar daerah Batavia.

Ketika situasi Kamp diawasi oleh polisi Sipil, para perempuan dan anak-anak yang turut ditahan di Kamp Interniran kondisinya tak begitu buruk.

Kala itu, mereka masih bisa memasak, belanja, dan menghadiri misa di gereja. Tetapi, ketika diambil alih kenpeitai (Polisi Militer Jepang), semua aktivitas tersebut dilarang. Setiap jiwa hanya diberikan jatah 25 cent per hari, makanan pun harus dimasak di dapur umum.

Semakin lama, kualitas dan kuantitas makanan pun menurun drastis. Kelaparan lalu menjadi hal yang biasa, begitu juga dengan wabah penyakit dan kematian.

Hal itu turut dituturkan oleh penduduk lokal dan pemerhati sejarah, Arifin, dalam Film Dokumenter “The Fighting Dutch (Aflevering – De Oorlog in Indonesië)”.

Arifin mengatakan, bahwa pada masa Belanda yang dikenal dengan Laan Trivelli (Tanah Abang Dua, Cideng) pada masa kependudukan Jepang kemudian diubah dan dijadikan Kamp Interniran.

“Orang Indonesia tidak boleh berhubungan (dengan para tahanan), sedangkan orang Belanda kebetulan (membutuhkan bahan makanan),”

“Orang Indonesia yang miskin menjual sesuatu, seperti telur, dan macamnya untuk (dijual) orang Belanda yang masih memiliki uang. Namun, bila ketahuan oleh Jepang, (sanksinya) dibunuh,” kata Arifin.

Kehidupan para Bruder Belanda dan Eropa

Kondisi Kamp Interniran telah didokumentasikan dalam catatan seorang Bruder katolik, Br. Joachim van der Linden didalam naskah “Donum Desursum: 1980”.

Menurut pengakuan Bruder Herman, kependudukan Jepang menjadi ancaman bagi para Bruder di Indonesia, mengingat Jepang sama sekali tak simpati terhadap Bangsa Barat.

Hal itu terbukti selang dua minggu setelah Jepang mengambil alih kekuasaan. Para Bruder dilarang mengajar HIS, Schakelschool, dan MULO.

Penggunaan Bahasa Belanda pun dilarang. Para Bruder juga dilarang melakukan semua aktivitas kegiatan sekolah. Mulai terjadi pelarangan terhadap simbol-simbol Belanda termasuk perusakan-perusakan gedung sekolah dan kapel.

Menurut pengakuannya, banyak barang-barang yang hilang seperti lonceng, meja, kursi, lemari, cermin, dan lain-lain karena terjadi penjarahan dan perusakan.

Hal tersebut mulai terjadi menyeluruh di seluruh pulau Jawa mulai dari Solo, Semarang, Ambarawa, Muntilan, Jogja.

Sekolah HCS pertama di gudang Kampung Cina dekat Pelabuhan. (Foto: Dok.CB)

Dikatakannya, pada 22 Juli 1943 para Bruder komunitas di semarang, mereka mendapatkan hukuman dan siksaan dengan tuduhan menyalakan lampu-lampu kamp dan mendengarkan siaran radio yang dilarang oleh Jepang.

Para Bruder mendapat siksaan tidak diberi minum dan makan, di masukan penjara dalam keadaan jongkok. Para Bruder yang ditangkap adalah Bruder Adrianus, Bonifacio, Wiro, Grontius, Ivo, Fulgentius, Donald,Vitus, dan Selesio.

Masyrakat Indonesia yang berada di Kamp Interniaran Sint Louis menjadi sasaran propaganda Jepang untuk menghembuskan anti Belanda, anti Barat.

Sementara itu Bruderan dan Asrama tidak terpelihara. Kerusakan terus terjadi di Sint Louis, Semarang seperti jendela jendela, hancur, meja kursi hilang, tabernakel berantakan tercecer 24 di kebun halaman, altar berantakan dan Sint Louis tak terpelihara.

Dalam catatan Donum Desursum, dituliskan bahwa para Bruder mendapat banyak penyiksaan dan intimidasi selama berada di dalam Kamp, Salah satunya para Bruder di Semarang seperti di kamp Zieknzorg (Rumah Sakit).

Ditulisnya, bahwa Kamp di luar Batavia banyak terdapat para tawanan dalam keadaan kamp yang sempit penuh sesak, dimana susah untuk mencari celah untuk tidur.

Dikatakan juga, para tahanan digabungkan menjadi satu dalam suatu ruangan dengan sedikit makanan dan minuman yang diberikan oleh kenpeitai.

Dua pria Belanda, sedang berada di kamp Interniran selama kependudukan Jepang, Perang Dunia II (Foto: seniorplaza.nl)

Pada Kamp Interniran di Istana Pengadilan di Semarang, para Komunitas Koningin Emmalan yang dituduh sebagai terdakwa disekap, dianiaya, dan bahkan dibunuh. Hal tersebut dilakukan oleh kenpeitai selama perang di Jawa.

Jatingaleh, Semarang selatan menjadi tempat dimana sebuah barak di Lerang perbukitan Gombel didirikan untuk mengintervensi para Bruder. Pukulan tendangan merupakan makanan sehari-hari untuk para pelanggar, misal: menaruh sendal tidak tepat garis maka akan dipukul.

Disebutkan, sebanyak 20 tawanan Bruder telah dipindahkan dari Kamp Tjimahi ke kamp Baros, sebelah barat Bandung, tidak jauh dari Cimahi.

Di Kamp Baros para tawanan ditempatkan di Bat 15. Kamp Bat 15 dapat dikatakan sebuah kamp, tetapi memiliki sistem kota khusus militer yang berdiri sendiri.

Menurut Bruder Tri, di dalam Kamp para tawanan bercampur jadi satu dengan tawanan sipil lain (Non Biarawan). Mereka bekerja membangun jalan kereta api di daerah Cicalengka.

Kamp Tertutup Untuk Armenia dan Yahudi

Menurut seorang Jurnalis dan juga pendiri Hadassah of Indonesia, Monique Rijkers menuliskan, merujuk penelitian Profesor Rotem Kowner dari Asian Studies Universitas Haifa di Israel, pada masa PD II terdapat sekitar 3.000 orang Yahudi di Indonesia.

Pada Mei 2017, Monique telah berhasil menemui seorang saksi hidup yahudi di Tel Aviv, Israel untuk mengisahkan masalalunya saat kependudukan Jepang di Hindia Belanda.

Dikatakannya, kebanyakan dari mereka datang sebagai pegawai pemerintah Belanda dan pedagang. Kelompok keturunan Yahudi di Indonesia terbagi dua, yakni berasal dari Eropa dan Irak.

Menurut penuturan seorang Yahudi-Belanda, Odeed Cohen, Pria kelahiran Kota Malang, pada 23 Februari 1940 lalu. Mengisahkan kondisi dan kehidupan orang-orang Belanda keturunan Yahudi di Indonesia, khususnya saat berada dalam kamp tahanan Jepang.

Dikisahkan Oded (panggilan Odeed Cohen), pada saat itu ayahnya, Moshe Cohen, bertugas sebagai hakim di Dutch East Indies atau Hindia Belanda. Pada 1938, menjelang meledaknya PD II. Ia kemudian ditugaskan dan tinggal bersama keluarganya di Pasuruan, Jawa Timur.

Namun, ketika pendudukan Jepang pada Mei 1942, kehidupan keluarga Moshe Cohen berubah. Tentara Belanda menyerah dan ayah Oded menjadi tawanan perang.

Ayah Oded sempat diinternir di Malang dan dideportasi pada Agustus 1942 ke Batavia. kemudian dipindahkan ke kamp kerja paksa di Thailand dan Burma.

Oded berserta ibunya, Rachel dipindahkan ke Malang dan hidup di area kamp khusus perempuan dan anak-anak Belanda, yang disebut dalam bahasa Belanda “kampwijk”.

Kamp tersebut merupakan lingkungan tertutup dan terbatas yang diperuntukkan khusus menampung para tawanan orang Belanda keturunan Armenia dan Yahudi.

Pada waktu itu, Oded mengaku tak mengetahui alasan pemisahan tersebut. Meski begitu, menurut penuturannya di dalam kampwijk tidak banyak orang yang mempraktikkan ritual keagamaan Yahudi.

Ibunya yang merupakan penganut Yahudi Ortodoks pun tidak melakukan ritual, karena di dalam agama Yahudi kebanyakan ibadah dilakukan pria. Selain itu, ibadah dalam bentuk kolektif harus mendapat izin dari kepala kamp.

“Saya melihat pesawat Jepang yang terbang sangat rendah di atas tempat kami dengan suara memekakkan telinga. Saya ingat tentara Jepang ketika menginspeksi tahanan. Ia menggendong saya, berkeliling ruangan dan memberi permen”, tulis Oded dalam surat untuk cucu tertuanya, Alon, yang tinggal di Amerika Serikat dari Tel Aviv.

Pada 26 Maret 1943, Ia dan Ibunya dipindahkan dari Kamp di Malang ke Boemiekamp di Solo. Pada Kamp tersebut, terdapat 3.900 tahanan. Ia sendiri merupakan tahanan bernomor 20493, menempati barak nomor 25 yang berisi 152 orang.

Buku bordir yang dibuat Rachel, ibunda Oded, saat tinggal di kamp konsentrasi Jepang, Juni-Agustus 1945. (Foto: Monique Rijkers).

Masa-masa itu tertuang dalam sebuah catatan yang ditulis dalam sebuah buku Bordir pemberian ibunya saat berada di Kamp Banjoebiroe, Ambarawa, dekat Rawa Pening.

Menurutnya, setiap tahanan menghuni tempat untuk tidur yang sangat sempit, bersentuhan dari bahu ke bahu. Interaksi dengan orang Indonesia yang hidup di luar pagar hampir tak ada.

Namun, beberapa tahanan berusaha untuk menukar barang miliknya dengan makanan. Tetapi, apabila tertangkap tangan tangan akan dihukum. Bahkan, katanya, satu kali hukuman pernah dilakukan di depan anak-anak.

Dikatakan Oded, Ibunya mulai membordir untuk sampul sebuah buku sejak Juni 1945, buku bordir berjumlah 15 halaman itu rampung pada Agustus 1945.

“Buku bordir Ibu saya merupakan testimoni dari masa yang sulit dan menakutkan selama berada di dalam kamp, tetapi Ibu membuat buku bordir dengan cara yang indah dan dalam warna cerah,” tuturnya.

Dikatakan Monique Rijkers, beratnya kehidupan di dalam kamp terekam dalam buku bordir itu dan menjadi dokumen sejarah pribadi atau keluarga yang menjadikannya semacam ego document yang unik.

Ketika ditanya mengenai apa yang membedakan kamp tahanan Jepang dari kamp konsentrasi Nazi, dirinya menjawab, Jepang tak melakukan pembunuhan sistematis seperti Nazi.

“Jepang tidak membedakan orang Yahudi dengan orang Belanda lain. Jepang tidak melakukan pembunuhan sistematis kepada orang Yahudi, tetapi Nazi melakukan pembunuhan sistematis.” ungkap Oded.

Dirinya bahkan menegaskan, meski masa kecilnya terpenjara dalam kamp tahanan Jepang. Namun, ia meyakini bahwa para tentara Jepang juga merupakan korban dari sistem pemerintahannya sendiri.

“Saya pribadi tidak menyimpan kepahitan terhadap Jepang. Saya percaya banyak tentara Jepang merupakan korban dari sistem pemerintah dan para tentara juga menderita dan tewas demi Kaisar yang (dipercaya) sebagai reinkarnasi Tuhan menurut kepercayaan Jepang.” katanya.

Kehidupan Warga Tionghoa

“Sasoedanja Djepang berkoeasa di sini 6 minggoe lamanja, moelai dilakoeken penangkapan pada pemimpin-pemimpin dan journalist-journalist Tionghoa … Itoe koetika kira-kira djam 9 pagi pada itoe hari Minggu 26 April 1942 jang tida aken bisa terloepa.” ungkap Nio Joe Lan.

Pengakuan itu dituturkan oleh salah seorang jurnalis Tiong Hoa Hwe Koan, Nio Joe Lan (1904 -1973).

Nio yang kala itu berusia 38 tahun merupakan salah satu dari banyaknya Jurnalis laki-laki dari beberapa kota di Jawa yang turut diciduk oleh Militer Jepang.

Dikatakannya, ia bersama para warga Tionghoa, opsir China, pemuka warga pecinan, dan jurnalis terisolasi dari dunia luar.

“Djangan kata mengatahoei keadahan loear, liat orang loear sadja tida boleh!” katanya.

Mereka yang merupakan etnis Tionghoa awalnya ditempatkan di Bukit Duri, lalu ke Kamp di Serang, sebelum akhirnya dipindahkan ke Kamp Tjimahi bersama 9.000 warga Belanda.

Dituturkannya, Kenpeitai melakukan banyak tindakan keras terhadap mereka karena dianggap pro-Chungking dan anti-Jepang.

Ereveld Leuwigajah di Cimahi, permakaman bagi warga sipil dan militer yang umumnya tewas di dalam kamp tawanan Jepang. (Foto: Tropenmuseum/Wikimedia Commons)

Nio dan warga Tionghoa lainnya telah dibebaskan pada 27 Agustus 1945. Ketika itu, Nio bertimbang hati kepada keluarga Belanda yang meskipun bebas, mereka tak lagi memiliki rumah.

”Orang interneeran Tionghoa boleh dibilang ampir semoea masi ada poenja roemah, kemana marika bisa poelang.” katanya.

Pengalamannya telah dituliskan dalam sebuah buku berjudul “Dalem Tawanan Djepang (Boekit Doeri-Serang-Tjimahi): Penoetoeran Pengidoepan Interneeran Pada Djeman Pendoedoekan Djepang”, diterbitkan oleh Lotus Company pada 1946.

Jatuhnya Bom Atom di Hiroshima dan Nagasaki

Pada 7 Mei 1945, jatuhnya kekuatan Nazi Jerman di Eropa oleh Angkatan Darat Soviet di bawah pimpinan Georgy Zhukov dan Ivan Konev yang menyerang Berlin dari timur. Menjadi awal dari berakhirnya PD II di kawasan Eropa.

Pertempuran tersebut berlangsung di akhir April 1945 sampai awal Mei 1945. Sebelum pertempuran usai, Adolf Hitler bunuh diri, lalu Jerman menyerah setelah lima hari pertempuran berakhir.

Pertempuran diakhiri dengan keputusan Nazi Jerman menyerah tanpa syarat kepada Sekutu di Eropa.

Setelah runtuhnya kekuatan Nazi Jerman di Eropa. Kaisar Jepang, Hirohito memerintahkan Dewan Penasihat Militer untuk melakukan negosiasi kepada pihak sekutu dalam Deklarasi Potsdam, pada 26 Juli 1945.

Dalam Deklarasi, Presiden Amerika Serikat, Harry S. Truman, Perdana Menteri Inggris, Winston Churchill dan Ketua Tiongkok, Chiang Kai-shek menguraikan ketentuan penyerahan diri bagi Kekaisaran Jepang.

Sebagaimana disepakati pada Konferensi Potsdam. Isi ultimatum itu menegaskan, jika Jepang tidak mau menyerah kepada pihak sekutu, maka akan dipastikan menghadapi “kehancuran yang cepat dan total.”

Walaupun keinginan untuk melawan hingga titik penghabisan dinyatakan secara terbuka oleh Jepang. Sementara, invasi Sekutu ke Jepang hanya tinggal menunggu waktu.

Pemimpin Jepang dari Dewan Penasihat Militer Jepang secara pribadi memohon Uni Soviet untuk berperan sebagai mediator dalam perjanjian damai dengan syarat-syarat yang menguntungkan Jepang.

Sementara itu, pihak Uni Soviet telah membelot terhadap Jepang yang  turut mempersiapkan serangan dalam usaha memenuhi janji kepada Amerika Serikat dan Inggris di Konferensi Yalta.

Pascatragedi bom atom di hiroshima, Jepang yang dilancarkan oleh Amerika Serikat. (Foto: Boombastis)

Dianggap tak menggubris ultimatum sekutu, pada akhirnya kota Hiroshima dan Nagasaki dibombardir oleh Amerika Serikat, pada 6 Agustus dan 9 Agustus.

Pada waktu yang sama, Uni Soviet pun melancarkan serbuan mendadak ke koloni Jepang di Manchuria (Manchukuo) yang melanggar Pakta Netralitas Soviet–Jepang.

Mendapatkan tekanan dari berbagai pihak serta kudeta yang gagal. Kaisar Hirohito menyampaikan pidato radio di hadapan rakyat pada 15 Agustus 1945.

Dalam pidatonya yang disebut Gyokuon-hōsō (Siaran Suara Kaisar), Kaisar Hirohito membacakan Perintah Kekaisaran tentang kapitulasi, sekaligus mengumumkan kepada rakyat bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu.

Jenderal Richard K. Sutherland, Menteri Luar Negeri Jepang Mamoru Shigemitsu menandatangani Dokumen Kapitulasi Jepang di atas kapal USS Missouri, 2 September 1945. (Foto: Army Signal Corps photographer LT. Stephen E. Korpanty via Naval Historical Center Photo)

Disaksikan Jenderal Richard K. Sutherland, Menteri Luar Negeri Jepang, Mamoru Shigemitsu menandatangani Dokumen Kapitulasi Jepang di atas kapal USS Missouri, pada 2 September 1945.

Dokumen Kapitulasi yang ditandatangani Jepang secara resmi mengakhiri Perang Dunia II. Penduduk sipil dan anggota militer di negara-negara Sekutu pun merayakan Hari Kemenangan atas Jepang dengan sebutan V-J Day.

Dengan perjanjian Kapitulasi Jepang, kedudukan Jepang di Hindia Belanda hampir selama 3,5 turut jatuh dan merupakan pertanda berakhirnya masa PD II di kawasan Asia Pasifik.

Bangkitnya Bangsa Indonesia Melawan Penjajahan

Walaupun pihak militer Jepang pada waktu itu masih bungkam atas fakta kekalahannya. Namun, kabar tersebut telah didengar oleh para tahanan  belanda dan keturunannya yang disambut dengan gembira.

Kegembiraan mereka tak berlangsung lama, pasalnya rakyat Indonesia segera bangkit dan memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.

Proklamasi kemerdekaan diserukan oleh Presiden pertama Indonesia, yakni Ir Soekarno dan wakilnya, Moh. Hatta.

Pada masa Revolusi Indonesia, semua persenjataan Jepang pun dilucuti oleh para pemuda. Sementara para tahanan Jepang yang terdiri dari orang-orang Belanda serta keturunannya masih harus mendekam dalam penahanan mereka.

Perihal proklamasi kemerdekaan Indonesia masih belum terdengar oleh para tawanan Jepang. Namun, memang dirasakan tidak adanya penjagaan tentara jepang dan pembagian beras extra bagi para tawanan.

Pada tanggal 23 Agustus, masih diadakan upacara ekumenis untuk mengucap syukur atas kemenangan sekutu terhadap Jepang. Disusul dengan misa besar dengan dihadiri oleh Moneseigneur.

Barulah pada tanggal 25 Agustus terdengar desas-desus kabar bahwa kemerdekaan Republik Indonesia telah diproklamasikan.

Mendengar hal tersebut tentu membuat kaget para tawanan dan Pemerintah Belanda. karena sama sekali tidak pernah terbayang akan terjadinya Revolusi besar-besaran di Hindia Belanda.

Mendengar hal itu, pihak Belanda masih tetap bersikukuh bahwa Indonesia masih merupakan bagian dari wilayah jajahannya. Hal tersebut ditunjukkan oleh Belanda setelah melancarkan agresi militer I dari 21 Juli 1947 sampai 5 Agustus 1947.

Pihak Belanda beserta sekutunya Netherlands Indies Civil Administration (NICA) melancarkan serangan di Jawa dan Sumatra. Operasi militer ini merupakan bagian dari Aksi Polisionil atau juga dikenal dengan sebutan Agresi Militer Belanda.

Imperium Belanda pun melanggar sahnya kedaulatan Indonesia yang ditandatangani dalam perundingan Lingggarjati, di Linggarjati, Jawa Barat.

Hasil perundingan ditandatangani pada 15 November 1946 di Istana Merdeka, Jakarta dan ditandatangani secara sah oleh kedua negara pada 25 Maret 1947.

Revolusi muda di Surabaya, akhir 1945. (Foto: Javapost.nl)

Aksi agresi militer Belanda II pun dilancarkan terhadap Indonesia, dengan menyerang Kota Yogyakarta yang kala itu sempat menjadi Ibu Kota Indonesia dan penangkapan Soekarno, Mohammad Hatta, Sjahrir dan beberapa tokoh lainnya, pada 19 Desember 1948 sampai 5 Januari 1949.

Selama proses perjuangan bangsa Indonesia mempertahankan status quo kemerdekaannya, banyak terjadi hal yang memilukan bagi para tawanan Belanda bekas kependudukan Jepang.

Dikutip dari Roodebrug Soerabaia, hal tersebut tergambarkan dalam film dokumenter Pia Van Der Mollen dan Michiel Praal dalam judul “Archief van Tranen” (arsip Air Mata) ‘sisi lain’ yang digambarkan sangat jelas.

‘Sisi lain’ yang dimaksudkan adalah terjadinya pembunuhan-pembunuhan diluar batas kemanusiaan yang dilakukan oleh kelompok pejuang Indonesia terhadap warga Belanda. Hal tersebut terungkap, berdasarkan dari arsip-arsip yang ada.

Marjolein van Pagee, Ady Setyawan dengan Johan Pradana selaku dosen sejarah UNM menjelaskan isi film dokumenter tersebut, pada Minggu, 9 april 2017, di ruang Audio Visual Museum 10 November Surabaya.

Para Moderator memberi penjelasan, bahwa insiden berdarah di Balai Pemuda pernah terjadi, hal ini tidak diragukan mengingat selain arsip Belanda memang menuliskan demikian dan memang cocok dengan arsip para veteran Indonesia baik testimoni maupun memoar.

Salah satunya, memoar dari Komandan Polisi Istimewa, M. Jasin yang menuliskan, bahwa pasukan Polisi nyaris menggempur PRI Balai Pemuda karena aksi kekerasan mereka.

LaSalle 1940 Seri 52 Sedan yang terbakar dari Brigadir A W S Mallaby di tempat ia dibunuh oleh tentara Indonesia yang pro-kemerdekaan selama Pertempuran Surabaya pada tanggal 31 Oktober 1945. Mallaby adalah komandan van de 49e Britse India Brigade. (Foto: Dok. collections of the Imperial War Museums)

Aksi pembunuhan dimulai di alun-alun Sidoarjo yang menimpa ayah dari Wieteke van Dort, penyanyi lagu terkenal Geef Mij Maar – “Nasi Goreng”.

Pembunuhan-pembunuhan pun terjadi di Simpangsche Societeit (kini Balai Pemuda), hingga insiden Gubeng Transport dimana konvoi truk Inggris yang berisi wanita dan anak-anak disergap disekitar pertigaan Sono Kembang- Jl jend Sudirman.

Dilaporkan, sebanyak 3.500 orang Belanda, berdarah campur Indonesia Eropa Belanda dihabisi dengan sebilah bambu runcing.

Sebanyak 16.000 warga Belanda dikabarkan hilang termasuk orang-orang keturunan. Kemudian sisanya terlantar serta menderita penyakit serta kelaparan.

Peristiwa tersebut merupakan ujung dari sebuah kebencian terhadap penindasan yang cukup lama dirasakan oleh Bangsa Indonesia selama masa penjajahan Belanda.

Aksi itu telah menimbulkan banyak korban dan tabir kelam dari sejarah perjuangan Indonesia, yang dialami oleh orang-orang Belanda, Eropa dan keturunannya.

Perjuangan HAM Masih Berlanjut di Den Hag

Dalam sebuah pernyataan Peneliti Sejarah Belanda, Marjolein Van Pagee mengatakan, bahwa kemarahan bangsa Indonesia selama revolusi menjadi semacam paradoks.

Karena di satu sisi banyak literasi Belanda juga yang dituliskan mengenai kekejaman Belanda selama masa penjajahan di Indonesia.

Ketika investigasi pelanggaran HAM pun berlangsung terhadap kejahatan perang Belanda kepada Indonesia.

Dikatakannya, bahwa masa Penjajahan di Indonesia tidak benar-benar menjadi bagian dari ingatan Belanda, bahkan dianggap kehadirannya di tanah jajahannya merupakan sesuatu yang normal.

“Nampaknya, titik berangkat mereka (Belanda) adalah: “ketika dua pihak berperang, kedua belah pihak semua salah”. Mereka tak membahas soal ketimpangan struktur kekuasaan dibaliknya,” ungkap Marjolein.

Seperti para penjajah Barat lainnya, kongsi dagang belanda yakni Hindia Belanda VOC melakukan kekerasan yang keji untuk memapankan kekuasaannya.

“Jadi susah jika masa penjajahan ini disebut sejarah yang terlupakan. Namun, disisi lain, ini masih menjadi sejarah yang belum terungkap,”

Salah satunya, peristiwa yang paling dikenal yakni pembunuhan massal oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada abad ke-16, tahun 1621.

Ketika Gubernur Jenderal VOC, Jan Pieterszoon Coen, membunuh hampir semua penduduk kepulauan Banda di Maluku Tengah, Pulau kecil yang terkenal dengan hasil bumi pala.

Hal tersebut dilakukan sebelum bangkrutnya VOC pada tahun 1799. Lalu, kekuasaan koloni – koloni VOC akhirnya dinasionalisasi dibawah Kerajaan Belanda pada tahun 1800.

Selama abad ke-19, Imperium Belanda pun memperluas daerah jajahan dan hegemoninya. Hampir 400 tahun setelah kejadian Genosida di Banda dan banyak tindakan pelanggaran HAM lainnya selama masa penjajahan di Indonesia.

Belum lagi perlakuan selama aksi agresi Belanda yang memicu perang gerilya berdarah, sampai pada akhirnya Belanda mau mengakui Kemerdekaan Republik Indonesia di Konferensi Meja Bundar (KMB) di The Hague, Den Haag, pada 2 September 1949.

Menurut Marjolein, yang juga merupakan pendiri dari Histori Bersama mengatakan, pada masa agresi militer Belanda, sebanyak 150.000 tentara dikerahkan untuk menduduki kembali Indonesia.

Selama konflik itu, 6.000 tentara Belanda mati demi mengembalikan kekuasaan penjajahan di wilayah Hindia Belanda. Dilaporkan pula, sekitar 15.000 orang-orang Belanda dan pribumi Pro Belanda dibunuh karena kebencian anti Belanda.

Tercatat selama serangan agresi tersebut, sekitar 150.000 orang Indonesia terbunuh, banyak diantaranya merupakan warga Sipil.

Menurutnya, Insiden itu terjadi karena didorong oleh sikap Belanda yang jelas-jelas tak menghormati negara Indonesia yang baru merdeka.

Kekejaman masa revolusi. (Foto: kitlv.nl)

Namun, setelah pengakuan Belanda terhadap kemerdekaan Bangsa Indonesia pun, bukanlah akhir dari cerita kedaulatan Indonesia dimata Belanda.

Bangsa Indonesia dipaksa oleh pemerintah Belanda untuk menanggung beban hutang kolonial dengan sebanyak 4,5 miliar Gulden. Hal itu diputuskan setelah dibentuknya sebuah persekutuan Belanda-Indonesia, dengan monarch Belanda sebagai kepala negara.

Dalam isi KMB, dituliskan tentang pengambil alihan hutang Hindia Belanda oleh Soekarno menjadi Presidennya, dengan Hatta sebagai Perdana Menteri dan membentuk Kabinet Republik Indonesia Serikat (RIS), pada tanggal 27 Desember 1949.

“Pemerintah Belanda memaksa pemerintah Indonesia untuk menanggung beban hutang kolonial sejumlah sekitar 4,5 miliar Gulden sedangkan sebagian besar perusahaan masih dipegang Belanda,” katanya.

Dilanjutkannya, bahwa Negara Indonesia dari tahun 1949 hingga 1956 sudah melunasi sebagian besar hutangnya kepada pemerintah Belanda, dan pembayaran dihentikan oleh Kabinet Burhanuddin Harahap tahun 1956.

Namun, kemudian Negara Indonesia menunjukan sikap kekecewaannya dengan menasionalisasi seluruh perusahaan Belanda yang masih berdiri di Indonesia.

Setelah perdebatan sengit antara Indonesia – Belanda, pada tahun 1967, tercetuslah sebuah perjanjian baru. Masa Pemerintahan Orde Baru di Indonesia, menyetujui kompensasi bagi perusahaan-perusahaan Belanda yang dinasionalisasi di masa Presiden Sukarno.

Perjanjian baru tersebut telah membuat Negara Indonesia harus membayar lagi 600 juta Gulden atau setara 350 juta US $ untuk mengganti kerugian perusahaan-perusahaan Belanda itu (Perusahaan yang dinasionalisasi oleh Indonesia).

Tak banyak orang tahu bahwa Belanda menerima pembayaran terakhir dari Indonesia di tahun 2002. Sementara, beberapa kasus kejahatan perang Belanda semakin jelas mencuat kepermukaan.

Namun, dikatakan Marjolein, Fakta tersebut tidak benar-benar membuat perubahan berarti pada narasi sejarah Bangsa.

Pada tahun 2008 lalu, warga Indonesia yang tinggal di Belanda, Jeffrey Marcel Pondaag, bersama dengan advokat Hak Asasi Manusia Belanda, Liesbeth Zegveld membantu para korban perang dari Indonesia untuk terus memperjuangkan ketidakadilan yang dilakukan oleh Pemerintah Belanda.

Mereka berhasil menggugat Negara Belanda melalui pengadilan Den Haag. Pemerintah Belanda dituntut untuk meminta maaf dan harus membayar kompensasi kepada para janda Indonesia yang suaminya dibunuh pada waktu itu.

Kini, dirinya bersama yayasan Histori Bersama dan Komite Utang Kehormatan Belanda (K.U.K.B) yang diketuai oleh Jeffrey Pondaag masih terus berupaya memperjuangkan hak para korban kekerasan yang dilakukan oleh Belanda semasa agresi militer.

“Bagi saya, penelitian yang sedang dilakukan sekarang ini seperti membahas Holocaust tanpa mempelajari soal ideologi Nazi. Lalu bagaimana dengan akibat psikis dari ratusan tahun penjajahan, penghinaan, rasisme dalam hal ini. Apakah kekerasan antara tahun ’45 sampai ’49 bukanlah akibat dari itu?” ujarnya.

Marjolein pun menyimpulkan, pandangan terhadap segala bentuk penjajahan merupakan awal penyebab pelanggaran Hak Asasi Manusia.

“Jadi, saya menyimpulkan dengan pernyataan bahwa apapun yang telah dilakukan tentara Belanda di Indonesia, bagaimanapun juga kehadiran mereka itu sendiri adalah pelanggaran terhadap kedaulatan Indonesia,” ucapnya.

Setiap orang mewakili kisah takdirnya sendiri dalam masa-masa sulit tersebut, tak terkecuali Bangsa Indonesia yang telah terjajah ratusan tahun lamanya dan juga segenap korban perang dari keganasan politik dan ketamakan penjajahan.

Kini, sebuah Negeri Kepulauan, bernama Indonesia menjadi takdir baru bagi rakyatnya yang merindukan arti sesungguhnya kebebasan dan kata merdeka di Tanah Airnya. (ell/ras)

Sumber:

  • Tirto.id, “Kisah Yahudi-Belanda di Kamp Tahanan Jepang di Indonesia” Oleh Monique Rijkers.
  • Histori Bersama, “Pesan Video: Belanda dan Kekejaman Penjajahan Terhadap Indonesia” Oleh Marjolein Van Pagee, Peneliti Sejarah Belanda.
  • Tirto.id, “Karel Doorman Memilih Tenggelam bersama De Ruyter di Laut Jawa” Oleh Petrik Matanasi
  • Roodebroogsoereabaia, “Pemutaran dan Diskusi Film “Archief van Tranen” Oleh Ady Setyawan
  • Universitas Kristen Satya Wacana, “Munculnya pengaruh Agama Katolik di Jawa Tengah”
  • Nationalgeographic.grid.id, “Suasana Ketika Hindia Belanda Sekarat” Oleh Mahandis Yoanata Thamrin
  • NPS De Oorlog, “Aflevering 7 – Oorlog in indië” Diunggah oleh David via Youtube.
  • Vitascope Independent Film, “GLADYS REISE” Oleh Stéphane Kleeb, Christa Miranda, Switzerland, January 2009. Diunggah oleh Bintang Jatuh Stories via Youtube.
  • Kompasiana, “Pantas Semua Kita Masih Suka Teriak Merdeka!”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here